Universitas Airlangga Official Website

Perpustakaan Metaverse: Menciptakan Pengalaman Interaksi Secara Virtual

Foto by Harper's Bazaar Indonesia

Metaverse merupakan salah satu alternatif mengakses perpustakaan terutama bagi generasi digital. Metaverse memungkinkan seseorang untuk melakukan banyak hal sekaligus, misalnya berinteraksi dengan pustakawan dan pengguna, sambal menggunakan gadget, dan melakukan aktifitas lainnya. Perpustakaan metaverse juga dapat memberikan layanan secara virtual, seperti literasi informasi instruction, konsultasi, promosi koleksi, dan layanan berbasis Pendidikan lainnya. Dengan membangun metaverse perpustakaan bisa memberikan layanan educasi dengan jangkauan yang luas.

Namun untuk membangun metavese dibutuhkan kesiapan sumberdaya, dana, dan fasilitas IT yang memadai. Apakah perpustakaan mampu membangun metaverse? Teknologi metaverse adalah virtual reality, seamless and persistent 3D world, extended reality. Metaverse harus mampu mengadopsi suasana di dunia nyata, misalnya memberikan layanan sesuai dnegan jam buka, dan menyediakan layanan real time, terbuka bagi semua sesuai jam yang telah ditentukan. Raksasa teknologi sepeti facebook dan Google saat ini masih terus mengembangkan teknologi metaverse. Perpustakaan dilain sisi sebagai information hub juga dapat memanfaatkan metaverse disamping hambatan teknologi infornasi, setidaknya perpsutakaan dapat menjadi bagian dalam pengembangan metaverse.

Berikut adalah beberapa perpustakaan yang sedang membangun metaverse

Lingang digital science and teknology library

Menyatakan sebagai peprustakaan pertama yang menyediakan metaverse dalam bentuk public meeting space, cultural expedition area, tourism, dan tempat santai (leisure). Selanjutnya perpuatakaan juga menmanfaatkan teknologi augmented reality dan virtual reality untuk memberikan pengalaman seolah membaca seperti di dunia nyata dan memeberikan kesmepatan bagi para pengguna untuk berinterkasi satu sama lain. Untuk konten, peprustakaan memberikan porsi yang besar bagi koleksi digital culture dan ketersediaan konten pada public culture.

Virtual world with second life

Perpustakaan dapat membangun dunia virtual melalui aplikais second life. Pustakawan dapat membuat avatar, membuka layanan literasi informasi, Pendidikan, konsultasi, book clubs, author talks, dan banyak lagi. Dengan avatar pustakawan dapat menjelajah berbagai dunia vitual yang ada. Sebuah komunitas virtual, community virtual library (CVL) juga menggunakan second life dalam embangun dunia virtual mereka. CVL sudah berdiri lebih dari sepuluh tahun dan beranggotakan pustakawan diseluruh dunia. Mereka bertemu di virtual world melalui avatar dan berinteraksi, melakukan meeting, dan berdikusi.

CVL membangun perpustakaan virtual dilengkapi dengan reference desk services dimana para pengunjung virtual dapat bertanya ternatng perpustakaan CVL. The volunteer librraians come from librarians, library students, library staff, and educators. People are invited to join as volunteer too bu sign up the second life account. There are many events held by virtual library second life such as book discussion, author talks, art exhibit opening, seminars, workshop, and many more. Virtual world library dapat diakses di web berikut https://communityvirtuallibrary.org/.

Library @ Habbo Hotel

Habbo merupakan salah satu virtual world yang cukup populer, dimana user dapat membangun komuntas (hotel) secara virtual. Pustakawan juga dapat membangun virtial library dengan avatar di apliaksi habbo hotel ini. Pustakawan dapat menawarkan koleksi buku dan database, mengeksplorasi dunia virtual, interaksi dengan user.

Virtual library @ Kitely

Kitely juga menyediakan virtual world yang bisa dimanfaatkan oleh peprustakaan untuk membangun perputakaannya menggunakan OpenSims-based virtual world. Kitely menyediakan biaya subsscribtion untuk menghosting sebuah virtual world. Hampir sama dengans second life, user dapat membuat avatar untuk berinteraksi dan mengeksplore virtual world kitely. Selanlonde community library membangun virtual library mereka di kitely berdiri tahun 2010. Diperpustakaan tersebut terdapat wellspring terraport center, museum of metaverse art, welcome center, stand alone theoter, ice ring. Virtual library ini juga dibangun oleh komunitas virtual library dimana untuk menjadi user dapat bergabung menjadi volunteer di peprustakaan virtual.

Spatial.io

Disini juga menyediakan virtual reality platform untuk berhubungan satu dengan yang lain, menyeleggarakan even virtual, membangun 3D spaces. Perpustakaan yang membangun metaverse di spatial antara lain Khon Kaen University Library (KKU). KKU membangun metaverse dan menawarkan pengalaman menggunakan vritual reality (VR) headset kepada para users baik dalam kampus maupun xternal. Peprustakaan KKU juga membangin virtual exhibition. SPU (Sripatum University) central library juga membuat metaverse yang berisi informasi layanan-layanan peprustrakaan.

Penutup

Perpustakaan di dunia metaverse, memang belum ada contoh riil perpustkaan metaverse yang mengembangkan layanannya secara menyeluruh. Perpustakaan metaverse yang ada saat ini antara lain berisi komunitas yang memanfatakan metaverse untuk berkumpul, membuat inovais, dan berkolaborasi. Perpustakaan juga belum sepenuhnya mengadopsi metaverse melainkan masih berupa prototype virtual reality dari perpustakaan konvesnional. Ini baru permulaan, dengan banyaknya platform penyedia virtial reality, sangat memungkinkan untuk pengembangan perpusakaan metaverse yang akan dating. Melihat tantangan metaverse terutama di sisi developer maupun user menjadikan metaverse sebuah teknologi yang perlu dipertimbagkan pengelolalaannya, terutama ketika ingin menjangkau audience yang sangat luas.

Penulis: Dessy Harisanty, S.Sos., M.A.

Jurnal: https://www.emerald.com/insight/content/doi/10.1108/LHTN-02-2023-0019/full/html#:~:text=Libraries%20in%20the%20metaverse%20world%20are%20indeed%20not%20yet%20developed.