Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) yang beranggotakan Kamboja, Brunei Darussalam, Laos, Indonesia, Myanmar, Malaysia, Vietnam, Singapura, Thailand, dan Filipina merupakan salah satu pusat pembangunan ekonomi terbesar. Dalam praktiknya, pertumbuhan ekonomi di ASEAN berkembang sangat pesat, namun ASEAN mengalami keterlambatan dalam hal sosial dan lingkungan, yang akan menghambat pembangunan di masa mendatang. Kendala tersebut bersumber dari tata kelola yang kurang baik dan praktik bisnis yang tidak berkelanjutan sehingga menimbulkan dampak ekologis dan sosial, seperti meningkatnya emisi gas rumah kaca (GRK), kerusakan lingkungan, kelangkaan sumber daya, ketimpangan sosial, dan kesenjangan yang membahayakan manusia.
Hal ini diperparah dengan praktik yang tidak berkelanjutan yang berujung pada cuaca ekstrem dan selanjutnya memicu malapetaka ekonomi dan sosial. Pada akhirnya, karena adanya tekanan dari para pemangku kepentingan terkait isu-isu berkelanjutan, maka praktik keberlanjutan di kawasan ini menjadi sangat penting untuk dibangun. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki hubungan antara struktur tata kelola perusahaan (CG) dan kinerja perusahaan (FP), dengan pengungkapan emisi karbon (CED) sebagai mediator.
Penelitian ini dilakukan oleh Dr. Pipin Kurnia, S.E., M.Si., Ak., CA., Prof. Dr. Dian Agustia, S.E., M.Si., Ak., CA., Prof. Dr. Noorlailie Soewarno, S.E., MBA., Ak., CA., dan Dr. Ardianto, S.E., M.Si., Ak., CA., CMA., dengan menggunakan data panel dari 35 perusahaan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2011 hingga 2020 dan 350 observasi perusahaan-tahun. CED menggunakan kerangka inisiatif pelaporan global, yang diterapkan melalui analisis konten dalam laporan tahunan. Struktur tata kelola dan FP juga diekstraksi dari laporan.
Hasil penelitian ini adalah CED memediasi hubungan antara struktur CG (ukuran dewan, dewan independen dan, komite audit) dan FP. Sementara itu, CED tidak memediasi hubungan antara konsentrasi kepemilikan dan FP. Hasil ini mendukung teori stewardship, yang sangat cocok untuk digunakan di Indonesia jika dilihat dari geografi dan budaya Indonesia sendiri. Indonesia adalah negara yang dipengaruhi oleh budaya Timur, di mana kepentingan pemegang saham diutamakan dan agen lebih berbakti kepada klien mereka.
Pertama, penelitian ini hanya mencakup sampel dari perusahaan pertambangan Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini harus dilakukan untuk semua industri dari berbagai negara, khususnya ASEAN, yang berdampak pada perubahan lingkungan, khususnya perusahaan yang menghasilkan emisi karbon sebagai akibat dari operasi perusahaan. Kedua, penelitian ini menggunakan data sekunder sehingga penelitian lebih lanjut dapat dilakukan dengan data primer, seperti mengajukan pertanyaan dan melakukan wawancara dengan eksekutif perusahaan, dengan tujuan memperoleh hasil yang berbeda. Penelitian ini mendorong manajemen untuk menerapkan informasi CED dengan struktur CG yang efektif guna meningkatkan FP jangka panjang.
Penelitian ini menyarankan manajemen perusahaan untuk meningkatkan fokus mereka pada kegiatan keberlanjutan, khususnya yang berkaitan dengan perubahan lingkungan yang disebabkan oleh operasi perusahaan. Melalui pengungkapan informasi CED yang valid, akurat, dan kredibel, struktur CG dapat mengurangi asimetri informasi antara berbagai pemangku kepentingan dan perusahaan dengan menggunakan temuan penelitian ini. Hasil penelitian ini bertujuan untuk membantu investor dalam mengambil tanggung jawab atas perubahan lingkungan dan memilih investasi yang bermanfaat bagi lingkungan, sehingga mereka dapat membuat keputusan investasi terbaik untuk meningkatkan FP.
Implikasi sosial – Penelitian ini mengundang literatur yang ada dengan menyelidiki efek langsung dan tidak langsung dari FP pada hubungan antara struktur tata kelola dan pengungkapan emisi karbon di perusahaan pertambangan yang menghasilkan emisi karbon terbanyak di Indonesia, yang merupakan negara berkembang. Penelitian pertama yang meneliti hubungan tiga arah antara CED sebagai mediator hubungan antara struktur CG dan FP di perusahaan pertambangan di Indonesia, di mana Indonesia merupakan negara nomor 5 di dunia dan nomor 3 di ASIA sebagai penyumbang emisi karbon. Ini berarti bahwa Indonesia juga berperan dalam perubahan lingkungan global. Penelitian ini menjawab kesenjangan dalam literatur sebelumnya dengan berbagai variabel dan indikator.
Penulis: Dr. Ardianto, S.E., Ak., M.Si.
Untuk mengakses secara lengkap artikel ini dapat menelusuri melalui tautan berikut: https://www.emerald.com/insight/content/doi/10.1108/jaar-01-2023-0015/full/html





