Leukemia Limfoblastik Akut (LLA) atau Acute Lymphoblastic Leukemia (ALL) merupakan salah satu jenis kanker darah yang paling sering ditemukan pada anak, meskipun juga dapat terjadi pada orang dewasa. Penyakit ini ditandai oleh proliferasi atau peningkatan cepat sel limfoblast tidak matang di sumsum tulang dan darah perifer. Perkembangan ilmu biologi molekuler dalam beberapa dekade terakhir mengungkap bahwa proses terjadinya LLA tidak hanya melibatkan kelainan genetik, tetapi juga keterlibatan sistem imun, terutama mediator imun berupa interleukin.
Interleukin adalah kelompok sitokin, yaitu protein pensinyalan yang diproduksi oleh sel-sel imun untuk mengatur pertumbuhan, diferensiasi, dan respons imun. Dalam kondisi normal, interleukin memainkan peran penting pada mekanisme pertahanan tubuh terhadap infeksi dan pemeliharaan homeostasis. Namun, pada leukemia, interleukin justru dapat berperan dalam mengubah mikro-lingkungan imun sehingga mendukung pertumbuhan sel kanker. Hal inilah yang menjadikan interleukin sebagai topik menarik dalam penelitian LLA, baik untuk memahami mekanisme penyakit maupun untuk pengembangan terapi.
Salah satu interleukin yang paling banyak dikaji pada LLA adalah Interleukin-6 (IL-6). Kadar IL-6 sering ditemukan meningkat pada pasien LLA dan berkaitan dengan keparahan penyakit. IL-6 memiliki kemampuan untuk merangsang proliferasi sel limfoblast dan menghambat apoptosis, atau proses kematian sel terprogram. Dengan kata lain, IL-6 membantu sel leukemia bertahan hidup lebih lama dari seharusnya. Tidak hanya itu, IL-6 juga memiliki efek pada sel-sel stromal sumsum tulang, sehingga menciptakan lingkungan “ramah” bagi perkembangan sel leukemia. Kondisi ini menyebabkan resistensi terhadap berbagai terapi, karena mikro-lingkungan sumsum tulang menjadi pelindung bagi sel leukemia dari efek obat.
Interleukin lainnya yang juga berperan adalah Interleukin-7 (IL-7). Pada kondisi fisiologis, IL-7 penting untuk perkembangan dan maturasi sel limfosit T dan B. Namun, pada pasien LLA, terutama tipe LLA limfoblas sel B, IL-7 justru dapat meningkatkan ekspansi sel leukemia melalui jalur sinyal JAK-STAT. Aktivasi jalur ini memicu ekspresi protein anti-apoptosis sehingga mendorong kelangsungan hidup dan pembelahan sel leukemia. Fakta ini membuat IL-7 muncul sebagai biomarker potensial untuk memprediksi prognosis pasien dan sebagai target terapi baru.
Selain IL-6 dan IL-7, Interleukin-10 (IL-10) juga menunjukkan keterlibatan penting. IL-10 adalah interleukin anti-inflamasi yang dapat menekan respons imun tubuh. Pada beberapa kasus LLA, peningkatan kadar IL-10 berpotensi melemahkan aktivitas sel imun yang seharusnya mengenali dan menghancurkan sel leukemia. Akibatnya, sistem imun gagal mengontrol perkembangan kanker. Meskipun demikian, peran IL-10 belum sepenuhnya konsisten dalam berbagai penelitian, karena pada sebagian kasus nilai IL-10 justru berkaitan dengan respon terapi yang baik. Variasi ini menunjukkan adanya kompleksitas hubungan antara imunitas dan leukemia yang masih perlu dipahami lebih dalam.
Interleukin juga memiliki potensi klinis dalam bidang diagnostik dan prediksi prognosis. Peningkatan kadar interleukin tertentu dalam darah atau cairan sumsum tulang dapat menjadi indikator perkembangan penyakit atau respons terhadap terapi. Misalnya, kadar IL-6 yang tinggi sering kali berkaitan dengan risiko kekambuhan lebih besar, sementara pola ekspresi IL-7 dapat membantu membedakan tipe LLA dan menentukan agresivitas penyakit. Pemantauan interleukin bahkan dapat digunakan untuk mengevaluasi minimal residual disease (MRD), yaitu keberadaan sel leukemia tersisa setelah pengobatan.
Dalam konteks terapi, peran interleukin semakin menarik perhatian peneliti. Salah satu pendekatan yang tengah dikembangkan adalah terapi berbasis antibodi monoklonal yang menargetkan IL-6 atau reseptornya. Dengan menghambat sinyal IL-6, diharapkan proliferasi sel leukemia dapat ditekan dan sensitivitas terhadap obat kemoterapi meningkat. Penelitian juga sedang diarahkan pada penghambatan jalur IL-7/JAK-STAT sebagai strategi untuk mengatasi resistensi terapi. Selain itu, rekayasa imun seperti CAR-T cell juga mulai mempertimbangkan modulasi interleukin untuk meningkatkan efektivitas dan mengurangi efek samping seperti cytokine release syndrome.
Walaupun menjanjikan, terapi yang menargetkan interleukin masih menghadapi sejumlah tantangan. Interleukin memiliki fungsi fisiologis penting dalam sistem imun, sehingga penghambatannya berpotensi menimbulkan efek samping berupa gangguan imunitas. Selain itu, pola interaksi antar interleukin bersifat kompleks dan saling memengaruhi, sehingga menargetkan satu interleukin dapat memicu kompensasi oleh interleukin lainnya. Oleh karena itu, penelitian lanjutan diperlukan untuk mengoptimalkan efektivitas terapi dengan tetap mempertahankan keseimbangan imun tubuh.
Secara keseluruhan, peran interleukin pada Leukemia Limfoblastik Akut sangatlah signifikan. Interleukin tidak hanya terlibat dalam patogenesis, tetapi juga memiliki nilai sebagai biomarker dan target terapi. Pemahaman menyeluruh mengenai mekanisme interleukin dalam mikro-lingkungan leukemia akan membuka peluang besar untuk menghadirkan terapi yang lebih personal, efektif, dan minim efek samping. Masa depan pengobatan LLA tampaknya akan semakin berfokus pada pendekatan imunologi, dan penelitian mengenai interleukin menjadi salah satu fondasi penting menuju era tersebut.
Penulis:
Yetti Hernaningsih
Artikel tulisan ini dimuat pada:
Indonesian Journal of Clinical Pathology and Medical Laboratory, Vol. 34 Number 1, November 2027
pISSN 0854-4263 e-ISSN 2477-4685
www.indonesianjournalofclinicalpathology.org
Comparison of Interleukin 3, Interleukin 4, Interleukin 7 Levels and Lymphoblast
Counts in Pediatric Patients with Acute Lymphoblastic Leukemia Before and After
Induction Phase Chemotherapу





