Universitas Airlangga Official Website

Pneumotoraks Spontan Bilateral pada Pasien Tuberkulosis dan HIV

Artikel ini menuliskan kejadian pasien berjenis laki-laki di Indonesia, berusia 31 tahun, memiliki keluhan sesak napas, nyeri dada , dan penurunan berat badan (15 kg selama 2 bulan). Beliau mempunyai riwayat HIV dan baru mengonsumsi ARV selama 3 bulan sejak didiagnosis. Dia, saudara perempuannya, dan ibunya semuanya menderita limfadenitis tuberkulosis. Pasien tampak lemah, dispnea, skala analog visual (VAS) 5, tekanan darah (TD) 92/64 mmHg, denyut jantung (HR) 112 ×/menit, suhu 37,7 °C, laju pernapasan (RR) dari 32 ×/mnt, saturasi oksigen (SpO2) 98 % (masker sederhana 8 L/mnt).

Pada inspeksi dan fremitus, perkembangan ekspansi paru kiri terhambat. Bunyi perkusi paru kiri hipersonor dan pada auskultasi bunyi paru menurun . Hasil rontgen dada menunjukkan pneumotoraks sinistra. Pasien menjalani torakosentesis jarum dengan pemasangan selang dada dan drainase segel air (WSD). Pada tahap lanjutan, pasien juga mengonsumsi obat anti retroviral (ARV) dan obat anti tuberkulosis (ATD). Pasien telah membaik tetapi beberapa hari kemudian mengalami pneumothorax dextra dan menerima pengobatan . Pasien hanya bertahan selama 2 hari setelahnya dan meninggal karena syok hipovolemik.

Penatalaksanaan pneumotoraks pada pasien TB-HIV hanya menunjukkan perbaikan sementara namun prognosisnya buruk. Kepatuhan pasien HIV terhadap ARV meminimalkan risiko tertular Mycobacterium tuberkulosis di daerah endemis. Pasien HIV diharapkan untuk tetap berkomitmen terhadap rejimen pengobatannya untuk mengurangi terjadinya pneumotoraks yang disebabkan oleh TB-HIV di daerah endemis.

Gejala pneumotoraks pada pasien HIV tidak berbeda dengan pasien tanpa HIV, antara lain nyeri pleuritik, sesak napas saat istirahat, batuk kering, dan gagal napas yang mengancam jiwa akibat rusaknya sistem kardiorespirasi. Pemeriksaan fisik yang tampak pada pneumothorax antara lain penurunan gerak pernafasan, penurunan fremitus teraba atau tidak ada, peningkatan suara perkusi (hipersonor), dan penurunan suara nafas (auskultasi) atau tidak adanya. Konfirmasi diagnosis pneumotoraks dapat dilihat dari foto rontgen dada posterior-anterior. Diperoleh garis putih tipis dari kolaps paru (tepi pleura visceral) dengan area radiolusen tanpa jaringan paru.

Ciri khas pneumotoraks pada radiografi adalah adanya garis putih pleura visceral yang terpisah dari pleura parietal dan dinding dada oleh kumpulan gas, sehingga mengakibatkan tidak adanya tanda paru pada rongga pleura. Prinsip penatalaksanaan pneumotoraks adalah mengevakuasi udara dalam rongga pleura, menghilangkan penyebab kebocoran udara, membuat paru mengembang dan mencegah kekambuhan.

Aspirasi jarum (NA) dan selang dada digunakan sebagai pengobatan lini pertama pada pneumotoraks, dan pedoman British Thoracic Society (BTS) merekomendasikan NA sebagai intervensi pertama, jika diperlukan, untuk semua pneumotoraks untuk menghindari kerugian dari CTD. Jika terjadi kegagalan NA, chest tube sebaiknya dilakukan minimal 3 hari, dan pembedahan dapat dilakukan setelahnya maksimal hari ke 5.

Penatalaksanaan pneumotoraks pada pasien HIV dan tuberkulosis paru juga serupa. Pengobatan HIV/AIDS adalah dengan pemberian ARV untuk mencegah kesakitan dan kematian. Penekanan HIV yang berkepanjangan dapat meningkatkan fungsi kekebalan tubuh, kualitas hidup secara keseluruhan, mengurangi risiko komplikasi AIDS dan non-AIDS, dan memperpanjang kelangsungan hidup. Tujuan kedua dari terapi ARV adalah mengurangi risiko penularan HIV. Oleh karena itu, terapi ARV harus diberikan kepada semua orang dengan HIV/AIDS, tanpa memandang stadium klinis dan nilai CD4 dan dilanjutkan seumur hidup

Penderita HIV/AIDS perlu mematuhi penggunaan ARV untuk mencegah infeksi Mycobacterium tuberkulosis, terutama di daerah endemis tuberkulosis seperti Indonesia. Hal ini disebabkan keberhasilan terapi pada pasien TB-HIV relatif buruk, dan dilaporkan hanya 57,9 % kasus TB-HIV yang mendapat pengobatan berhasil.

Penulis: Tri Pudy Asmarawati, dr., Sp.PD.

Sumber: https://doi.org/10.1016/j.ijscr.2023.108928