Akuntabilitas merupakan konsep fundamental yang memengaruhi persepsi, perilaku, dan dinamika sosial karyawan dalam kehidupan sehari-hari organisasi. Akuntabilitas mendorong individu untuk bertanggung jawab atas keputusan dan tindakannya dalam mewujudkan tatanan sosial di organisasi. Sementara data survei di Harvard Busines Review tahun 2020 menunjukkan bahwa 91% karyawan setuju bahwa akuntabilitas sangat penting dalam organisasi, meskipun demikian data hal ini kontradiktif karena 82% manajer mengakui bahwa mereka tidak memiliki kemampuan untuk meminta pertanggungjawaban karyawan mereka. Data ini menunjukkan bahwa pentingnya akuntabilitas diakui oleh Sebagian besar karyawan, namun pada kenyataannya masih banyak hal yang harus dilakukan untuk memahami dan meningkatkan akuntabilitas di tempat kerja. Akuntabilitas karyawan merupakan harapan yang dirasakan oleh individu bahwa keputusan atau tindakannya akan dievaluasi oleh orang lain dan akan berdampak pada penghargaan atau sanksi. Akuntabilitas karyawan akan membantu karyawan tetap termotivasi dalam melakukan pekerjaannya, sekaligus mengendalikan perilaku mereka untuk memastikan bahwa organisasi dapat berjalan secara efektif.
Akuntabilitas pada level inidividu merupakan arah penelitian yang relatif baru karena sebelumnya akuntabilitas masih fokus pada level organisasi. Beberapa peneliti baru memulai meneliti anteseden akuntabilitas karyawan, dari sisi faktor internal individu maupun faktor eksternal. Faktor internal yang memengaruhi akuntabilitas karyawan meliputi kepribadian, core self-evaluation, dan gaya atribusi. Para peneliti juga menemukan beberapa faktor eksternal menjadi anteseden akuntabilitas karyawan. Misalnya, faktor kepemimpinan dan faktor organisasi, seperti struktur organisasi dan budaya organisasi.
Teori sosial kognitif menjelaskan bagaimana individu dalam sistem sosial menerapkan berbagai proses, termasuk proses memperoleh dan mengadopsi pengetahuan, dengan fokus utama pada proses pembelajaran dan keterkaitan berbagai faktor di dalamnya. Artikel yang berjudul “Employee accountability in Indonesia: The role of formalization, managerial monitoring behavior and perceived competence” dengan menggunakan teori sosial kognitif menunjukkan kepada kita bahwa (1) Formalisasi secara langsung dan tidak langsung memengaruhi akuntabilitas karyawan, dan efek langsungnya lebih tinggi daripada efek tidak langsungnya. Hal ini menunjukkan pentingnya sistem formalisasi dalam Manajemen Sumber Daya Manusia. (2) Kontribusi persepsi kompetensi sebagai mediator antara formalisasi dan akuntabilitas karyawan lebih tinggi daripada kontribusi perilaku pemantauan manajerial. (3) Hubungan antara formalisasi dan akuntabilitas karyawan dimediasi secara berurutan oleh perilaku pemantauan manajerial terkait kinerja dan dilanjutkan dengan perilaku pemantauan manajerial terkait fasilitasi antar pribadi.
Informasi berdasarkan temuan dalam artikel tersebut dapat menjadi masukan bagi organisasi dan pengelola sumber daya manusia dalam upaya meningkatkan akuntabilitas karyawan. Beberapa saran praktis terkait upaya meningkatkan akuntabilitas karyawan juga dibahas dalam artikel tersebut.
Informasi detil dari studi artikel ini dapat dilihat di jurnal PLoS ONE, December 2022 Vol. 17, No. 12. Artikel dapat diakses melalui link berikut:
https://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0278330
Penulis: Sami’an
Natria D, Samian, & Riantoputra CD. (2022). Employee accountability in Indonesia: The role of formalization, managerial monitoring behavior and perceived competence. PLoS ONE 17(12): e0278330. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0278330





