Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Pengusir Nyamuk dan Kualitas Fisik Udara Dalam Ruangan sebagai Faktor Risiko Utama Kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ARI) pada Balita (Studi Kasus di Puskesmas Balongsari)

12 Views•4 minutes read

Balita yang terpapar asap obat nyamuk di dalam rumah memiliki risiko empat kali lebih besar mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Temuan ini terungkap dalam penelitian terbaru yang dilakukan oleh tim peneliti Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga di wilayah kerja Puskesmas Balongsari, Surabaya. Penelitian tersebut mengungkap bahwa kualitas udara dalam rumah, khususnya yang dipengaruhi oleh penggunaan obat nyamuk, suhu ruangan, ventilasi, dan kepadatan hunian, menjadi faktor penting yang menentukan kesehatan pernapasan balita.

ISPA masih menjadi salah satu penyebab utama gangguan kesehatan dan kematian pada anak usia di bawah lima tahun di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia. Data nasional menunjukkan bahwa prevalensi ISPA pada balita masih tergolong tinggi. Di Kota Surabaya sendiri, jumlah kasus ISPA mengalami peningkatan yang cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2023 tercatat sekitar 174 ribu kasus ISPA, dengan sekitar 6 ribu kasus terjadi pada kelompok balita. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena balita merupakan kelompok rentan yang sistem kekebalan tubuhnya masih berkembang sehingga lebih mudah terpapar berbagai agen penyebab penyakit pernapasan.

Wilayah kerja Puskesmas Balongsari menjadi salah satu daerah yang mengalami peningkatan kasus ISPA pada balita. Kawasan ini merupakan daerah dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan berada di sekitar aktivitas industri, pergudangan, serta berbagai sumber pencemaran lingkungan lainnya. Selain faktor lingkungan luar rumah, berbagai aktivitas di dalam rumah juga diduga berkontribusi terhadap menurunnya kualitas udara yang dihirup balita setiap hari.

Untuk mengidentifikasi faktor-faktor risiko tersebut, peneliti melakukan studi dengan desain case-control yang melibatkan 100 balita, terdiri atas 50 balita yang pernah didiagnosis ISPA dan 50 balita yang tidak memiliki riwayat ISPA. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan orang tua, observasi langsung kondisi rumah, serta pengukuran berbagai parameter lingkungan seperti suhu ruangan, luas ventilasi, dan kepadatan hunian. Analisis statistik dilakukan menggunakan uji Chi-Square dan Odds Ratio untuk mengetahui besarnya risiko masing-masing faktor terhadap kejadian ISPA.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan obat nyamuk merupakan salah satu faktor risiko utama. Sebanyak 66,7% balita penderita ISPA tinggal di rumah yang menggunakan obat nyamuk, terutama jenis obat nyamuk bakar. Analisis statistik menunjukkan bahwa balita yang terpapar penggunaan obat nyamuk memiliki risiko empat kali lebih besar mengalami ISPA dibandingkan balita yang tidak terpapar (OR=4,000; p=0,010). Asap yang dihasilkan dari pembakaran obat nyamuk diketahui mengandung berbagai senyawa kimia yang dapat mengiritasi saluran pernapasan dan menurunkan kualitas udara di dalam rumah.

Selain itu, kondisi fisik rumah juga terbukti memiliki pengaruh yang signifikan. Balita yang tinggal di rumah dengan suhu ruangan yang tidak memenuhi standar kesehatan memiliki risiko 4,67 kali lebih tinggi mengalami ISPA (OR=4,667; p=0,004). Ventilasi rumah yang kurang memadai meningkatkan risiko hingga 3,45 kali (OR=3,455; p=0,020), sedangkan kepadatan hunian yang tinggi meningkatkan risiko sebesar 3,29 kali (OR=3,286; p=0,032). Temuan ini menunjukkan bahwa sirkulasi udara yang buruk dan kondisi rumah yang padat dapat mempercepat penyebaran agen penyakit sekaligus meningkatkan paparan polutan udara bagi balita.

Penelitian ini juga menemukan bahwa faktor perlindungan yang penting terhadap ISPA adalah pemberian ASI eksklusif. Balita yang tidak mendapatkan ASI eksklusif memiliki risiko sekitar empat kali lebih besar mengalami ISPA dibandingkan mereka yang memperoleh ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan (OR=4,030; p=0,010). Kandungan antibodi dan berbagai zat gizi dalam ASI berperan penting dalam memperkuat sistem kekebalan tubuh anak terhadap infeksi.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, para peneliti merekomendasikan agar masyarakat lebih berhati-hati dalam memilih metode pengendalian nyamuk di rumah dengan mengurangi penggunaan obat nyamuk bakar dan beralih ke alternatif yang lebih aman. Selain itu, perbaikan ventilasi rumah, pengaturan kepadatan hunian, serta upaya menjaga suhu ruangan tetap sesuai standar kesehatan perlu menjadi perhatian bersama. Di sisi lain, pemerintah daerah dan fasilitas pelayanan kesehatan diharapkan dapat memperkuat edukasi mengenai kualitas udara dalam rumah dan pentingnya ASI eksklusif sebagai bagian dari strategi pencegahan ISPA pada balita. Melalui langkah-langkah tersebut, angka kejadian ISPA pada anak diharapkan dapat ditekan sehingga mendukung tumbuh kembang generasi yang lebih sehat di masa mendatang.

PENULIS

Nama   : Aditya Sukma Pawitra, S.KM., M.KL

Judul   : Mosquito Repellent and Physical Quality of Indoor Air as the Main Risk Factors for ARI Incidence in Toddlers (Case Study in the Balongsari Health Center)

Link Artikel    : https://e-journal.unair.ac.id/JKL/article/view/87777

Publish            : Vol 18 No 2 Tahun 2026

Jurnal Kesehatan Lingkungan (Journal of Environmental Health) – Scopus Q3

Universitas Airlangga
Excellence with Morality
If loading takes to long, go back to home by click here .