Universitas Airlangga Official Website

Tingkatkan Ketahanan Pariwisata NTB terhadap Bencana Alam melalui Pendekatan Engineering Resilience

Ilustrasi wisata di Lombok NTB
Ilustrasi wisata di Lombok NTB (Foto: brilio.net)

Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dikenal sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Indonesia, baik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Kekayaan alam dan budaya menjadikan NTB, khususnya Lombok dan Sumbawa, sebagai primadona pariwisata nasional. Namun, di balik potensi besar tersebut, NTB juga merupakan wilayah yang rentan terhadap bencana alam seperti gempa bumi, banjir, dan kekeringan.

Pertanyaannya, bagaimana dampak bencana terhadap kinerja sektor pariwisata NTB, dan apa yang bisa dilakukan untuk meningkatkan ketahanan pariwisata di tengah tantangan ini? Dengan menggunakan data dari tahun 2008 hingga 2019, para peneliti menganalisis dampak bencana alam terhadap performa sektor pariwisata di NTB. Penelitian ini menggunakan pendekatan engineering resilience—suatu konsep ketahanan yang menekankan pada kapasitas teknis dan kelembagaan dalam merespons bencana. Dalam hal ini, indikator yang digunakan antara lain belanja pemerintah daerah, kualitas transportasi, dan produk domestik regional bruto (PDRB).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bencana alam memang memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap sektor pariwisata. Dalam satu dekade terakhir, berbagai bencana telah menghambat pertumbuhan sektor ini. Misalnya, gempa besar yang melanda Lombok pada 2018 menyebabkan penurunan drastis jumlah wisatawan dan kerusakan infrastruktur pariwisata.

Namun, kabar baiknya, ada faktor-faktor yang terbukti mampu meningkatkan ketahanan dan kinerja sektor pariwisata di tengah bencana. Penelitian ini menemukan bahwa belanja pemerintah dan pembangunan infrastruktur transportasi memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan performa pariwisata. Semakin besar alokasi anggaran pemerintah untuk sektor ini, semakin tinggi pula kemampuannya untuk pulih dan bangkit pasca-bencana.

Belanja pemerintah dapat dimanfaatkan untuk memperkuat manajemen destinasi wisata, mempercepat pemulihan fasilitas, dan membangun sistem peringatan dini atau mitigasi bencana. Sementara itu, infrastruktur transportasi yang baik mempermudah akses wisatawan ke destinasi-destinasi wisata yang lebih terpencil dan potensial, termasuk kawasan wisata alam yang eksotis namun sulit dijangkau.

Implikasi dari temuan ini sangat jelas: untuk menjaga keberlanjutan sektor pariwisata NTB di tengah ancaman bencana, dibutuhkan investasi yang konsisten dan terencana dalam bidang infrastruktur serta tata kelola pariwisata. Pemerintah daerah dan pusat harus bekerja sama untuk meningkatkan belanja pembangunan di sektor pariwisata, dengan memastikan bahwa alokasi tersebut juga memperhatikan aspek mitigasi bencana dan ketahanan daerah.

Selain itu, penting juga bagi pelaku industri pariwisata, masyarakat lokal, dan pemangku kepentingan lainnya untuk meningkatkan kesadaran dan kapasitas menghadapi risiko bencana. Dengan kolaborasi yang baik antara pemerintah, swasta, dan masyarakat, pariwisata NTB tidak hanya bisa pulih lebih cepat dari bencana, tapi juga menjadi lebih tangguh dan berkelanjutan di masa depan.

Penelitian ini menegaskan bahwa membangun ketahanan sektor pariwisata bukan hanya soal promosi atau peningkatan fasilitas, tetapi juga soal kesiapsiagaan menghadapi bencana. Di tengah perubahan iklim global dan meningkatnya frekuensi bencana, pendekatan berbasis engineering resilience dapat menjadi strategi kunci dalam mewujudkan pariwisata berkelanjutan yang mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) di Indonesia.

Penulis: Yessi Rahmawati

Informasi detail artikel: http://publishingindia.com/ijhts/24/the-impact-of-natural-disaster-on-resilience-of-tourism-performances-in-west-nusa-tenggara-random-effect-models-rem/32218/98035/