Dismenorea merupakan timbulnya rasa nyeri saat menstruasi. Lebih dari 50% wanita usia subur di dunia mengalami dismenorea. Dismenorea terjadi karena saat menstruasi, sel endometrium mengelupas melepaskan prostaglandin dan menyebabkan iskemia uterus dengan kontraksi myometrium dan vasokonstriksi.
Gejala dan skala toleransi kesakitan tiap wanita berbeda-beda yang menyebabkan perbedaan pengaruh terhadap aktivitas sehari-hari. Sebanyak 59.2% terjadi penurunan aktivitas, 5.6% tidak hadir kerja atau sekolah, dan 35.2% tidak merasa terganggu. 75% mengalami nyeri ringan hingga berat dan 25% mengalami nyeri berat.
Kompres hangat merupakan tindakan penanganan yang dilakukan dengan memberikan sensasi rasa hangat untuk menciptakan rasa nyaman karena rasa hangat pada daerah terpilih, mengurangi nyeri dan mengurangi ketegangan kontraksi otot uterus. Melakukan terapi kompres hangat dapat memberikan sinyal pada hipotalamus melalui jalur sumsum tulang belakang.
Saat reseptor yang peka terhadap rasa panas dirangsang oleh hipotalamus, maka sistem akan mengeluarkan sinyal yang akan menyebabkan berkeringat dan terjadi vasodilatasi perifer. Pada medulla oblongata terjadi perubahan ukuran pembuluh darah yang diatur oleh pusat vasomotor, sehingga akan terjadi vasodilatasi pada pembuluh darah yang meningkatkan aliran darah pada jaringan penyalur zat asam dan makanan ke sel-sel yang kemudian diperbesar dan sisa zat-zat diperbaiki sehingga dapat menurunkan dismenore.
Terapi kompres dingin merupakan bentuk tindakan nonfarmakologi yang bertujuan untuk menurunkan derajat dismenorea. Kompres dingin bekerja dengan cara menstimulasi kulit yang meningkatkan pelepasan endorphin dan menghambat terjadinya transmisi stimulasi nyeri dan menstimulasi serabut saraf A-beta yang berdiameter lebar yang kemudian menurunkan transmisi impuls nyeri melalui serabut kecil A-delta dan serabut saraf C.
Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa 3 dari 5 literatur yang terpilih menyatakan bahwa pemberian kompres dingin lebih efektif dalam menurunkan derajat nyeri dismenore dibandingkan dengan pemberian kompres hangat.
Penulis: Melania Safitri, Ratna Dwi Jayanti, Endyka Erye Frety
Link Artikel: https://wjarr.com/sites/default/files/WJARR-2023-1096.pdf





