Dokumentasi Para Duta FIB UNAIR di booth FIB AEE (Foto: Dok. Istimewa)
FIB NEWS – Booth Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (FIB UNAIR) sukses tampil dalam Airlangga Education Expo (AEE) pada Jum’at (23/1/2026) hingga Minggu (26/1/2026). Konsep booth FIB UNAIR mengusung tema retro dengan nuansa nostalgia era 1970-1980-an yang menyesuaikan dengan generasi masa kini. Melalui tema ini, FIB UNAIR ingin menunjukkan bahwa kebudayaan tidak pernah benar-benar usang, tetapi terus berjalan dan mengalami pembaruan sesuai dengan zamannya.
Panitia berupaya menghadirkan suasana yang menarik perhatian pengunjung, sekaligus tetap mempresentasikan identitas FIB UNAIR sebagai fakultas yang mengkaji manusia, bahasa, sastra, dan budaya. “Harapannya, para pengunjung bisa melihat bahwa cara belajar di FIB UNAIR ini juga dapat memahami masyarakat, budaya dan sejarah selalu dinamis,” tutur Pingkan Febrianti, penjaga booth.
Nilai Filosofi dalam Gaya Kontemporer
Booth ini merepresentasikan adanya nilai humaniora FIB karena menempatkan manusia, ingatan, dan pengalaman budaya sebagai pusat. “Mempelajari budaya bukan sekadar sebagai objek, tapi kami merayakannya sebagai pengalaman hidup, baik melalui sejarahnya, estetika maupun praktik keseharian,” ujar Pingkan.
Secara filosofis, nostalgia ini mengangkat gagasan bahwa identitas budaya terbentuk dari ingatan kolektif masyarakat. Artinya era 1970-1980-an tidak sekadar gaya visual dan gaya berpakaian, tetapi pasti mempunyai simbol perjalanan budaya, cara berpikir masyarakat, sejarah dengan kajian-kajian dapat dibaca lintas waktu, serta tetap relevan untuk dipahami sebagai fenomena kebudayaan sekaligus budaya kontemporer.

Tampilan Properti Retro booth FIB AEE (Foto: Dok. Istimewa)
Elemen Visual dan Pengalaman Pengunjung
Booth FIB UNAIR menampilkan elemen visual antara lain cermin cerbung, dinding bernuansa retro, serta berbagai ornamen pendukung kesan nostalgia. Panitia menjadikan cermin cembung sebagai media swafoto bagi pengunjung dengan konsep yang sesuai dengan selera generasi Z.
Selain menonjolkan aspek visual, panitia juga memanfaatkan persepsi bahwa FIB UNAIR memiliki identitas kultural atau culture sebagai bagian strategi pencitraan. Unsur nostalgia lengkap dengan permainan tradisional seperti dudutan dan lotre, serta penyediaan jajanan tempo dulu.
“Dalam masa pelaksanaan AEE, booth FIB hampir selalu dipenuhi pengunjung. Permainan dan jajanan tradisoinal yang kami siapkan pun selalu habis, apalagi dengan para Duta FIB yang aktif mengajak dan menyapa pengunjung secara ramah,” jelas Rizky Ahmad Maulana, penjaga booth.
Salah satu pengunjung mengaku tertarik karena konsep booth ini santai dan tidak kaku. “Ketika pertama kali masuk booth FIB UNAIR, satu hal yang langsung mencuri perhatian saya adalah permainan tradisional dengan hadiah jajanan tradisional,” ujar Nia Putri Permatasari, pengunjung booth.
Konsep booth FIB UNAIR dalam AEE 2026 ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4, yaitu Quality Education.
Penulis: Nuriya Ramadloni
Editor: Priska Dwita Aulia




