Obesitas pada remaja bukan sekadar masalah penampilan. Di balik berat badan yang meningkat, ada ancaman kesehatan serius yang berpotensi muncul sejak usia muda, yaitu resistensi insulin. Kondisi ini dapat menjadi pintu masuk menuju diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, hingga aterosklerosis dini yang dapat berujung pada serangan jantung dan stroke. Sebuah penelitian terbaru di Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur, mencoba mengungkap hubungan antara IR dan berbagai faktor risiko lainnya, seperti profil lipid, sitokin proinflamasi (TNF-α, IL-18, hsCRP), dan ketebalan dinding pembuluh darah leher (CIMT).
Insulin berfungsi membantu sel tubuh menyerap glukosa dari darah. Namun pada resistensi insulin, sel-sel tubuh tidak merespons insulin dengan baik. Akibatnya, pankreas bekerja lebih keras menghasilkan insulin tambahan. Kondisi ini sering ditemukan pada anak dan remaja obesitas akibat gaya hidup sedentari, konsumsi makanan tinggi kalori, serta kurang aktivitas fisik. IR bukan hanya gejala awal diabetes, tetapi juga berkaitan dengan proses peradangan dan kerusakan pembuluh darah. Jika tidak ditangani sejak dini, risikonya bisa mengarah pada penyakit serius di masa dewasa.
Penelitian dilakukan pada 94 remaja usia 13–18 tahun dengan kondisi overweight dan obesitas. Hasilnya cukup mengejutkan: 26,6% dari mereka telah mengalami resistensi insulin. Walaupun angkanya lebih rendah dibandingkan data Asia Tenggara (44%), temuan ini menunjukkan bahwa lebih dari satu dari empat remaja obesitas sudah dalam kondisi berisiko. Dalam penelitian ditemukan bahwa resistensi insulin tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin, meskipun penelitian internasional sebelumnya menyebutkan bahwa remaja perempuan lebih rentan dibanding laki-laki. Hal ini mungkin karena mayoritas peserta sudah berada pada fase pubertas akhir, saat kondisi hormonal sudah mulai stabil.
Dalam penelitian, terbukti resistensi insulin memiliki korelasi sedang hingga kuat dengan beberapa indikator tubuh, seperti: berat badan, BMI dan BMI-for-age, lingkar pinggang dan panggul. Selain itu, remaja dengan IR memiliki kadar trigliserida yang lebih tinggi dan HDL (kolesterol baik) lebih rendah. Ini adalah tanda dislipidemia aterogenik, yaitu kondisi yang dapat memicu penyumbatan pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyakit jantung.
Penelitian ini juga menyoroti peran zat pemicu peradangan dalam tubuh. Ditemukan bahwa hsCRP dan TNF-α meningkat pada remaja dengan IR, namun IL-18 tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Lebih jauh lagi, ketebalan pembuluh darah karotis (CIMT) lebih tinggi pada remaja obese, terutama yang memiliki IR. CIMT adalah indikator awal aterosklerosis, bahkan ketika gejalanya belum terlihat. Artinya, proses penyakit jantung bisa saja sudah dimulai sejak masa remaja.
Temuan ini menunjukkan bahwa obesitas pada remaja bukan sekadar masalah berat badan — tapi sudah mengarah pada perubahan biologis berbahaya yang meningkatkan risiko penyakit kronis. Tanpa deteksi dan intervensi dini, generasi muda Indonesia bisa menghadapi “beban penyakit” sejak usia produktif. Langkah yang perlu dilakukan: (1) Pemeriksaan HOMA-IR dan profil lipid secara berkala pada remaja dengan obesitas, (2) Pemantauan lingkar pinggang sebagai indikator risiko metabolik yang mudah dilakukan, (3) Edukasi gaya hidup sehat sejak usia sekolah — termasuk pola makan seimbang dan aktivitas fisik rutin, (4) Screening hsCRP dan CIMT untuk mendeteksi peradangan dan aterosklerosis dini.
Penelitian ini juga memberikan pesan penting: Resistensi insulin sudah muncul sejak masa remaja dan berkaitan dengan perubahan metabolik serta kerusakan pembuluh darah. Remaja obesitas memiliki risiko nyata mengalami penyakit jantung dan diabetes di masa depan — bahkan sebelum mereka berusia 20 tahun.
Menjaga kesehatan bukan hanya soal diet sesaat, tetapi investasi jangka panjang. Dengan deteksi dini dan perubahan gaya hidup, ancaman kesehatan serius ini dapat dicegah. Generasi muda membutuhkan intervensi sekarang — sebelum terlambat.
Penulis: Nur Aisiyah Widjaja
Informasi detail artikel: https://www.mattioli1885journals.com/index.php/actabiomedica/article/view/16266





