Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang mendesak di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Penurunan stunting di Indonesia menunjukkan kemajuan yang signifikan, dengan angka prevalensi nasional berhasil turun hingga 19,8% pada tahun 2024, sesuai hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024. Capaian ini merupakan hasil intervensi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia selama lima tahun terakhir, di mana prevalensi stunting menurun secara bertahap dari 27,7% pada 2019 hingga sekarang. Hal ini menunjukkan upaya peningkatan kualitas kesehatan anak dan sumber daya manusia di Indonesia, akan tetapi pencapaian ini masih dibawah target Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2020-2024, yakni prevalensi stunting menurun mencapai 14%, pada RPJPN 2025–2045, penurunan stunting ditempatkan sebagai bagian dari agenda pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing. Pemerintah menetapkan target prevalensi stunting sebesar 5 % pada tahun 2045, sebagai cerminan keberhasilan pembangunan gizi, kesehatan ibu dan anak, serta kualitas layanan dasar secara berkelanjutan. Tantangan besar masih dihadapi oleh beberapa provinsi dengan prevalensi stunting yang sangat tinggi. Papua Barat Daya memiliki prevalensi 30,5%, Sulawesi Barat 35,4%, dan yang tertinggi adalah Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan 37%. Angka ini menunjukkan perlunya fokus dan intervensi yang lebih intensif serta target yang lebih spesifik di wilayah tersebut untuk mengejar ketertinggalan dan mencapai angka nasional. Stunting pada masa kanak-kanak memiliki konsekuensi jangka pendek dan jangka panjang. Pada jangka pendek, stunting dapat menyebabkan peningkatan angka morbiditas dan mortalitas, perkembangan kognitif dan motorik yang tidak optimal, dan biaya kesehatan meningkat. Sedangkan dampak jangka panjang dari stunting adalah postur tubuh yang tidak optimal saat dewasa sehingga anak lebih pendek dibandingkan anak normal, serta risiko obesitas dan penyakit lain meningkat, kesehatan reproduksi menurun, kapasitas belajar dan performa saat masa sekolah menjadi kurang optimal, serta dapat menyebabkan produktivitas dan kapasitas kerja yang tidak maksimal.
Studi terkini menyoroti peran faktor biologis, termasuk hormon pertumbuhan dan respon imun dalam berkontribusi terhadap stunting, di samping faktor konvensional seperti asupan nutrisi dan kondisi lingkungan. Insulin-like growth factor 1 (IGF-1), adalah hormon krusial yang penting bagi pertumbuhan linier dan perkembangan. IGF-1 mengatur berbagai proses seluler, termasuk proliferasi, diferensiasi, dan apoptosis. Diproduksi terutama di hati, IGF-1 bekerja pada tulang, otot, dan sistem saraf. Gangguan pada jalur sinyal IGF-1 dapat menyebabkan hambatan pertumbuhan dan dikaitkan dengan kondisi seperti hambatan pertumbuhan intrauterin (Intrauterine growth restriction) serta berbagai penyakit metabolik. Selain itu, interleukin-10 (IL-10) adalah sitokin anti-inflamasi yang penting untuk memodulasi respons imun. IL-10 terutama menekan peradangan dengan cara menghambat produksi sitokin pro-inflamasi dan mediator peradangan lainnya. Peran biokimia spesifik dari biomarker yang berkaitan dengan pertumbuhan dan sistem kekebalan tubuh dalam kaitannya dengan stunting masih belum banyak dipahami.
Kami melakukan penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peranan Insulin-like growth factor 1 (IGF-1) dan Interleukin-10 (IL-10) terhadap kejadian stunting pada anak-anak di Indonesia. Studi ini menggunakan desain kasus-kontrol yang melibatkan 80 anak berusia 24–60 bulan di Manggarai, Indonesia (40 anak dengan stunting dan 40 anak tanpa stunting), yang disesuaikan berdasarkan usia, jenis kelamin, dan tempat tinggal. Data dikumpulkan melalui pengukuran antropometri, survei rumah tangga, wawancara terstruktur, serta analisis biokimia kadar serum IGF-1 dan IL-10 menggunakan metode ELISA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dengan stunting memiliki kadar IGF-1 yang secara signifikan lebih rendah (11,963 ± 8,658 vs. 18,000 ± 15,238; p < 0,05) dan kadar IL-10 yang lebih tinggi (317,841 ± 214,934 vs. 543,605 ± 416,837; p < 0,05) dibandingkan dengan kelompok kontrol. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pencegahan stunting yang efektif memerlukan intervensi terpadu yang menangani aspek kecukupan gizi sekaligus pengendalian infeksi pada masa kanak-kanak awal.
Disarikan dari artikel dengan judul: “The Role of IGF-1 and IL-10 in Childhood Stunting: Evidence From Indonesia” yang diterbitkan di The Scientific World Journal, 2026; 2026:1029295.
Link: https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1155/tswj/1029295
Penulis:
Prof. Dr Irwanto,dr SpA(K)
Scopus ID 59912681400
Departemen Ilmu Kesehatan Anak
Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga







