Universitas Airlangga Official Website

Peran Protein S100β dalam Prediksi Keparahan Cedera Otak Traumatik

Peran Protein S100β dalam Prediksi Keparahan Cedera Otak Traumatik
Sumber: Media Indonesia

Cedera otak traumatik merupakan penyebab utama kematian dan kecacatan pada dewasa muda secara global, berkontribusi pada hampir separuh kematian terkait trauma. Di Indonesia, cedera otak traumatik menempati peringkat ketiga (11,8%) di antara semua jenis cedera berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2018. Jenis cedera ini menjadi masalah kesehatan yang signifikan karena tingginya tingkat kematian, kecacatan jangka panjang, dan beban ekonomi.

Salah satu parameter yang digunakan untuk memprediksi hasil cedera otak traumatik adalah biomarker seperti protein S100β. Setelah terjadi kerusakan jaringan otak, peningkatan kadar protein S100β dapat diukur dalam serum darah. Ini membantu dalam mengevaluasi pasien dengan risiko tinggi mengalami cedera sekunder, menentukan kebutuhan pemeriksaan radiologis ulang, dan memantau secara intensif.

Sistem skoring seperti Glasgow Coma Scale (GCS) sering digunakan untuk menilai penurunan kesadaran akibat cedera otak. Namun, GCS memiliki keterbatasan, khususnya dalam menilai pasien yang diintubasi. Sebagai alternatif, FOUR score menawarkan evaluasi yang lebih rinci terhadap refleks batang otak, gerakan mata, respons motorik, dan pola pernapasan. Selain itu, sistem skoring Rotterdam CT memberikan penilaian yang lebih mendetail tentang tingkat keparahan trauma berdasarkan elemen radiologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara kadar protein S100β dan tingkat keparahan cedera otak traumatik yang diukur dengan FOUR score dan Rotterdam CT score.

Penelitian ini adalah studi observasional cross-sectional yang dilakukan di RSUD Dr. Soetomo untuk menilai hubungan kadar protein S100β dengan tingkat keparahan cedera otak traumatik berdasarkan FOUR score dan Rotterdam CT score. Data diambil dari 31 pasien cedera otak traumatik berusia 18–65 tahun yang memenuhi kriteria inklusi. Kadar protein S100β diukur menggunakan metode ELISA, sementara FOUR score dan Rotterdam CT score diperoleh melalui pemeriksaan klinis dan radiologi. Analisis statistik menggunakan SPSS versi 26 dengan uji Spearman untuk data non-parametrik. Penelitian bertujuan mengidentifikasi hubungan signifikan antara biomarker, skor klinis, dan radiologis dalam evaluasi cedera otak.

Penelitian ini melibatkan 31 pasien cedera otak traumatik, mayoritas laki-laki (64,5%) dengan rata-rata usia 40,68 tahun. Jenis trauma yang paling umum adalah kecelakaan lalu lintas (87,1%). Kadar protein S100β pada pasien berkisar antara 0,1858 hingga 2,738 μg/L, dengan rata-rata 0,612 μg/L. Analisis menunjukkan hubungan negatif yang signifikan antara kadar protein S100β dan FOUR score (r = -0,663, p < 0,001), yang mengindikasikan semakin tinggi kadar protein S100β, semakin rendah FOUR score, mencerminkan penurunan tingkat kesadaran. Sebaliknya, terdapat hubungan positif sedang antara kadar protein S100β dan Rotterdam CT score (r = 0,418, p = 0,019), menunjukkan bahwa kadar protein S100β yang lebih tinggi berkorelasi dengan tingkat keparahan yang lebih parah berdasarkan hasil radiologi.

Hasil ini sejalan dengan studi sebelumnya yang menyebutkan bahwa kadar protein S100β dapat menjadi biomarker sensitif untuk menilai keparahan cedera otak dan memprediksi hasil klinis. FOUR score terbukti lebih efektif dibandingkan GCS dalam menilai pasien yang diintubasi, sementara Rotterdam CT score memberikan evaluasi radiologis yang mendetail terhadap struktur otak. Kombinasi ketiga parameter ini menawarkan pendekatan multidimensi untuk mengevaluasi cedera otak traumatik secara akurat dan mendukung pengambilan keputusan klinis.

Kesimpulannya, penelitian ini menunjukkan bahwa kadar protein S100β dapat digunakan sebagai biomarker untuk memprediksi tingkat keparahan cedera otak traumatik, dengan hubungan negatif yang signifikan terhadap FOUR score dan hubungan positif terhadap Rotterdam CT score. Kombinasi ketiga parameter ini membantu memberikan evaluasi yang lebih akurat terhadap kondisi pasien. Disarankan agar kadar protein S100β digunakan sebagai alat prognostik dalam praktik klinis untuk mengidentifikasi pasien berisiko tinggi. Penelitian lanjutan dengan sampel lebih besar dan melibatkan berbagai pusat layanan kesehatan diperlukan untuk mengonfirmasi temuan ini. Evaluasi serial kadar S100β dan skor klinis direkomendasikan untuk memahami perkembangan kondisi pasien.

Penulis: Dr. Kohar Hari Santoso, dr., SpAn-TI., Subsp. TI(K)., Subsp. An. Ped(K)

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://pjlss.edu.pk/pdf_files/2024_2/6073-6087.pdf

Baca juga: Peran Protein S100B dalam Memprediksi Keparahan Cedera Otak: Temuan dari Analisis Cairan Serebrospinal