Universitas Airlangga Official Website

ENDOSKOPI PADA TRENGGILING DI RUMAH SAKIT HEWAN PENDIDIKAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Rumah Sakit Hewan Pendidikan Universitas Airlangga merupakan fasilitas kesehatan hewan yang menerima segala jenis pasien atau hewan. Kamis, 18 September 2025 datang pasien Trenggiling dari konservasi Taman Safari Indonesia datang dengan keluhan keluar ingus terus menerus sejak lima hari yang lalu. Terdapat dypsneu pada pernapasan ekspirasi dan inspirasi. Sebelumnya trenggiling juga mengalami diare, tetapi sudah sembuh. Sudah diberi pengobatan tetapi tidak sembuh-sembuh. Pengobatan yang diberikan seperti bromhexine, predsnisolone, dan doxycycline. Akan tetapi hingga dibawa ke Rumah Sakit Hewan Pendidikan Universitas Airlangga trenggiling tetap mengalami kesulitan bernapas karena ingus keluar banyak.

Prosedur Rumah Sakit Hewan Pendidikan Universitas Airlangga mengharuskan kita untuk melakukan anamnesis dan juga pemeriksaan fisik. Pada pemeriksaan fisik tidak dapat dilaksanakan dengan sempurna karena trenggiling merupakan hewan yang pemalu. Tujuan trenggiling dibawa ke Rumah Sakit Hewan Universitas Airlangga adalah untuk diperiksa penyebab dari penyakit pernapasan yang tak kunjung sembuh. Pihak Taman Safari Indonesia menginginkan dilakukan X-Ray, tes darah lengkap, endoskopi, bahkan jika belum ditemukan menggunakan ultrasonografi. Dikarenakan trenggiling merupakan hewan pemalu yang melingkarkan badannya seperti bola, maka dilakukan anestesi dengan menggunakan zoletil. Setelah anestesi bekerja pada trenggiling, trenggiling langsung dilakukan foto X-Ray. Setelah dilakukan X-Ray, dilanjutkan dengan tes darah lengkap. Pengambilan darah diambil dari vena saphenous. Setelah itu dilakukan endoskopi pada trenggiling di kedua lubang hidungnya. Endoskopi dilakukan bersama Dr. Miyayu Soneta Sofyan, drh., M.Vet. dan dibantu dengan paramedis Mas Bayu, Mas Wildan dan Mba Siti. Endoskopi dilakukan untuk mengetahui apakah penyebab dari penyakit pernapasan yang tidak kunjung sembuh. Pihak Taman Safari Indonesia meminta untuk dapat melihat hingga area trakea. Endoskopoi awalnya dilakukan dengan lancar. Lalu, efek anestesi pada trenggiling mulai hilang dan trenggiling mulai bergerak. Tanpa disadari ternyata trenggiling memiliki tenaga yang besar sehingga diperlukan beberapa orang untuk me-restraint trenggiling. Endoskopi tetap dilanjutkan, tetapi hanya sampai daerah epiglotis. Pada poemeriksaan endoskopi hanya ditemukan peradangan dan tidak ditemukan pertumbuhan jamur seperti yang diduga dari pihak Taman Safari Indonesia. Trenggiling pulang dengan diberikan doxycycline dan diberikan saran untuk dilakukan pemberian oksigen, nebulisasi, dan dilanjutkan terapi dengan menggunakan doxycycline.

Kasus ini tidak hanya mencerminkan layanan kesehatan hewan, tetapi juga terkait erat dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs):

  • SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera – Menjamin kesehatan hewan satwa liar yang juga berimplikasi pada keseimbangan ekosistem dan kesehatan masyarakat.
  • SDG 15: Ekosistem Daratan – Perlindungan trenggiling sebagai satwa dilindungi berkontribusi pada konservasi keanekaragaman hayati.
  • SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan – Kolaborasi RSHP UNAIR dengan Taman Safari Indonesiamenunjukkan sinergi nyata dalam konservasi dan pelayanan medis satwa liar.

Dengan fasilitas modern serta tim medis berpengalaman, RSHP UNAIR terus memperkuat perannya sebagai pusat layanan, pendidikan, dan penelitian veteriner yang berkontribusi langsung pada kesehatan satwa, kesejahteraan masyarakat, dan pelestarian lingkungan.

Penulis: Tantyo Bagus Widyatmoko