Selama menjalani program kepaniteraan klinik di Rumah Sakit Hewan Pendidikan Universitas Airlangga (RSHP UNAIR)Surabaya, dalam kurun waktu beberapa minggu saya mendapatkan banyak pengalaman bermakna yang mencakup keterampilan teknis, pemahaman manajemen, serta penanganan kasus klinis yang unik. Lingkungan rumah sakit pendidikan ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk terlibat langsung dalam pelayanan pasien hewan, sekaligus belajar dari kasus nyata yang beragam.
Pertama, saya mendalami manajemen rumah sakit hewan mulai dari alur registrasi pasien, penanganan awal, hingga tindakan medis dan monitoring. Salah satu pengalaman penting terjadi di ruang X-ray lantai 3, tempat saya belajar tentang manajemen radiologi. Pasien hewan diposisikan di atas kaset X-ray dengan teknik tertentu sesuai kebutuhan, misalnya lateral (LD), ventro-dorsal (VD), atau dorso-ventral (DV). Proses ini menekankan pentingnya posisi yang tepat untuk menghasilkan gambar diagnostik yang akurat, sekaligus memastikan keselamatan pasien dan operator.
Dalam praktik klinis, saya banyak menjumpai kasus yang jarang ditemui. Salah satunya adalah hemoroid pada musang pandan bernama Broni. Kasus ini menarik karena hemoroid relatif jarang ditemukan pada satwa liar, sehingga menjadi pengalaman berharga dalam menambah wawasan. Broni kemudian menjalani tindakan operasi untuk mengatasi kondisi tersebut, dan saya dapat mengamati serta memahami prosedur penanganannya dari tahap persiapan, anestesi, hingga tindakan bedah.
Pengalaman lain yang mendalam adalah menangani wound healing pada kucing bernama Kimmy yang menjalani perawatan opname selama enam hari. Luka Kimmy ditangani setiap dua hari sekali bersama drh. Lina. Prosedur perawatan dimulai dengan debridement, yaitu mencabut jaringan nekrosis berwarna kehitaman menggunakan pinset. Setelah itu luka dibersihkan secara bertahap menggunakan NaCl sebagai irigasi awal, Hâ‚‚Oâ‚‚ untuk membantu mengangkat debris, betadine sebagai antiseptik, nebacetin powder sebagai antibiotik lokal, lalu ditutup dengan kasa steril, perban, dan vet wrap (Mediplex). Penanganan ini dilakukan berulang untuk mempercepat regenerasi jaringan sekaligus mencegah infeksi sekunder. Dari kasus ini saya belajar pentingnya kesabaran, ketelitian, dan konsistensi dalam proses penyembuhan luka.
Saya juga mendapat kesempatan untuk melakukan abdominocentesis pada kucing Bron yang terdiagnosis Feline Infectious Peritonitis (FIP). Prosedur dilakukan karena terdapat akumulasi cairan di rongga abdomen yang menimbulkan ketidaknyamanan. Dengan teknik aseptik, jarum dan spuit dimasukkan ke bagian abdomen untuk mengeluarkan cairan. Sampel cairan kemudian diuji menggunakan Rivalta test yang hasilnya positif, sehingga memperkuat diagnosis FIP. Prosedur ini mengajarkan saya keterampilan praktis sekaligus pemahaman mengenai diagnostik penyakit infeksius pada kucing.
Selain itu, pengalaman yang cukup menantang adalah saat jaga di IGD, ketika datang pasien kucing dengan prolaps uteri. Kondisi uterus terlihat membesar dan keluar dari vagina. Penanganan awal dilakukan dengan cara dikompres menggunakan es dan ditaburi gula untuk mengurangi edema jaringan. Setelah ukurannya mengecil, uterus kemudian direposisi secara hati-hati dan dijahit dengan teknik purse string untuk mencegah prolaps berulang. Kasus ini menunjukkan pentingnya penanganan cepat, tepat, dan terkoordinasi dalam keadaan darurat.
Di luar praktik klinis, saya juga mengikuti kegiatan demonstrasi One Health (OH) dan praktikum kelompok. Kegiatan ini menekankan pentingnya keterpaduan antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan dalam menjaga keseimbangan ekosistem kesehatan. Praktikum dilakukan bersama teman satu kelompok, melatih kerja sama, komunikasi, serta keterampilan dasar yang dapat diaplikasikan pada pasien. Dari keseluruhan pengalaman ini, saya menyadari bahwa coass di RSHP UNAIR tidak hanya memberikan bekal keterampilan teknis, tetapi juga membentuk kemampuan berpikir kritis, manajemen kasus, serta empati terhadap pasien hewan. Setiap kasus mulai dari radiologi, bedah, penyakit infeksi, perawatan luka, hingga emergensi menjadi pembelajaran yang berharga dan mendalam. Saya berharap pengalaman ini dapat terus saya kembangkan dan semoga beberapa tahun mendatang saya bisa merefleksi kembali perjalanan ini dengan pencapaian yang lebih matang.
Selama menjalani program koasistensi klinik di RSHP UNAIR, saya menyadari bahwa setiap pengalaman klinis turut berkontribusi pada pencapaian SDGs, khususnya SDG 3 (Good Health and Well-Being) melalui peningkatan kesehatan hewan yang berdampak pada kesehatan masyarakat, SDG 4 (Quality Education) dengan terselenggaranya pendidikan kedokteran hewan berbasis praktik nyata, serta SDG 15 (Life on Land) melalui penanganan satwa liar dan pelestarian keanekaragaman hayati. Pengalaman ini menegaskan bahwa peran dokter hewan tidak hanya sebatas mengobati hewan, tetapi juga menjaga keseimbangan manusia, hewan, dan lingkungan sesuai konsep One Health.
Penulis: Vannya Salsabila Putri




