Pembelajaran bagi mahasiswa Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH) tidak selalu berlangsung di ruang laboratorium. Saat menjalani stase Parasitologi Veteriner, mahasiswa PPDH Gelombang XLV Tandem 3 Sub kelompok 2 Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR) justru memperoleh pengalaman belajar dari fenomena yang mereka temukan di lapangan. Seekor bangkai tikus yang dikerumuni lalat di Tempat Penampungan Sementara (TPS) Taman Flora Surabaya menjadi awal pembelajaran mengenai salah satu serangga yang berperan dalam proses dekomposisi di alam.
Kegiatan surveilans lapangan tersebut dilakukan pada 19 Juli 2024. Saat melakukan pengamatan di sekitar TPS Taman Flora, mahasiswa menemukan bangkai tikus yang telah dikerumuni lalat. Dari lokasi tersebut, beberapa spesimen diambil sebagai sampel untuk dipelajari lebih lanjut di Laboratorium Parasitologi Veteriner FKH UNAIR melalui identifikasi morfologi menggunakan mikroskop stereo.
Di laboratorium, proses identifikasi dilakukan secara bertahap dengan mengamati karakter morfologi spesimen menggunakan mikroskop stereo. Pengamatan diawali dengan mengenali genus lalat, kemudian dilanjutkan dengan memperhatikan karakter yang lebih spesifik sebagai dasar penentuan spesies.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa spesimen memiliki tubuh berwarna hijau kebiruan metalik yang mengilap serta spirakel toraks berwarna putih keabu-abuan hingga putih keperakan. Berdasarkan karakter morfologi tersebut, spesimen diidentifikasi sebagai Chrysomya rufifacies, salah satu spesies lalat dari famili Calliphoridae.
Melalui proses identifikasi tersebut, mahasiswa juga belajar bahwa tidak semua lalat identik dengan organisme yang merugikan. Chrysomya rufifacies merupakan salah satu serangga dekomposer yang membantu mempercepat proses penguraian bangkai secara alami. Perannya membantu mengembalikan bahan organik ke lingkungan sehingga keseimbangan ekosistem dapat tetap terjaga. Pengalaman tersebut memberikan sudut pandang baru bahwa organisme yang sering dianggap mengganggu ternyata memiliki fungsi penting dalam kehidupan.
Setelah proses identifikasi selesai, spesimen tidak langsung dibuang. Lalat kemudian dipreservasi menggunakan teknik pinning, yaitu memasang spesimen pada jarum entomologi dan papan styrofoam agar bentuk tubuh serta karakter morfologinya tetap terjaga. Teknik ini umum digunakan dalam bidang entomologi untuk menyimpan spesimen sebagai koleksi referensi.
Spesimen yang telah dipreservasi selanjutnya disimpan sebagai koleksi Laboratorium Parasitologi Veteriner FKH UNAIR. Selain menjadi dokumentasi hasil praktikum, koleksi tersebut juga dimanfaatkan sebagai media pembelajaran dan referensi identifikasi bagi mahasiswa pada kegiatan praktikum maupun surveilans lapangan berikutnya. Dengan mengamati spesimen asli, mahasiswa dapat mempelajari karakter morfologi berbagai jenis serangga secara lebih mudah dibandingkan hanya melalui gambar atau literatur.
Bagi mahasiswa PPDH, pengalaman ini menjadi pengingat bahwa pembelajaran tidak selalu dimulai dari buku maupun ruang laboratorium. Lingkungan sekitar juga menyimpan banyak fenomena yang dapat dipelajari apabila diamati dengan rasa ingin tahu. Melalui kegiatan surveilans lapangan, identifikasi morfologi, hingga pembuatan koleksi spesimen, mahasiswa tidak hanya mengembangkan keterampilan diagnostik, tetapi juga belajar memahami bahwa setiap organisme memiliki perannya masing-masing dalam menjaga keseimbangan alam.
Pembelajaran tersebut sejalan dengan pendekatan One Health yang menekankan keterkaitan antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Selain meningkatkan kompetensi mahasiswa melalui pembelajaran berbasis pengalaman, kegiatan ini juga mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui peningkatan kesadaran terhadap kesehatan lingkungan, SDG 4 (Quality Education) melalui pembelajaran berbasis praktik, serta SDG 15 (Life on Land) melalui upaya mengenali keanekaragaman hayati dan memahami peran setiap organisme dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Penulis: Anisa Qurota Ayun (Mahasiswa PPDH Gelombang XLV Tandem 3)
Editor: Mochamad Arifudin (Divisi Parasitologi Veteriner)




