UNAIR NEWS – Memperingati 72 tahun perjalanan mengarungi dinamika dunia perguruan tinggi, Universitas Airlangga (UNAIR) menyelenggarakan Pengajian Dies Natalis ke-72 pada Rabu (2/9/2026). Kegiatan tersebut berlangsung di Halaman Gedung Rektorat, Kampus MERR-C UNAIR.
Pengajian tersebut menghadirkan ulama Nahdlatul Ulama sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso Kediri, KH Abdurrohman Al Kautsar atau akrab disapa Gus Kautsar. Dalam dakwahnya, Gus Kautsar mengajak sivitas akademika menjadikan ilmu sebagai bekal untuk menjalani kehidupan dan memberi manfaat bagi sesama.
Istiqomah Menuntut Ilmu
Gus Kautsar mengingatkan bahwa perjalanan menuntut ilmu tidak selalu berjalan mudah. Ada kalanya seseorang menghadapi kegagalan atau merasa tidak memiliki jalan untuk melanjutkan perjuangan. Namun, kondisi tersebut justru dapat menjadi kesempatan untuk mencari jalan lain.
“Ketika satu pintu tertutup, kita harus punya kemampuan mencari tahu apakah ada pintu yang lebih besar terbuka,” tuturnya.
Gus Kautsar menegaskan bahwa ilmu merupakan bekal utama dalam kehidupan. Ia menyebut ada dua ilmu yang penting bagi manusia, yakni ilmu untuk memahami ibadah dan membangun hubungan baik dengan Allah SWT serta sesama manusia, dan ilmu kesehatan untuk menjaga raga dan jiwa. Menurutnya, niat baik akan termanifestasi ketika tubuh dan jiwa berada dalam kondisi sehat.
Ia juga mengingatkan bahwa kehidupan berjalan seperti roda. Ada masa bahagia, ada pula masa ketika seseorang menghadapi kesedihan dan kesulitan. Karena itu, ketekunan dalam belajar menjadi bekal untuk melewati setiap keadaan. “Jika kamu tidak sanggup menahan lelahnya belajar, kamu harus sanggup menahan perihnya kebodohan,” ujarnya.
Menjadi Generasi yang Bermanfaat
Gus Kautsar mengingatkan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam menopang masa depan bangsa. Menurutnya, banyak orang ingin sukses, tetapi tidak banyak yang mampu bertahan dalam proses untuk mencapainya. Karena itu, generasi muda perlu tekun dan terus melangkah di tengah tantangan.
Ia menyebut rasa malas dan mudah bosan sebagai dua hal yang perlu dilawan dalam perjalanan menuju kesuksesan. Konsistensi, menjadi kunci agar seseorang mampu terus bergerak meski menghadapi berbagai tantangan.
“Yang terpenting bukan hanya bagaimana kita ingin sukses, tetapi bagaimana kita mampu bertahan dan terus berproses,” katanya.
Gus Kautsar mengajak mahasiswa tidak berhenti mengejar keberhasilan untuk diri sendiri. Ilmu dan kemampuan yang dimiliki perlu diarahkan agar memberi manfaat bagi orang lain.
“Orang yang paling dicintai Allah SWT adalah orang yang kemanfaatannya dirasakan oleh orang lain. Semakin besar kemanfaatannya, semakin istimewa orang itu di mata Allah,” pungkasnya.
Penulis: Maia Chaerunnisa
Editor: Khefti Al Mawalia





