Universitas Airlangga Official Website

Tim UNAIR Raih Juara 3 DK3P Jatim Award lewat Inovasi Mobile My-Fatigue untuk Deteksi Kelelahan Kerja

Tim UNAIR saat menerima penghargaan juara tiga di ajang Kompetisi Inovasi K3 dalam rangka memperingati DK3P Jatim Award 2026 (foto: Istimewa)
Tim UNAIR saat menerima penghargaan juara tiga di ajang Kompetisi Inovasi K3 dalam rangka memperingati DK3P Jatim Award 2026 (foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Delegasi Universitas Airlangga (UNAIR) kembali mengharumkan nama kampus dengan prestasi gemilangnya. Kali ini, tim UNAIR berhasil menyabet juara tiga pada Sabtu (23/5/2026) di ajang Kompetisi Inovasi K3 dalam rangka memperingati DK3P Jatim Award 2026. Dalam kompetisi tersebut, tim UNAIR gagaskan aplikasi Mobile My-Fatigue sebagai lanjutan dari alat Smart Timer Reaction (STIREACT).

Tim ini beranggotakan Ibrahim Al Khowwas sebagai founder sekaligus leader yang membuat kerangka konsep kinerja manajemen, M. Fauzil Adzim sebagai peneliti implementasi trial di lapangan. Kemudian, tim dosen pembimbing, yakni Dr Neffrety Nilamsari SSos MKes dan Tofan Agung Eka Prasetya PhD sebagai praktisi dan pembimbing penelitian inovasi.

Ibrahim mengaku sangat bahagia saat mengetahui bahwa timnya berhasil membawa pulang prestasi membanggakan untuk UNAIR. Ia menyebut bahwa pencapaian tersebut lahir dari kolaborasi hebat tim mahasiswa dan dosen pembimbing. “Saya sendiri bangga karena bisa bersanding dengan perusahaan besar seperti PT Bumi SuksesIndo dan PT SIG. Tentunya, hal ini tidak lepas dari kolaborasi kami, mulai dari sektor coding aplikasi, manajemen tim, hingga penggunaan teori dan praktik di lapangan,” ungkapnya. 

Aplikasi My-Fatigue Jadi Solusi Nyata K3

Ibrahim menjelaskan bahwa inovasi My-Fatigue merupakan aplikasi pertama di Indonesia dan dunia yang memanfaatkan teknologi dan sistem untuk mendeteksi kelelahan kerja. Aplikasi tersebut menjadi jawaban dari problematika seluruh sektor perusahaan dalam mendeteksi serta manajemen kerja. “Di lapangan, dari berbagai sektor pengukuran kelelahan biasanya melalui banyak tahapan yang rumit dan memerlukan cukup banyak waktu, kemudian ada pula penggunaan asam laktat yang membutuhkan biaya cukup mahal serta tindakan medis. Dari hal tersebut, tercetuslah aplikasi ini untuk mempermudah manajemennya,” jelasnya.  

Lebih lanjut, Ibrahim memaparkan bahwa inovasi ini hadir dari pengembangan ide lamanya, yakni STIREACT. Berawal dari pengembangan alat fisik hingga menjadi model aplikasi digital yang lebih fleksibel dengan keakuratan mencapai 80 persen. “Isu kelelahan kerja menjadi akar dari near miss, incident, hingga accident,” imbuhnya. 

Dampak Nyata dan Harapan Ke Depan

Aplikasi My-Fatigue sudah memberikan dampak nyata bagi para pekerja maupun perusahaan. Ibrahim juga menekankan bahwa aplikasi tersebut sudah teruji secara langsung oleh mahasiswa, masyarakat, pekerja, serta telah mengikuti pameran nasional dan pengabdian masyarakat. “Bagi pekerja, mereka dapat melakukan pengukuran kelelahan secara mandiri, sedangkan bagi perusahaan, dapat digunakan untuk manajemen kelelahan pekerja,” tekannya. 

Ibrahim dan tim berharap melalui inovasi My-Fatigue, seluruh Indonesia dapat mulai mengenal dan mengimplementasikan aplikasi tersebut untuk terciptanya keselamatan dan kesehatan kerja. Selain itu, Ibrahim juga berpesan agar mahasiswa dapat terus berproses tanpa batasan. “Sebagai penguatan inovasi ini, kami tertarik untuk melakukan trial dan sosialisasi pada beberapa perusahaan lalu melakukan pengembangan terhadap beberapa fitur lainnya,” tegasnya.  

Penulis: Putri Andini

Editor: Ragil Kukuh Imanto