Penggunaan produk berbasis tembakau seperti rokok menjadi salah satu masalah kesehatan dunia karena berdampak pada penggunanya maupun masyarakat yang terpapar. Masalah penggunaan rokok ini secara signifikan memicu berbagai penyakit hingga meningkatkan angka kematian. Perokok aktif jumlahnya selalu meningkat tiap tahun. Pada tahun 2020, pengguna rokok tercatat sekitar 32.6% pada laki-laki dan 6.5% pada wanita dengan angka kematian 7 juta jiwa. Berbagai langkah telah dilakukan untuk menurunkan penggunaan rokok, seperti edukasi, akan tetapi kecenderungan seseorang yang menggunakan rokok secara terus-menerus diakibatkan oleh adiksi/kecanduan yang terjadi.
Kecanduan atau adiksi terhadap rokok diakibatkan oleh salah satu komponen penyebab adiksi, seperti nikotin. Nikotin mampu memengaruhi area penghargaan di otak yang disebut dengan mesolimbic pathways dengan meningkatkan pelepasan neurotransmitter dopamin. Pada kondisi normal, sistem ini memang terjadi untuk menciptakan perasaan senang terhadap sesuatu, akan tetapi nikotin bersifat adiktif yang menyebabkan perubahan pada neurotransmitter melalui pengaruhnya terhadap neurotransmitter penghambatnya, yaitu GABA. Penggunaan secara terus-menerus menyebabkan perubahan keseimbangan yang mana terjadi penurunan sensitivitas dari reseptor GABA di neuron dopamin. Penghentian senyawa ini secara mendadak tidak sesederhana meminta seseorang untuk berhenti, karena sistem penghargaan telah berubah sehingga menyebabkan kondisi yang tidak nyaman yang dikenal dengan nicotine withdrawal (gejala putus nikotin). Perubahan yang terjadi adalah gangguan kognitif. Salah satu jalur yang terlibat adalah KYNA. KYNA dapat meningkat ketika terdapat enzim KAT 2. Peningkatan KYNA di hipokampus dapat menyebabkan penurunan kognitif.
Penelitian oleh Rahmadi dkk., (2026) melakukan elaborasi potensi GL terhadap kondisi nicotine addiction dan nicotine withdrawal. GL merupakan salah satu komponen yang terdapat pada akar manis (liqorice). Hasil penelitian menunjukkan hasil yang positif, di mana GL mampu menurunkan kondisi adiksi dan gejala putus nikotin. Selain itu, GL juga mampu memperbaiki gangguan kognitif akibat withdrawal dengan hasil positif penghambatan terhadap enzim KAT 2 yang berperan pada pembentukan KYNA. Penelitian dibangun dari potensi GL yang memiliki potensi antioksidan dan neuroprotektif. Dengan potensi ini, penelitian ini membuktikan bahwa GL memiliki efek langsung terhadap kondisi adiksi dan gejala putus nikotin. Penelitian ini menjadi penelitian pertama dalam menganalisis GL pada kondisi nicotine addiction dan nicotine withdrawal. Ini memberikan harapan terhadap perkembangan pengobatan terhadap penanganan nicotine addiction dan nicotine withdrawal serta kajian lebih lanjut untuk mendukung potensi senyawa ini pada kondisi ini.
Ditulis oleh Mahardian Rahmadi, Ph.D.
Berdasarkan publikasi Rahmadi et al. (2026) pada Journal of Advanced Pharmaceutical Technology & Research, Vol. 17(2): halaman 128–134





