Candida albicans merupakan flora normal rongga mulut pada manusia, yang tidak berbahaya. Pada orang sehat, sekitar 40-60% Candida albicans terdeteksi di rongga mulut dan saluran pencernaan. Namun, beberapa faktor seperti gangguan sistem imun atau penggunaan obat-obatan dapat menyebabkan jamur ini menjadi berbahaya, berpotensi menimbulkan penyakit. Jamur ini dapat menyebabkan kandidiasis oral dan penyakit periodontal sebagai infeksi oportunistik di rongga mulut. Temuan klinis kandidiasis oral di rongga mulut meliputi kandidiasis pseudomembranosa, kandidiasis eritematosa, kandidiasis hiperplastik kronis, glositis romboid median, stomatitis denture, dan cheilitis angular.
Sekitar 50% populasi normal memiliki Candida albicans sebagai flora normal di rongga mulut, terutama di bagian posterior punggung lidah. Candida albicans dapat bertransisi menjadi keadaan patogenik ketika sistem kekebalan tubuh inang terganggu atau berkurang seperti pada AIDS dan diabetes melitus. Berdasar sebuah penelitian, kandidiasis oral sering diamati pada individu dengan acquired immunodeficiency syndrome (AIDS), dengan prevalensi yang dilaporkan mencapai 95%. Data terbaru pada tahun 2022 mengenai jumlah kumulatif pasien AIDS di Indonesia adalah 137.397 kasus. Pada pasien kanker, dilaporkan bahwa sekitar 7-52% kasus kandidiasis oral melibatkan kanker kepala dan leher.
Pengobatan utama untuk kandidiasis oral saat ini adalah dengan obat anti jamur topikal dan sistemik. Obat topikal yang paling sering digunakan adalah nystatin, miconazole, ketoconazole, dan troches clotrimazole1. Pada tahap selanjutnya, pasien dapat diberikan obat oral, yaitu flukonazol, ketokonazol, itrakonazol dan beberapa kelompok azol lainnya. Dengan potensi daya hambat yang baik, namun jenis obat azol ini memiliki efek samping. Efek samping yang dapat terjadi akibat penggunaan nistatin di rongga mulut adalah sensasi terbakar atau nyeri di rongga mulut, perubahan rasa pada lidah, juga kemerahan dan gatal di area yang diobati. Flukonazol memiliki efek samping sakit kepala, mual dan muntah, diare, pusing, mulut kering dan kemerahan pada kulit. Persepsi tentang keamanan serta efek samping negatif yang timbul dari obat konvensional merupakan alasan kuat bagi orang untuk beralih kembali ke obat tradisional atau obat herbal. Pepaya adalah tanaman tropis yang tumbuh luas di Indonesia karena tanaman pepaya dapat tumbuh di berbagai musim. Total produksi pepaya pada tahun 2011 menempati peringkat ke-6 dalam produksi buah di Indonesia. Karena ketersediaannya yang melimpah di Indonesia, tanaman pepaya mudah didapatkan. Tanaman pepaya dikenal memiliki banyak manfaat karena mengandung fitokimia, enzim, polisakarida, vitamin, dan mineral. Uji analisis fitokimia biji pepaya menunjukkan hasil positif untuk kandungan alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, fenol, dan steroid. Pada daun pepaya, pemeriksaan fitokimia menunjukkan hasil positif untuk kandungan flavonoid, alkaloid, tanin, dan saponin.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa daun pepaya unggul dalam kandungan flavonoid, tetapi kandungan alkaloid ditemukan lebih tinggi pada bijinya. Bila ekstrak daun dan biji papaya dikombinasikan, dapat menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans, sehingga bisa dikatakan bahwa kombinasi ekstrak daun dan biji papaya memiliki potensi anti jamur terhadap Candida albicans.
Penulis : Anis Irmawati.
Artikel ini bisa diakses di :
www.rjptonline.org
Research J. Pharm. and Tech. 18(12): December 2025, pp.5655-5662
DOI: 10.52711/0974-360X.2025.00817
ISSN: 0974-3618 (Print)
0974-360X (Online)





