Universitas Airlangga Official Website

Nekropsi pada Alpaca: Proses dan Kontribusi terhadap Keberlanjutan

Pengertian Nekropsi
Nekropsi adalah teknik yang digunakan untuk mengetahui penyebab kematian hewan. Selain untuk menentukan faktor penyebab kematian, nekropsi juga dapat digunakan untuk menilai dampak suatu penelitian terhadap organ hewan coba. Proses ini harus dilakukan segera setelah kematian hewan guna mencegah degenerasi jaringan.

Pada tanggal 18 November 2024, seekor alpaca dengan penyebab kematian yang tidak diketahui dibawa ke Rumah Sakit Hewan Universitas Airlangga untuk dilakukan nekropsi. Prosedur ini dilakukan secara sistematis di Departemen Patologi Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, mulai dari pemeriksaan organ luar hingga organ dalam guna memperoleh diagnosa yang akurat.

Prosedur Nekropsi
Pemeriksaan nekropsi dimulai dengan inspeksi terhadap organ luar, yang mencakup:

  • Kepala: Pemeriksaan mata, konjungtiva, hidung, telinga (termasuk lubang telinga), serta mulut (bibir, gusi, dan lidah) untuk melihat adanya erosi, borok, lepuh, atau perubahan warna.
  • Kulit: Inspeksi dilakukan untuk mendeteksi adanya parasit eksternal.
  • Leher dan tubuh: Pemeriksaan terhadap kelenjar getah bening superfisial, tulang rusuk, panggul, perut bagian bawah, kulup, anus, vulva, dan ekor.
  • Anggota tubuh: Pemeriksaan dilakukan untuk mendeteksi luka dan pembengkakan, termasuk pada ruang interdigital, mahkota, serta sendi.

Setelah pemeriksaan organ luar selesai, tahap selanjutnya adalah pembedahan untuk membuka rongga dada hingga rongga abdomen. Posisi hewan dalam prosedur ini adalah berbaring miring ke kiri (sisi kiri menghadap ke bawah). Tahapan yang dilakukan meliputi:

  • Merentangkan anggota gerak depan dan belakang, kemudian membuat sayatan di daerah lipat paha dan bahu untuk mempermudah proses nekropsi.
  • Menguliti bagian ventral dan lateral dengan hati-hati agar tidak merusak struktur vena jugularis.
  • Membuka rongga perut dengan membuat irisan melalui linea alba mediana dari prosesus xyphoideus hingga daerah pubis, serta irisan melintang dari linea mediana dekat tulang rusuk terakhir hingga daerah punggung.
  • Membuka rongga dada dengan memotong os costae dari costae terakhir hingga costae pertama pada sisi kanan dan kiri, lalu memeriksa organ dalam rongga dada.
  • Memeriksa organ dalam rongga dada dan rongga perut secara menyeluruh untuk mengidentifikasi adanya perubahan patologis. Beberapa organ diambil sebagai sampel untuk analisis histologi guna menegakkan diagnosis lebih lanjut.

Kontribusi Nekropsi terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)
Nekropsi pada alpaca tidak hanya bertujuan untuk mengetahui penyebab kematian, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap beberapa poin dalam Sustainable Development Goals (SDGs):

  1. SDG 3: Good Health and Well-Being
    Dengan memahami penyebab kematian hewan, dokter hewan dapat mencegah penyebaran penyakit zoonosis serta meningkatkan kesehatan hewan dan manusia.
  2. SDG 12: Responsible Consumption and Production
    Nekropsi memungkinkan penelitian lebih lanjut tentang penyakit dan faktor risiko yang dapat mempengaruhi keberlanjutan peternakan alpaca, sehingga mendukung produksi ternak yang lebih bertanggung jawab.
  3. SDG 15: Life on Land
    Melalui nekropsi, konservasi spesies alpaca dapat lebih diperhatikan dengan mengidentifikasi penyakit yang dapat memengaruhi populasi mereka serta merancang strategi pencegahan yang lebih baik.

Dengan pelaksanaan nekropsi yang sistematis dan berbasis penelitian, sektor kedokteran hewan dapat terus berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan hewan, menjaga ekosistem, dan mendukung prinsip pembangunan berkelanjutan. Proses ini juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa kedokteran hewan untuk belajar secara langsung mengenai diagnostik penyakit dan meningkatkan kompetensi mereka dalam dunia klinis.

 

Penulis: Isnaini