Peningkatan resistensi bakteri-bakteri patogen terhadap antibiotik menjadi permasalahan serius di seluruh dunia. Berbagai antibiotik baru mulai dari sintetis hingga alami terus diteliti dan dikembangkan untuk mengatasi pemenuhan kebutuhan antibiotik lain yang dinilai sudah tidak efektif dalam mengatasi patogen, akan tetapi penggunaan antibiotik sintetis dapat menimbulkan efek samping jangka pendek maupun jangka panjang yang berbahaya bagi manusia. Sehingga saat ini, penelitian-penelitian difokuskan pada pengembangan senyawa aktif antimikroba alami yang dapat diperoleh dari tanaman maupun dari mikroorganisme. Kelemahan dari penggunaan senyawa aktif dari tanaman adalah membutuhkan lahan luas, waktu lama, dan pasokan yang terbatas sehingga memungkinkan panen berlebihan yang mengarah pada kepunahan. Sementara itu, senyawa aktif tidak hanya dihasilkan oleh tanaman, tetapi juga dapat dihasilkan oleh mikroorganisme yang tumbuh dalam jaringan tanaman atau bakteri endofit. Bakteri endofit dikenal kemampuannya dalam memproduksi beragam metabolit sekunder seperti alkaloid, benzopiranon,
benzoquinone, flavonoid, fenol, steroid, terpenoid, tetralon, dan xanton dimana golongan-golongan senyawa tersebut memiliki potensi sebagai antibakteri, antifungi, bahkan sebagai antimikroba. Pemanfaatan bakteri endofit ini sangat menguntungkan dalam memproduksi senyawa metabolit sekunder yang memiliki aktivitas antimikroba dalam skala yang besar, dengan waktu yang relatif singkat dan menghemat biaya produksi, serta mencegah kepunahan tanaman akibat panen berlebihan dalam produksi skala besar. Pada tahun 2019, Fatimah dkk telah berhasil mengisolasi 61 bakteri endofit dari tumbuhan mangrove Pantai Kutang Lamongan, dan pada tahun 2021 telah menguji kemampuan isolat-isolat tersebut dalam menghambat 3 mikroba patogen yaitu Escherichia coli (perwakilan kelompok bakteri Gram negatif), Staphylococcus aureus (Perwakilan Kelompok Gram Posistip), dan Candida albicans (perwakilan kelompok jamur). Penelitian kali ini menguji kemampuan ke 61 isolat dalam menghambat 3 mikroba patogen tersebut. Metode yang digunakan adalah metode standard difusi cakram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Isolat LMG-2 yang teridentifikasi sebagai Bacillus amilolyquefasciens LMG-2 menunjukkan potensi tertinggi dalam menghambat bakteri dan tidak pada jamur. Untuk pengembangan ke depannya, B. amilolyquefasciens LMG-2 diupayakan untuk dapat direkayasa dalam produksinya dan dilakukan sintesis senyawa bioaktif untuk pengembangan antibiotik baru yang sejalan dengan tujuan pembangunan yang berkelanjutan, khususnya kehidupan yang sehat dan sejahtera.
Penulis: Fatimah, Nazil Dwi Rahayuningtyas, Alifah Nastiti, Dela Dwi Alawiyah, Rico Ramadhan, Almando Geraldi
Link Jurnal: https://smujo.id/biodiv/article/view/17380/7862
Baca juga: Pemanfaatan Biokultur Ekosistem Hutan Mangrove di Asia Tenggara





