Indonesia memiliki potensi besar dalam sumber daya alam laut, termasuk ikan yang sangat beragam, dengan 37% spesies ikan dunia dan 10% terumbu karang global berada di wilayahnya. Namun, banyak nelayan belum menangani pasca panen ikan dengan baik, yang menyebabkan hilangnya nutrisi ikan. Penurunan mutu ikan terutama terjadi pada awal rantai pasok, sehingga konsumen akhir seringkali menerima ikan berkualitas rendah, bahkan bisa membahayakan kesehatan. Penyebab utama penanganan buruk meliputi metode yang kurang memadai, minimnya pengetahuan, pengendalian suhu yang tidak tepat, serta akses terbatas ke infrastruktur. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana nelayan menangani ikan pasca panen dan dampaknya terhadap kualitas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana nelayan menangani pasca panen ikan dan kualitasnya.
Penelitian ini menggunakan data primer dengan melakukan survey di tiga lokasi berbeda di Jawa Timur, yaitu Banyuwangi, Surabaya, dan Sampang, data primer dikumpulkan melalui survei dan wawancara mendalam. Regresi Ordinary Least Square (OLS) digunakan sebagai teknik estimasi. Model yang digunakan adalah sebagai berikut:
Yi = β0 + β1Agei + β2d genderi + β3fishing timei + β4experiencei + β5fishinggroupi +β6temperaturei + β7environemnti + β8selling timei + β9usingicei + β10d elementaryi + β11d juniori + β12d seniori + β13d fishstoragei + β14d internet accessi + β15d sampangi + β16d banyuwangi i + ε
Dalam model regresi yang digunakan, Yi adalah Indeks Kualitas Ikan (FQI) untuk nelayan ke-i, yang mengukur kualitas ikan pasca panen. β0 adalah intersep atau konstanta yang mewakili nilai yang diharapkan dari FQI ketika semua variabel independen adalah nol. β1Usia adalah koefisien untuk usia nelayan ke-i, yang menunjukkan bagaimana perubahan usia nelayan memengaruhi FQI. β2d genderi adalah koefisien untuk variabel dummy jenis kelamin nelayan ke-i, yang menunjukkan perbedaan FQI berdasarkan jenis kelamin. β3waktu penangkapan ikan adalah koefisien untuk waktu penangkapan ikan nelayan ke-i, yang menunjukkan pengaruh waktu penangkapan ikan terhadap FQI. β4pengalaman adalah koefisien untuk pengalaman nelayan ke-i, yang mencerminkan bagaimana pengalaman memengaruhi kualitas ikan. β5fishinggroupi adalah koefisien untuk keanggotaan dalam kelompok nelayan ke-i, yang menunjukkan dampak keanggotaan kelompok terhadap FQI. β6temperaturei adalah koefisien untuk suhu penyimpanan ikan nelayan ke-i, yang menunjukkan dampak suhu terhadap kualitas ikan. β7environemnti adalah koefisien untuk kondisi lingkungan tempat kerja nelayan ke-i, yang menunjukkan bagaimana lingkungan kerja memengaruhi FQI. β8 selling timei adalah koefisien untuk waktu penjualan ikan nelayan ke-i, yang menunjukkan dampak waktu penjualan terhadap kualitas ikan. β9usingicei adalah koefisien untuk penggunaan es oleh nelayan ke-i, yang menunjukkan dampak penggunaan es terhadap FQI. β10d elementsi adalah koefisien untuk variabel dummy pendidikan dasar nelayan ke-i, yang menunjukkan dampak pendidikan dasar terhadap kualitas ikan. β11d juniori merupakan koefisien untuk variabel dummy pendidikan menengah pertama nelayan ke-i, yang mencerminkan dampak pendidikan menengah pertama terhadap FQI. β12d seniori merupakan koefisien untuk variabel dummy pendidikan menengah atas nelayan ke-i, yang menunjukkan pengaruh pendidikan menengah atas terhadap kualitas ikan. β13d fishstoragei merupakan koefisien untuk variabel dummy penyimpanan ikan nelayan ke-i, yang menunjukkan dampak praktik penyimpanan ikan terhadap FQI. β14d internet accessi merupakan koefisien untuk variabel dummy akses internet nelayan ke-i, yang menunjukkan pengaruh akses internet terhadap kualitas ikan. β15d sampangi merupakan koefisien untuk variabel dummy lokasi di Sampang untuk nelayan ke-i, yang menunjukkan perbedaan FQI antara Sampang dan Surabaya. Terakhir, β16d banyuwangi i merupakan koefisien untuk variabel dummy lokasi di Kabupaten Banyuwangi untuk nelayan ke-i, yang menunjukkan adanya perbedaan FQI antara Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Surabaya. εi merupakan suku galat untuk nelayan ke-i, yang menunjukkan adanya variasi FQI yang tidak dijelaskan oleh variabel independen dalam model.
Survei ini mengidentifikasi karakteristik nelayan yang mayoritas berpendidikan rendah dan memperoleh pengetahuan melalui pelatihan, internet, atau kelompok nelayan. Sebagian besar nelayan menggunakan tempat penyimpanan bersih untuk hasil tangkapan, namun ada yang menyimpan tanpa es karena perjalanan melaut singkat. Kualitas ikan seringkali tidak dihargai karena kurangnya kesadaran pembeli. Studi ini menunjukkan bahwa kondisi lingkungan di Surabaya paling baik, dan mutu ikan tertinggi ada di Kabupaten Sampang, sementara Kabupaten Banyumas terendah karena waktu penangkapan yang lama dan sedikitnya penggunaan es.
Analisis regresi menunjukkan faktor yang memengaruhi Indeks Mutu Ikan (IKM) adalah lama melaut, pengalaman, lingkungan kerja, dan lama waktu berjualan. Usia, jenis kelamin, kelompok nelayan, dan suhu berdampak negatif pada mutu ikan. Peningkatan waktu melaut, pengalaman nelayan, dan perbaikan lingkungan mendukung kualitas ikan yang lebih baik. Pemerintah disarankan meningkatkan kesadaran dan pengetahuan nelayan serta menyediakan fasilitas penyimpanan untuk menjaga kualitas ikan.





