Universitas Airlangga Official Website

Kewarganegaraan Global dan Tantangan Dunia Modern

FIB NEWSFakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (FIB UNAIR) membuka rangkaian Dies Natalis ke-27 dengan penyelenggaraan seminar internasional pada Jumat, 31 Oktober 2025. Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang Majapahit, Tower ASEEC, dan menghadirkan akademisi terkemuka, Assoc. Prof. Freek Colombijn.

Dalam pembukaan materi, Prof. Freek menyampaikan apresiasi kepada FIB UNAIR atas undangan yang diberikan. Ia mengungkapkan bahwa meskipun pertemuan berlangsung secara daring, dirinya tetap merasa antusias dapat berbagi pandangan dengan sivitas akademika UNAIR. Ia turut memberikan selamat atas peringatan Dies Natalis FIB yang ke-27, serta menyinggung pengalaman personalnya ketika berkegiatan di Indonesia pada era 1990-an.

Kewarganegaraan Global dalam Tantangan Dunia Modern

Pada seminar ini, Prof. Freek membawakan topik mengenai kewarganegaraan global (global citizenship), sebuah konsep yang menekankan kesadaran manusia sebagai bagian dari komunitas dunia yang hidup dalam ruang terbatas bernama bumi. Mengacu pada pemikiran Martha Nussbaum dan Amartya Sen, ia menegaskan bahwa setiap orang memiliki hak yang sama untuk mengembangkan potensi kemanusiaannya. Namun, kewarganegaraan global tidak hanya berbicara tentang hak, melainkan juga menyangkut tanggung jawab terhadap sesama, spesies lain, dan kelestarian ekosistem global.

Dalam paparannya, ia memaparkan data dan fakta mengenai kondisi lingkungan dunia yang semakin mengkhawatirkan. Kehancuran ekosistem, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga dampak kapitalisme yang menekan aspek sosial dan ekologis menjadi poin reflektif yang ia soroti. Menurutnya, pembangunan ekonomi yang tidak mempertimbangkan daya dukung bumi akan berujung pada krisis jangka panjang yang sulit dibendung.

Freek juga menjelaskan konsep tragedy of the commons, yakni situasi ketika individu mengambil keputusan rasional untuk kepentingan pribadi namun secara kolektif justru merusak sumber daya bersama. Fenomena ini, menurutnya, masih terjadi pada banyak aspek lingkungan dan sosial global.

Generasi Z dan Pendidikan Kewarganegaraan Global

Dalam bagian kedua presentasinya, ia menyoroti peran perguruan tinggi dalam membentuk kesadaran kewarganegaraan global, terutama bagi Generasi Z yang kini mengisi bangku universitas. Generasi ini, menurutnya, tumbuh sebagai digital natives; generasi yang melek teknologi, terbuka pada keberagaman, serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Namun, mereka juga menghadapi tantangan hidup di dunia yang volatil, tidak pasti, kompleks, dan ambigu.

Dengan kondisi tersebut, ia menilai bahwa pendidikan harus mampu memberikan ruang bagi mahasiswa untuk memahami dunia secara lebih kritis. Antropologi, menurutnya, menjadi salah satu disiplin yang relevan karena mengajarkan empati, relativisme budaya, serta keberanian untuk mempertanyakan kompleksitas sosial secara lebih mendalam.

Penutup: Surat untuk Mahasiswa Masa Depan

Sebagai bagian penutup, Prof. Freek membacakan sebuah surat yang ia tulis untuk “Camille”, sosok mahasiswa imajiner yang mewakili generasi masa depan. Dalam surat tersebut, ia menegaskan kembali pentingnya kewarganegaraan global sebagai cita-cita yang harus terus diperjuangkan, terutama di tengah tantangan politik dan sosial global saat ini.

Dengan terselenggaranya seminar internasional ini, FIB UNAIR resmi membuka rangkaian Dies Natalis ke-27 sebagai momentum refleksi dan penguatan komitmen terhadap isu-isu global melalui pendekatan ilmu budaya. Seminar ini juga mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4, yaitu quality education.