Universitas Airlangga Official Website

Beras Oplosan, Tarif Trump, dan Aksi Kepahlawanan dari Timur Jawa: Obor Harapan di Tengah Pusaran Gejolak

Dunia saat ini tengah berada dalam pusaran dinamika yang menguji ketahanan kita. Dari meja makan rumah tangga hingga ruang rapat diplomasi internasional, tak henti-hentinya berita datang silih berganti—sebagian menimbulkan tanya, sebagian memantik kekhawatiran. Namun, di antara gempuran kabar yang mengusik ketenangan, tetap ada nyala kecil yang tak kunjung padam: harapan.

Harapan itu datang dari mereka yang kerap kita sebut sebagai masa depan bangsa—para pemuda Indonesia.


Antara Beras Oplosan dan Tarif Trump

Beberapa waktu lalu, publik dikejutkan oleh terungkapnya praktik beras oplosan yang merugikan masyarakat kecil. Bukan sekadar soal kualitas bahan pokok, namun ini menyangkut integritas sistem distribusi pangan nasional. Praktik ini mencederai kepercayaan publik, memperlihatkan bahwa bahkan kebutuhan paling mendasar pun tak luput dari penyimpangan.

Tak hanya itu, dunia internasional pun tak kalah bergejolak. Keputusan Donald Trump untuk memangkas tarif impor sebesar 19 persen menjadi sorotan tajam. Kebijakan ini menuai kekhawatiran luas atas stabilitas perdagangan global, terlebih bagi negara berkembang seperti Indonesia. Dalam konteks globalisasi ekonomi, kebijakan satu negara bisa berdampak sistemik bagi banyak lainnya.

Dua peristiwa ini—meskipun berasal dari ruang yang berbeda—sama-sama mengingatkan kita betapa rentannya sistem yang menopang kehidupan kita. Bahwa ketidakadilan dan disrupsi bukan sekadar kemungkinan, melainkan kenyataan yang harus dihadapi.


Secercah Cahaya dari Timur Jawa

Namun, di tengah kabar yang mengguncang itu, muncul sebuah kisah kepahlawanan yang tak banyak disorot. Dari perairan Selat Madura, saat musibah tenggelamnya KMP Tunu Jaya Pratama menyita perhatian publik, sekelompok mahasiswa dari Program Magister Ilmu Forensik Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (Unair) hadir memberikan kontribusi nyata.

Tanpa sorotan kamera, mereka bergabung dalam tim Disaster Victim Identification (DVI) di RSUD Blambangan dan Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Mereka membantu proses identifikasi jenazah dengan keahlian forensik yang mumpuni—mulai dari dokumentasi, pencocokan data postmortem, hingga pendampingan emosional.

Apa yang mereka lakukan bukan sekadar praktik keilmuan. Ia adalah manifestasi nyata dari empati, dedikasi, dan semangat pengabdian. Di saat banyak pihak bertanya-tanya apa yang bisa dilakukan untuk membantu, mereka memilih untuk bertindak.


Generasi Baru, Energi Baru

Kisah ini adalah pengingat bahwa harapan itu masih ada. Bahwa di tengah kekacauan, selalu ada insan-insan muda yang memilih untuk berbuat, bukan mengutuk keadaan. Mereka adalah representasi dari generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga peka terhadap panggilan kemanusiaan.

Dalam dunia yang semakin kompleks—diwarnai disrupsi teknologi, ketidakpastian iklim, hingga geopolitik yang rapuh—kita tak punya pilihan lain selain percaya pada generasi baru ini. Mereka adalah penjelajah zaman yang akan merumuskan solusi, menggagas inovasi, dan menjahit ulang jalinan persaudaraan yang mulai kusut.


Obor yang Tak Pernah Padam

Beras oplosan dan tarif impor memang menyiratkan betapa peliknya tantangan yang kita hadapi. Tapi tindakan nyata mahasiswa forensik Unair menjadi antitesis dari ketakberdayaan itu. Ia menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan bukan hanya milik menara gading, tapi bisa menjadi lentera kemanusiaan.

Dengan gotong royong, keberanian bertindak, dan kepedulian yang tulus, para pemuda ini menyalakan obor yang tak akan padam. Justru dalam gelap, nyalanya semakin terang—menjadi pemandu jalan menuju masa depan yang lebih adil, lebih beradab, dan lebih manusiawi.

🌟 Karena dalam setiap gejolak, selalu ada sekelompok jiwa yang memilih menjadi cahaya.

Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =
(Instagram, YouTube, Facebook, LinkedIn, Twitter, Spotify, TikTok)