Universitas Airlangga Official Website

Peranan Thromboelastograph dalam Terapi Heparin Pasien Covid-19

Foto by KlikDokter

Di awal tahun 2020 , dunia dikagetkan dengan kejadian infeksi berat dengan penyebab yang belum diketahui, yang berawal dari laporan dari Cina kepada World Health Organization (WHO) terdapatnya 44 pasien pneumonia yang berat di suatu wilayah yaitu Kota Wuhan, Provinsi Hubei,  China, tepatnya di Bulan Desember  di tahun 2019 yang kemudian  pada tanggal 11 Februari 2020 menamakannya dengan COVID-19 yang disebabkan oleh oleh Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2).

Virus ini dapat ditularkan dari manusia ke manusia dan telah menyebar secara luas di China dan lebih dari 190 negara dan teritori lainnya. Pada 12 Maret 2020, WHO mengumumkan COVID-19 sebagai pandemik. Hingga bulan Mei  2022, Menurut Data WHO terdapat 531.550.610 kasus terkonfirmasi COVID-19 dan 6.302.982  jumlah kematian di seluruh dunia. Sementara di Indonesia, sudah ditetapkan 6.058.736   kasus dengan positif COVID-19 dan 156.635 kasus kematian.

Salah satu komplikasi penting dari penyakit yang dapat mempengaruhi perawatan dan manajemen pasien adalah koagulopati terkait COVID-19 yang ditandai dengan hiperkoagulabilitas dan keadaan prothrombotik dengan peningkatan risiko kejadian trombotik , termasuk dalam trombosis vena, emboli paru, stroke iskemik, dan infark miokard, Berdasarkan temuan laboratorium, pada pasien COVID-19 dilaporkan 70 % pasien mengalami Disseminated intravascular coagulation (DIC) dan 30 % lainnya mengalami thrombosis.

Peningkatan D-dimer dan fibrin degradation product (FDP), dan pemanjangan waktu  protrombin time berkepanjangan (PT) dan waktu activated partial thromboplastin time (aPTT) telah diamati di pasien dengan koagulopati terkait COVID 19 namun didapatkan hasil yang tidak sensitif dan / atau secara klinis cukup bermakna untuk mendeteksi koagulasi dan memprediksi hasil klinis , dan dapat bervariasi antara demografis yang berbeda. kelompok pasien dengan interpretasi klinis yang tidak jelas  

Variasi dalam hiperkoagulabilitas dan perdarahan terjadi  pada  COVID-19, oleh karena itu dipertimbangkan pemberian antikoagulan terhadap potensi peningkatan risiko perdarahan begitu juga pemberian anti perdarahan pada komplikasi perdarahan pada COVID-19. Heparin baik dalam bentuk low moleculer weigh heparin (LMWH) maupun unfractioned heparin (UFH) digunakan sebagai obat anti koagulan dalam pencegahan terjadinya thrombosis pada pasien COVID-19. Heparin juga memiliki efek lain yang berguna pada pasien COVID-19 diantaranya sebagai antiviral dan memiliki efek anti inflamasi.  Dimulai dari dosis profilaksis sampai dengan dosis terapuetik heparin digunakan untuk mencegah keparahan dalam perjalanan pasien COVID-19.

Thromboelastograph (TEG) adalah suatu alat yang digunakan  dapat menganalisis karakteristik gumpalan viskoelastik, fungsi trombosit, dan fibrinolisis sehinga memberikan gambaran lengkap tentang status koagulasi pasien dan dapat digunakan sebagai panduan terapi untuk pasien Covid-19.   Pemeriksaan TEG memiliki berberapa diantaranya parameter R  yang menggambarkan waktu yang dibutuhkan sampai terbentuk fibrin pertama kali .  parameter α (Angle) mengambarkan aktivitas daripada fibrinogen, kekuatan bekuan  akan direpresentasikan dengan maximum angle (MA). Ketika bekuan sudah mencapai kekuatan maksimalnya, maka terjadilah proses fibrinolisis yang akan dinilai selama 30 menit dan digambarkan dengan LY30 (Lysis 30). Sebagai tambahan, terdapat parameter coagulation index (CI) yang merupakan suatu kalkulasi linear antara R,K,alpha dan MA yang akan sangat berguna dalam penentuan interpretasi TEG yang mengarah ke arah  area diagnostik, yaitu fibrinolitik, hemoragik, dan hiperkoagulasi.

Pemberian LMWH dan UFH pada pasien Covid-19 sebagai anti koagulan akan memberikan dampak perubahan pada alat TEG, perubahan yang terjadi tergantung pada besarnya dosis Heparin yang digunakan, semakin besar dosis yang diberikan makan akan semakin besar pula dampak yang dihasilkan pada alat TEG. Pemberian Heparin secara garis besar akan mempengaruhi interpretasi keseluruhan parameter dari alat TEG. R time, K rate, sudut α, MA akan mengalami perubahan

Sebagai Penutup, TEG memiliki keunggulan dibandingkan tes koagulasi rutin karena dapat menilai aktivitas koagulasi, fibrinogen, trombosit, dan system fibrinolisis secara bersamaan. Interpretasi status koagulasi pada pohon analisis TEG berkisar dari kondisi hiperkoagulasi, fibrinolitik, atau hemoragik. Namun, kondisi hiperkoagulasi (trombosit hiperkoagulabilitas, enzimatik hiperkoagulabilitas, trombosit & enzimatik hiperkoagulabilitas) merupakan kondisi koagulasi paling umum  pada pasien COVID-19.

Penulis: Dr. Yetti Hernaningsih, dr, Sp.PK(K)

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://e-journal.unair.ac.id/JR/article/view/31015

Yetti Hernaningsih* and Yosua Butar Butar

Department of Clinical Pathology, Faculty of Medicine, Universitas Airlangga; Dr. Soetomo Academic General Hospital, Surabaya, Indonesia