Universitas Airlangga Official Website

Peran Komite Keberlanjutan dalam Memengaruhi Kinerja Emisi Karbon Perusahaan

Pengembangan Teknologi Baru untuk Mengurangi Emisi CO2
Ilustrasi emisi karbon (Foto CNN)

Penelitian ini mengkaji peran komite keberlanjutan (sustainability committees/SCs) dalam memengaruhi kinerja emisi karbon perusahaan, dengan fokus pada lima negara anggota ASEAN: Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Kawasan ini menyumbang hampir seluruh emisi karbon regional dan menghadapi risiko tinggi akibat ketergantungan pada sektor-sektor ekonomi yang rentan terhadap dampak perubahan iklim. Meskipun berbagai strategi mitigasi seperti efisiensi energi dan pengelolaan keanekaragaman hayati telah diterapkan, peran unit tata kelola di luar manajemen puncak, seperti SCs, belum banyak diteliti secara empiris dalam konteks pengelolaan emisi karbon.

Dalam konteks meningkatnya tekanan dari pemangku kepentingan, perusahaan membentuk SCs sebagai bagian dari struktur tata kelola keberlanjutan yang bertugas mengintegrasikan prinsip lingkungan ke dalam strategi bisnis. Komite ini berfungsi mengelola, memantau, dan mengomunikasikan informasi terkait emisi karbon serta memperkuat akuntabilitas dan transparansi perusahaan. Berdasarkan teori pemangku kepentingan dan teori legitimasi, SCs diposisikan sebagai elemen strategis dalam memperbaiki kualitas pengungkapan emisi dan membangun legitimasi sosial perusahaan dalam menghadapi isu perubahan iklim.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan SCs berkorelasi negatif dan signifikan terhadap kinerja karbon, di mana perusahaan dengan SCs cenderung melaporkan emisi yang lebih tinggi. Namun, temuan ini lebih mencerminkan peningkatan transparansi dan akurasi pelaporan, bukan peningkatan emisi aktual. SCs menjalankan peran ganda: sebagai instrumen legitimasi eksternal sekaligus sebagai mekanisme substantif dalam pengelolaan keberlanjutan. Meskipun demikian, efektivitas SCs dalam menurunkan emisi secara langsung masih terbatas dan bervariasi tergantung pada konteks institusional, jenis emisi, dan karakteristik industri.

Kontribusi penelitian ini terletak pada pengisian celah literatur dengan menyajikan bukti empiris mengenai peran SCs di kawasan ASEAN, yang sebelumnya kurang mendapat perhatian. Studi ini juga memperluas pemahaman teoritis dengan menggabungkan dua pendekatan konseptual untuk menjelaskan pengaruh SCs terhadap kinerja karbon perusahaan. Secara praktis, penelitian ini memberikan rekomendasi bagi perusahaan dan regulator untuk tidak sekadar membentuk SCs sebagai formalitas, melainkan memperkuat kapasitas, kewenangan, dan peran strategisnya dalam mendukung transisi menuju tata kelola lingkungan yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menganalisis 1.819 observasi firm-year dari perusahaan publik di lima negara ASEAN (Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand) selama periode 2018 hingga 2023. Data diperoleh dari basis data Bloomberg dan fokus pada variabel keberadaan komite keberlanjutan (SCs) serta kinerja karbon (carbon performance/CP) perusahaan. Teknik analisis utama yang digunakan adalah regresi Ordinary Least Squares (OLS). Untuk memastikan keandalan hasil dan mengatasi potensi bias seleksi sampel serta endogenitas, penelitian ini juga menerapkan uji robustnes melalui Coarsened Exact Matching (CEM), Propensity Score Matching (PSM), dan pendekatan Heckman Two-Stage.

Hasil analisis menunjukkan bahwa keberadaan komite keberlanjutan berkorelasi negatif dan signifikan terhadap kinerja karbon perusahaan, yang ditunjukkan melalui peningkatan pelaporan emisi karbon. Temuan ini tidak mengindikasikan bahwa emisi aktual meningkat, melainkan mencerminkan peningkatan akurasi dan transparansi dalam pengungkapan emisi. Efek keberadaan SCs ini lebih jelas terlihat pada industri dengan sensitivitas lingkungan tinggi dan pada emisi langsung (Scope 1). Variasi juga ditemukan berdasarkan negara dan karakteristik industri. Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan bahwa SCs berperan penting dalam memperkuat tata kelola dan legitimasi lingkungan perusahaan, meskipun belum sepenuhnya efektif dalam menurunkan emisi secara nyata.

Penulis: Yani Permatasari, Meifaza Ainur Rosyidah, An Nurrahmawati, Nor Aiza Mohd Zamil, Wulandari Fitri Ekasari

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://doi.org/10.1002/csr.70079