Universitas Airlangga Official Website

Polifarmasi dan Risiko Tersembunyi pada Pengobatan Lansia

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Bagi banyak lansia, minum obat setiap hari sudah menjadi rutinitas. Namun, bagaimana jika jumlah obat yang harus dikonsumsi justru terlalu banyak? Alih-alih membantu, kondisi ini bisa menjadi bumerang.

Fenomena ini dikenal sebagai polifarmasi, yaitu penggunaan beberapa obat sekaligus dalam satu waktu. Dalam konteks penyakit kronis seperti hipertensi, kondisi ini semakin sering terjadi, terutama karena banyak lansia juga memiliki penyakit penyerta seperti diabetes.

Sebuah penelitian dari peneliti Fakultas Farmasi Universitas Airlangga mengungkap sisi lain dari praktik ini. Studi yang dilakukan pada 212 pasien lansia di fasilitas kesehatan tingkat pertama di Lamongan, Jawa Timur, menemukan bahwa lebih dari separuh pasien mengonsumsi 4–5 jenis obat setiap hari. Bahkan, sebagian lainnya mengonsumsi lebih dari lima obat sekaligus.

Di satu sisi, kombinasi obat memang diperlukan untuk mengontrol berbagai kondisi kesehatan. Namun di sisi lain, semakin banyak obat yang harus diminum, semakin besar pula risiko pasien menjadi tidak patuh.

Penelitian tersebut mencatat sekitar 21 persen pasien tidak mengonsumsi obat sesuai anjuran. Angka ini bukan sekadar statistik. Di baliknya, ada realitas sehari-hari yang dihadapi lansia: lupa jadwal minum obat, bingung dengan aturan pakai yang berbeda, hingga kelelahan menghadapi rutinitas pengobatan yang kompleks.

“Minum obat bukan hanya soal ada atau tidaknya obat, tapi juga soal kemampuan pasien untuk mengikuti aturan yang ada,” menjadi pesan penting dari temuan ini.

Analisis lebih lanjut menunjukkan adanya hubungan signifikan antara jumlah obat dan tingkat kepatuhan. Semakin banyak obat yang dikonsumsi, semakin besar kemungkinan pasien tidak patuh.

Kondisi ini menjadi perhatian serius. Pasalnya, ketidakpatuhan dalam pengobatan hipertensi dapat meningkatkan risiko komplikasi seperti stroke, penyakit jantung, hingga gagal ginjal. Bukan hanya berdampak pada kualitas hidup pasien, tetapi juga meningkatkan beban sistem kesehatan.

Di Indonesia sendiri, masalah kepatuhan minum obat masih menjadi tantangan. Data sebelumnya menunjukkan bahwa tidak semua pasien hipertensi rutin mengonsumsi obatnya, meskipun telah didiagnosis. Di tengah meningkatnya jumlah penduduk lansia, temuan ini menjadi pengingat bahwa penting untuk memastikan bahwa pasien benar-benar dapat menjalani pengobatan dengan baik. Pada akhirnya, keberhasilan terapi bukan hanya ditentukan oleh resep dokter, tetapi juga oleh kemampuan pasien untuk menjalankannya.

Artikel : https://japer.in/storage/files/article/83afedfd-97eb-44af-a87c-e353987603b9-66eqk1KOYRwGyfYa/U5Gm7eBaaMSCPzE.pdf

Penulis : Prof. Dr. apt. Yunita Nita, S.Si., M.Pharm