Universitas Airlangga Official Website

Menilik Pengaruh Asian Folklore bagi Kehidupan Masyarakat Melalui Kuliah Tamu FISIP

Surabaya – Humas | FISIP Unair kembali menyelenggarakan kuliah tamu pada Jumat (10/02/2023). Kali ini, FISIP Unair mengundang Prof. Ülo Valk, seorang profesor dari Estonian and Comparative Folklore Department, University of Tartu. Ülo memiliki fokus studi di bidang kepercayaan lokal, place-lore, dan folklore dalam konteks sosial. Ülo menyampaikan kuliahnya yang bertajuk “Asian Folklore and How It Affects Society”.

Ülo memulai kuliah tamu dengan mendefinisikan “folk” terlebih dahulu. Ülo mengambil pendapat dari Alan Dundes (1934-2005) yang mengatakan bahwa folk merupakan sekelompok orang yang berbagi setidaknya satu kesamaan, seperti pekerjaan, bahasa, dan agama. Namun, yang terpenting adalah mereka memiliki kesamaan tradisi yang menjadi milik mereka.

Di era sekarang, folklore merupakan sebuah hal yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat. Lebih jauh lagi, terdapat hubungan timbal balik antara tradisi dan lingkungan sosial. Salah satu folklore yang dapat ditemui sampai saat ini berupa place-lore. Menurut Ülo, place-lore merupakan sebuah tempat yang memiliki keterikatan dengan suatu kelompok baik secara emosional maupun historis. 

Ülo mencontohkan Makam Sunan Ampel yang menjadi salah satu place-lore di Surabaya. “Saya pernah ke Makam Sunan Ampel di mana saya melihat banyak peziarah yang beramai-ramai berkunjung ke sana. Mereka doa bersama, membaca Quran bersama, dan lain sebagainya,” ujar Ülo di tengah presentasinya. 

Selain itu, folklore dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai siapa mereka dan dari mana asal mereka. Lebih jauh lagi, folklore dapat menjadi media perlawanan bagi masyarakat. Oleh karena itu, pada masa pemerintahan komunis Soviet, folklore begitu dibatasi dengan alasan politik. Tujuan mereka tentu untuk menghilangkan rasa kesadaran dari masyarakat.

Sebagai penutup, Ülo mengatakan bahwa mempelajari folklore dapat melalui berbagai pendekatan, seperti melalui orientasi etnografi, kepercayaan, institusi agama, realita sosial, lingkungan sosial, hingga komunikasi dalam masyarakat. Secara tidak langsung, folklore menggambarkan norma yang berlaku di masyarakat dan bagaimana folklore membawa nilai-nilai yang dianut masyarakat. 

Kuliah tamu dari Prof. Ülo Valk mendapat antusias yang cukup tinggi dari para peserta. Beberapa peserta kuliah tamu melakukan tanya jawab dengan Ülo terkait masa depan folklore dan bagaimana para mahasiswa mengambil peran dalam melestarikan folklore. “Terima kasih banyak sudah datang ke sini. Semoga materi saya bermanfaat untuk studi kalian ke depannya,” imbuh Ülo sembari menutup sesi kuliah tamu.

Artikel ini merefleksikan nilai SDGs ke-4 Quality Education dan ke-17 Partnership for the Goals (AS).