Universitas Airlangga Official Website

Pemeriksaan Estrogen dan Progesteron pada Jaringan Kanker Payudara

ILUSTRASI kanker payudara. (Foto: alodokter.com)
ILUSTRASI kanker payudara. (Foto: alodokter.com)

Kanker payudara merupakan kanker yang bersifat responsif terhadap hormon steroid wanita yakni estrogen dan progesteron. Pemberian obat anti estrogen terbukti dapat menghambat pertumbuhan kanker pada sejumlah penderita kanker payudara. Sifat responsif terhadap hormon estrogen dan progesteron ini berkaitan dengan adanya reseptor estrogen dan progesteron pada sel kanker payudara. Walaupun demikian jumlah reseptor estrogen dan progesteron yang ada di sel kanker pada setiap penderita kanker payudara tidak sama jumlahnya. Pada penderita kanker payudara yang memiliki reseptor estrogen dan progesteron dalam jumlah banyak. Pertumbuhan sel kanker tergantung pada adanya hormon estrogen dan progesteron.

Pengambilan indung telur (ovarium) pada penderita tersebut akan membuat kadar hormon estrogen dan progesteron menurun sehingga pertumbuhan sel kanker akan menjadi lambat. Perlambatan pertumbuhan sel kanker payudara yang memiliki reseptor estrogen dan progesteron juga terjadi pada pemberian obat anti-estrogen. Akan tetapi pada penderita yang tidak memiliki reseptor estrogen dan progesteron (atau memiliki dalam jumlah rendah <1% sel tumor) maka pertumbuhan sel kanker tidak dapat dihambat dengan pemberian obat anti estrogen. Itulah sebabnya perlu ada pemeriksaan resptor estrogen dan progesteron pada setiap penderita kanker payudara. Pemeriksaan reseptor estrogen dan progesteron harus langsung pada sel kanker payudara dan tidak bisa pada spesimen serum atau darah penderita kanker payudara.

Nabila Aliya Rahmah Vansya, Willy Sandhika dan Desak Gede Agung Suprabawati telah melakukan penelitian untuk mengetahui apakah hasil pemeriksaan reseptor estrogen dan progesteron pada jaringan kanker payudara memiliki hubungan atau korelasi dengan peningkatan ukuran dan variasi ukuran inti sel kanker payudara. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah keberadaan reseptor estrogen dan progesteron pada sel kanker payudara. Hal ini dapat terlihat dengan melihat peningkatan ukuran dan variasi ukuran inti sel kanker. Hasil dari penelitian tersebut mendapatkan bahwa tidak ada korelasi antara jumlah reseptor estrogen dan progesteron pada sel kanker dengan ukuran dan variasi ukuran inti sel.

Hal ini menunjukkan bahwa pemeriksaan reseptor estrogen dan progesteron harus ada karena tidak bisa berdasarkan ukuran dan variasi ukuran sel kanker. Pemeriksaan reseptor estrogen dan progesteron harus dari bahan spesimen jaringan kanker payudara dengan teknik imunohistokimia. Pemeriksaan reseptor estrogen dan progesteron tidak dapat melalui spesimen serum/ darah penderita. Oleh karena itu, jaringan hasil operasi atau biopsi kanker payudara tidak boleh sampai hilang atau terbuang. Jaringan hasil operasi tersebut harus melalui pemeriksaan Patologi Anatomi dan selanjutnya ke pemeriksaan reseptor estrogen dan progesteron. Apabila jaringan hasil operasi tersebut terbuang maka tidak ada lagi spesimen untuk pemeriksaan reseptor estrogen dan progesteron. Pada penderita yang tidak mendapat pemeriksaan Patologi Anatomi pada jaringan hasil operasi tidak bisa mendapat pemeriksaan reseptor estrogen dan progesteron. Hal itu karena spesimen jaringan kanker tidak mungkin terjadi pengambilan ulang karena jaringan kanker sudah terambil seluruhnya pada tindakan operasi.

Hasil pemeriksaan reseptor estrogen dan progesteron pada jaringan kanker payudara akan sangat bermanfaat untuk menentukan jenis terapi serta menentukan prognosis (prediksi perkembangan penyakit) pada penderita kanker payudara. Penderita dengan reseptor estrogen dan progesteron positif memiliki respon terhadap pemberian obat anti estrogen. Mereka juga memiliki perkembangan sel kanker yang lebih lambat daripada penderita dengan hasil pemeriksaan reseptor estrogen dan progesteron yang negatif. Pemeriksaan reseptor estrogen dan progesteron juga menentukan subtipe molekular dari kanker payudara pada penderita tersebut. Berdasarkan uraian di atas, pemeriksaan reseptor estrogen dan progesteron wajib ada pada setiap penderita kanker payudara. Pemeriksaan ini memiliki banyak manfaat dalam menentukan penatalaksanaan pada masing–masing penderita kanker payudara.

Penulis: Willy Sandhika, Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga

Judul jurnal: Nuclear anaplasia of positive and negative hormonal receptor (estrogen and progesterone receptor) in breast cancer cytology.

Penulis: Nabila Aliya Rahmah Vansya, Willy Sandhika dan Desak Gede Agung Suprabawati

Artikel telah terbit di World Journal of Advanced Research and Reviews bulan Januari tahun 2024, volume 21 nomer 01, halaman 1136–1139

Link journal: https://wjarr.com/content/nuclear-anaplasia-positive-and-negative-hormonal-receptor-estrogen-and-progesterone-receptor

BACA JUGA: Paradigma Baru Penanggulangan Bencana yang Inklusif di Jawa Timur