Pityrosporum folliculitis (PF) dan Acne vulgaris (AV) merupakan infeksi pada kulit yang terjadi akibat peradangan kronis pada folikel pilosebasea. Meskipun PF dan AV terbentuk akibat proses inflamasi yang sama, namun etiologi penyebab dari kedua penyakit tersebut berbeda.
PF atau dikenal juga dengan Malassezia folliculitis timbul sebagai erupsi pruritus kronis pada folikel pilosebasea akibat infeksi Malassezia sp. Sedangkan peradangan pada AV sering dikaitkan dengan peningkatan produksi sebum dan proliferasi folikel epidermis yang dipicu oleh aktivitas dari Cutibacterium acne.
PF dan AV memiliki klinis yang hampir sama, namun modalitas terapi dari kedua penyakit tersebut jauh berbeda. Antijamur oral atau topikal diberikan sebagai terapi pada PF sesuai dengan etiologinya, sedangkan pada AV diberikan antibiotik oleh karena patogenesisnya yang melibatkan pertumbuhan bakteri. Kesalahan dalam penegakan diagnosis antara keduanya dapat menyebabkan kesalahan dalam pemberian terapi sehingga dapat memperburuk klinis individu yang terkena, terutama jika PF diobati dengan antibiotik untuk AV.
Sebuah studi retrospektif oleh Jakhar D, et al (2018) melaporkan adanya potensi penggunaan dermoskopi sebagai alat diagnostik untuk PF dan AV. Dermoskopi merupakan alat diagnostik non-invasif yang digunakan untuk memeriksa lesi pada kulit melalui pengamatan secara sub-makroskopis yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang.
Dengan adanya hal tersebut, dermoskopi dapat digunakan oleh dokter sebagai alternatif dalam membantu penegakan diagnosis PF dan AV dengan lebih mudah dan cepat, mengingat pemeriksaan penunjang laboratorium seperti KOH yang membutuhkan alat mikroskop tidak selalu tersedia di fasilitas kesehatan.
Perbedaan utama pada gambaran dermoskopi antara PF dan AV terletak pada variasi lesi keduanya. Lesi pada PF muncul sebagai papula atau pustula perifolikular monomorfik dengan eritema sekitar yang ditandai dengan adanya rambut yang melingkar/bergulung di tengah lesi (coiled/looped hair). Folikel rambut yang terkena tampak hipopigmentasi, diduga akibat invasi jamur pada rambut.
Selain itu, terdapat pula perubahan warna kecoklatan perilesional pada lesi yang sembuh. Sedangkan pada AV, lesi yang muncul memiliki manifestasi klinis polimorfik berupa lesi non inflamasi dan lesi inflamasi. Lesi non inflamasi pada AV ditandai dengan adanya penyumbatan berwarna kuning kecoklatan di bagian tengah dengan tanda peradangan yang jarang terjadi, seperti komedo tertutup dan terbuka. Sedangkan lesi inflamasi pada AV ditandai dengan adanya lesi yang meninggi dengan batas yang tidak jelas, berwarna putih kekuningan di bagian tengah dan batas kemerahan di sekitarnya, disebut AV pustular.
Berdasarkan penjelasan diatas, didapatkan kesimpulan bahwa dermoskopi dapat digunakan sebagai alat diagnostik non invasif yang praktis dalam menegakkan diagnosis penyakit kulit, terutama untuk membedakan PF dengan AV yang memiliki klinis yang hampir sama. Penegakan diagnosis yang baik dari kedua penyakit tersebut dapat mendukung perawatan dan manajemen terapi yang tepat sehingga mampu meningkatkan kualitas hidup individu yang terkena.
Penulis: Sylvia Anggraeni, dr., Sp.KK(K), FINSDV
Informasi lengkap dari artikel ini dapat diunduh pada:





