Universitas Airlangga Official Website

Peran Hormon Perangsang Tiroid dalam Deteksi Dini Hipotiroid Kongenital pada Bayi Baru Lahir

Bayi baru lahir (Sumber: Halodoc)
Bayi baru lahir (Sumber: Halodoc)

Kesehatan bayi baru lahir merupakan aspek penting dalam pembangunan generasi yang sehat dan cerdas. Salah satu gangguan yang dapat berdampak pada perkembangan bayi adalah hipotiroid kongenital, suatu kondisi di mana kelenjar tiroid tidak memproduksi hormon dalam jumlah yang cukup. Kekurangan hormon tiroid pada bayi dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan otak yang berujung pada keterbelakangan mental. Oleh karena itu, deteksi dini hipotiroid kongenital melalui pemeriksaan kadar hormon perangsang tiroid (TSH) menjadi sangat krusial.

Apa Itu Hormon Perangsang Tiroid (TSH)?

TSH adalah hormon yang diproduksi oleh kelenjar pituitari di otak yang berfungsi untuk merangsang kelenjar tiroid dalam memproduksi hormon tiroid (T3 dan T4). Hormon-hormon ini berperan penting dalam metabolisme, pertumbuhan, dan perkembangan otak bayi, terutama dalam tahun pertama kehidupannya. Oleh sebab itu, kadar TSH dalam darah bayi menjadi indikator utama dalam mendeteksi gangguan tiroid.

Pentingnya Pemeriksaan TSH pada Bayi Baru Lahir

Dalam beberapa dekade terakhir, berbagai negara telah mengembangkan program skrining neonatal untuk mendeteksi hipotiroid kongenital. Di Indonesia, pemeriksaan kadar TSH pada bayi baru lahir dilakukan menggunakan metode dried blood spot, yaitu sampel darah yang dikeringkan pada kertas saring khusus. Pemeriksaan ini penting karena hipotiroid kongenital sering kali tidak menunjukkan gejala yang jelas pada awal kehidupan bayi. Jika tidak segera terdeteksi dan diobati, kondisi ini dapat menyebabkan gangguan permanen pada perkembangan otak dan tubuh bayi.

Variasi Kadar TSH Berdasarkan Faktor Demografis

Sebuah penelitian terbaru di Indonesia menunjukkan bahwa kadar TSH pada bayi baru lahir bervariasi berdasarkan jenis kelamin, usia kehamilan saat lahir, dan etnis orang tua. Hasil penelitian ini mengungkap bahwa bayi laki-laki cenderung memiliki kadar TSH yang lebih tinggi dibandingkan bayi perempuan. Selain itu, bayi yang lahir dengan usia kehamilan lebih lama memiliki kadar TSH yang lebih tinggi dibandingkan bayi yang lahir lebih awal. Faktor etnis juga berpengaruh, di mana bayi dari etnis Madura memiliki kadar TSH yang lebih tinggi dibandingkan bayi dari etnis Jawa.

Implikasi Klinis dan Langkah Selanjutnya

Berdasarkan temuan ini, diperlukan standar referensi kadar TSH yang disesuaikan dengan karakteristik populasi lokal untuk meningkatkan akurasi diagnosis hipotiroid kongenital. Jika kadar TSH bayi lebih tinggi dari batas normal, diperlukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan diagnosis dan memulai terapi hormon pengganti sejak dini. Dengan adanya skrining yang lebih akurat, kasus hipotiroid kongenital dapat dideteksi lebih awal, sehingga bayi dapat memperoleh perawatan yang optimal guna mencegah dampak jangka panjang terhadap kesehatan dan perkembangan mereka.

Kesimpulan

Skrining TSH pada bayi baru lahir merupakan langkah penting dalam mencegah dampak buruk hipotiroid kongenital. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kadar TSH bervariasi berdasarkan faktor biologis dan demografis, sehingga penting untuk memiliki referensi yang sesuai dengan populasi lokal. Dengan skrining yang lebih akurat dan standar referensi yang disesuaikan, deteksi dini dan penanganan hipotiroid kongenital dapat dilakukan lebih efektif, mendukung tumbuh kembang optimal bagi bayi di Indonesia.

Artikel ini di publikasi pada jurnal : MDPI

dapat di akses pada :

https://www.mdpi.com/2227-9067/12/1/104

Penulis : Hery Priyanto,Fauqa Arinil Aulia,Hartono Kahar,Muhammad Faizi,Ferdy Royland Marpaung, Aryati