Aktinomikosis gastrik primer adalah infeksi langka yang disebabkan oleh spesies Actinomyces anaerob, yang biasanya menjadi flora normal pada rongga mulut dan saluran cerna. Penyakit ini sering salah diagnosis sebagai keganasan karena gejalanya yang tidak khas dan temuan klinis yang tidak spesifik. Kondisi ini umumnya terjadi pada individu dengan imunitas rendah atau pada mereka yang mengalami kerusakan mukosa akibat pembedahan atau trauma.
Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga menyusun laporan kasus yang bertujuan untuk menjelaskan tantangan diagnostik serta pentingnya kecurigaan klinis tinggi terhadap penyebab infeksi langka pada patologi gastrointestinal, terutama karena presentasi klinisnya yang tidak khas.
Kasus tersebut terjadi pada seorang perempuan berusia 63 tahun dengan riwayat gangguan fungsi ginjal datang ke rumah sakit dengan keluhan hematemesis, melena, dan nyeri epigastrium yang berlangsung selama 10 hari terakhir. Riwayat satu bulan sebelumnya, ia mengonsumsi lansoprazole 30 mg sekali sehari dan sucralfate 10 mg setiap 8 jam. Setelah dilakukan pemeriksaan fisik didapatkan, tekanan darah 80/50 mmHg, denyut nadi 90 kali/menit, suhu aksila 36,5°C, dan laju pernapasan 20 kali/menit. Pemeriksaan abdomen menunjukkan adanya souffle dan peristaltik normal. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan anemia berat (Hb 5,9 g/dL) dan hipoalbuminemia (Albumin 2,02 g/dL), sedangkan parameter laboratorium lain dalam batas normal. Kadar antigen karsinoembrionik (CEA) normal <1,73 ng/mL, namun kadar CA 19-9 meningkat hingga 129,9 U/mL.
Pasien dilakukan pemasangan selang nasogastrik dan menghasilkan aspirasi berupa cairan hitam dalam jumlah banyak. Pasien langsung diberikan infus lansoprazole intravena 6 mg/jam, terapi vasopressor, dan sucralfate. Gastroskopi menunjukkan ulserasi multipel pada dinding lambung. Sementara biopsi gastroskopi ditemukan mukosa fundik atropik yang ulseratif disertai fragmen eksudat fibrinopurulen berisi bakteri filamentosa dalam jumlah banyak, yang secara morfologi konsisten dengan Actinomyces. Pasien kemudian diberikan penisilin G dosis tinggi, 3 gram setiap 6 jam. Kondisi pasien membaik, tidak ditemukan lagi hematemesis atau melena, dapat mentoleransi diet, dan dipulangkan dalam kondisi baik.
Infeksi muncul akibat gangguan pada penghalang mukosa yang terjadi karena trauma, pembedahan, atau penurunan imunitas. Keterlibatan gaster biasanya menimbulkan gejala yang jelas, seperti nyeri perut, penurunan berat badan, serta mual atau muntah. Pemeriksaan histopatologi, yang menunjukkan eksudat fibrinopurulen dengan bakteri berbentuk filamen serta “sulphur granules” khas, menjadi langkah penting untuk menegakkan diagnosis pasti. Pengobatan melibatkan terapi antibiotik jangka panjang, biasanya 6 hingga 12 bulan, dengan Penisilin G sebagai pilihan utama. Tindakan pembedahan dapat dipertimbangkan untuk tujuan diagnosis atau pengangkatan massa, tetapi banyak kasus menunjukkan respons baik dengan terapi antibiotik saja.
Kasus ini menegaskan adanya kompleksitas diagnostik yang signifikan pada aktinomikosis gaster, ssuatu infeksi langka namun serius yang sering keliru diidentifikasi sebagai patologi gaster yang lebih umum atau bahkan keganasan. Mengingat presentasinya yang halus dan sering terabaikan, maka penting untuk mempertimbangkan diagnosis ini, terutama pada pasien dengan kondisi imunokompromais. Identifikasi yang tepat waktu serta terapi antimikroba yang terarah sangat penting untuk mencegah komplikasi berat dan mengoptimalkan prognosis pasien.
Penulis: Prof. M. Miftahussurur, dr., M. Kes., Sp.PD-KGEH., Ph.D
Artikel lengkap dapat diakses pada:





