Sekolah Pascasarjana (SPS) Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menegaskan komitmennya mencetak lulusan berdampak dalam Penggelaran Calon Wisudawan Program Doktor dan Magister pada Jumat (13/6/2025). Acara yang digelar di Gedung Putih SPS UNAIR ini menjadi momen simbolis penting menjelang prosesi Wisuda ke-252 UNAIR, Sabtu (14/6/2025).
Acara dibuka oleh Prof. Badri Munir Sukoco, SE., MBA., Ph.D., Direktur SPS UNAIR, dan dihadiri jajaran pimpinan seperti Wakil Direktur I Prof. Dr. Rudi Purwono, SE., M.SE., serta Ketua Satuan Penjaminan Mutu Prof. Dr. Nunuk Dyah RL.
Kampus Berdampak, Bukan Sekadar Bergelar
Dalam sambutannya, Prof. Badri menekankan bahwa kampus hari ini dituntut lebih dari sekadar mencetak lulusan bergelar akademik. SPS UNAIR, katanya, mengusung visi membentuk kepemimpinan transformatif yang berdampak bagi dunia yang lebih baik—visi yang kini selaras dengan kebijakan nasional “Kampus Berdampak” dari Kemendikbudristek.
“Kami ingin lulusan SPS tidak hanya unggul di atas kertas, tapi hadir sebagai solusi nyata bagi persoalan masyarakat,” ujarnya.
Menjawab Tantangan Disintegrasi dan Kepemimpinan Nasional
Mengutip konteks RPJPN 2025–2045, Prof. Badri menyinggung pentingnya visionary leadership di tengah risiko disintegrasi sosial. Ia memberi contoh peristiwa sosial di Los Angeles yang dipicu kebijakan publik yang tidak inklusif, dan mengingatkan bahwa Indonesia harus belajar dari situ.
“Indonesia Emas 2045 bukan sekadar slogan. Ia butuh kepemimpinan yang menyatukan, bukan memecah.”
Produktivitas: Cermin Negara Maju atau Tidak
Dalam bagian pidato yang paling menggugah, Prof. Badri menyoroti tantangan besar bangsa Indonesia: produktivitas kerja. Berdasarkan data International Labour Organization (ILO), pendapatan per jam pekerja Indonesia hanya 16 dolar, jauh tertinggal dari Singapura (98 dolar) dan China (19 dolar)—yang bekerja dengan sistem 9-9-6 (9 pagi hingga 9 malam, 6 hari seminggu).
“Kita hanya 45% dari China dalam produktivitas. Kalau mau jadi negara maju, tidak ada jalan pintas—budaya kerja harus dibenahi,” tegas pakar manajemen strategi ini.
Ia juga menyoroti hasil studi Harvard yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara paling bersyukur, namun mengingatkan:
“Rasa syukur itu bagus, tapi harus naik level: bukan pasrah, melainkan menjadi energi untuk menciptakan nilai tambah.”
Wisuda: Awal dari Jalan Pengabdian
Acara penggelaran ditutup dengan pengingat bahwa gelar akademik bukanlah puncak, melainkan gerbang awal kontribusi. Para calon wisudawan akan resmi dikukuhkan oleh Rektor UNAIR, Prof. Dr. Mohammad Nasih keesokan harinya.
“Ilmu bukan untuk disimpan, tetapi untuk diterapkan. Tantangan sesungguhnya justru dimulai setelah keluar dari kampus,” pungkas Prof. Badri.
Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =
(Instagram, YouTube, Facebook, LinkedIn, Twitter, Spotify, TikTok)




