Universitas Airlangga Official Website

Peran Pengambilan Keputusan dalam Meningkatkan Kinerja Rumah Sakit Rujukan Covid-19

Ilustrasi virus Covid-19. (Sumber: Kompaspedia)

Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia sejak Maret 2020 memaksa rumah sakit untuk segera beradaptasi dengan situasi yang berubah-ubah. Ketidakpastian lingkungan yang tinggi mengharuskan rumah sakit membuat keputusan cepat untuk tetap mencapai standar kinerja yang telah ditetapkan. Pandemi ini menciptakan tantangan besar bagi rumah sakit, termasuk lonjakan permintaan alat kesehatan, kenaikan harga, dan kelangkaan alat pelindung diri (APD). Hal ini mempengaruhi kemampuan rumah sakit dalam memberikan pelayanan berkualitas sesuai protokol kesehatan. Atas dasar hal tersebut, Narsa et al. (2024) termotivasi untuk melakukan penelitian terkait bagaimana persepsi ketidakpastian lingkungan dan struktur pengambilan keputusan terdesentralisasi mempengaruhi kinerja rumah sakit yang diukur menggunakan Balanced Scorecard (BSC).

BSC digunakan untuk mengukur kinerja dari empat perspektif: keuangan, pelanggan, proses bisnis internal, dan pembelajaran serta pertumbuhan. Hasil menunjukkan bahwa desentralisasi dalam pengambilan keputusan membantu rumah sakit mengatasi dampak negatif dari ketidakpastian lingkungan di semua aspek ini. Secara finansial, rumah sakit bisa lebih efisien dalam penggunaan sumber daya. Dari perspektif pelanggan, mereka berhasil mempertahankan kepuasan pasien melalui adaptasi cepat terhadap protokol kesehatan yang berubah. Proses bisnis internal menjadi lebih agile, mempercepat inovasi dalam penanganan kasus COVID-19. Terakhir, dalam pembelajaran dan pertumbuhan, adanya kebijakan terdesentralisasi mendorong pengembangan kompetensi staf secara berkelanjutan.

Penelitian ini melibatkan survei yang dilakukan pada 162 manajer menengah dari 11 rumah sakit rujukan di Surabaya, yang mengungkapkan pentingnya otonomi dalam pengambilan keputusan di tingkat menengah dalam menangani ketidakpastian. Para manajer ini, yang berperan dalam kebijakan harian dan pengelolaan krisis, berada dalam posisi unik untuk mengamati langsung efek dari kebijakan yang diterapkan dan memberikan feedback yang berharga untuk peningkatan berkelanjutan.

Teori kontingensi digunakan sebagai dasar penelitian ini, yang menyatakan bahwa tidak ada satu struktur yang cocok untuk semua organisasi dalam berbagai situasi. Dalam konteks ini, persepsi ketidakpastian lingkungan didefinisikan sebagai cara manajer merasakan stabilitas dan prediktabilitas lingkungan eksternal. Struktur pengambilan keputusan terdesentralisasi, di mana kewenangan diberikan kepada manajer menengah, dianggap dapat membantu rumah sakit dalam menghadapi ketidakpastian. Desentralisasi memungkinkan manajer menengah, yang lebih dekat dengan operasional sehari-hari, untuk membuat keputusan yang lebih cepat dan tepat berdasarkan informasi yang lebih lengkap dan terbaru.

Penelitian ini menemukan bahwa persepsi ketidakpastian lingkungan memiliki hubungan positif signifikan terhadap kinerja rumah sakit yang diukur dengan empat perspektif BSC. Struktur pengambilan keputusan terdesentralisasi juga berperan sebagai mediator parsial dalam hubungan antara persepsi ketidakpastian lingkungan dan kinerja rumah sakit. Hasil ini menunjukkan bahwa dalam situasi ketidakpastian tinggi, manajer menengah yang diberi kewenangan untuk membuat keputusan dapat berkontribusi pada peningkatan kinerja rumah sakit.

Hasil penelitian ini sangat relevan untuk pembuat kebijakan dan manajemen rumah sakit. Mereka menunjukkan bahwa struktur organisasi yang fleksibel dan responsif adalah kunci dalam menghadapi krisis kesehatan publik. Menyesuaikan struktur pengambilan keputusan untuk memperkuat desentralisasi bisa menjadi strategi vital dalam mempersiapkan rumah sakit menghadapi masa depan yang tidak pasti. Dengan kata lain, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rumah sakit dapat mempertimbangkan untuk menerapkan struktur pengambilan keputusan terdesentralisasi sebagai strategi untuk menjaga dan meningkatkan kinerja dalam situasi ketidakpastian lingkungan. Dengan memberikan kewenangan kepada manajer menengah, rumah sakit dapat merespons perubahan lingkungan eksternal dengan lebih cepat dan efisien. Ini penting terutama dalam situasi pandemi seperti C ovid-19, di mana dinamika dan ketidakpastian lingkungan sangat tinggi.

Dengan menyoroti hubungan antara ketidakpastian lingkungan, pengambilan keputusan terdesentralisasi, dan kinerja rumah sakit, penelitian Narsa et al. (2024) mengajukan bahwa rumah sakit harus terus mengevaluasi dan menyesuaikan struktur organisasinya. Peningkatan otonomi pada level manajemen menengah tidak hanya mendukung keputusan yang lebih tepat dan tepat waktu tetapi juga meningkatkan keseluruhan kinerja rumah sakit dalam menghadapi pandemi.

Penelitian tersebut membuka jalan bagi lebih banyak investigasi mengenai cara-cara rumah sakit dapat memanfaatkan struktur pengambilan keputusan terdesentralisasi untuk tidak hanya bertahan tetapi berkembang dalam menghadapi krisis. Rekomendasi untuk penelitian lebih lanjut termasuk memperluas sampel ke rumah sakit di luar Surabaya, mengintegrasikan lebih banyak variabel yang dapat mempengaruhi kinerja, dan mengeksplorasi dampak jangka panjang dari struktur pengambilan keputusan ini.

Dengan fokus pada hasil yang dapat diaplikasikan dalam praktik, penelitian Narsa et al. (2024) berkontribusi pada literatur manajemen kesehatan dengan menawarkan wawasan praktis dan teoritis tentang pengelolaan kinerja rumah sakit dalam menghadapi ketidakpastian global. Ini juga menawarkan panduan berharga bagi rumah sakit dalam mengembangkan strategi adaptasi dan resiliensi yang efektif untuk menjawab tantangan masa depan.

Namun demikian, penelitian tersebut memiliki beberapa keterbatasan, termasuk jumlah rumah sakit yang diteliti dan potensi penurunan akurasi data karena perbedaan tanggung jawab responden. Penelitian selanjutnya disarankan untuk memperluas jangkauan rumah sakit yang diteliti dan lebih fokus pada departemen atau perspektif tertentu untuk mendapatkan hasil yang lebih spesifik dan terarah. Selain itu, penelitian ini menggunakan metode survei yang bisa terpengaruh oleh bias responden. Oleh karena itu, peneliti selanjutnya dapat mempertimbangkan untuk menggunakan metode kualitatif atau kombinasi untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang dinamika yang terjadi di rumah sakit.

Sumber: https://www.emerald.com/insight/content/doi/10.1108/IJPPM-09-2023-0482/full/html

Penulis: Niluh Putu Dian Rosalina Handayani Narsa, S.A., M.Sc.