Universitas Airlangga Official Website

Potensi Perlindungan Kurkumin pada Tubulus Seminiferus Mencit yang Diinduksi oleh Timbal Asetat

Kurkumin merupakan senyawa polifenol berwarna kuning yang berasal dari rimpang kunyit (Curcuma longa L.) Kurkumin adalah komponen yang paling aktif dari kunyit dan memberikan warna kuning pada kunyit. Kurkumin memiliki rumus molekul C21H20O6 dengan berat molekul 368,37. Kurkumin diakui dan digunakan di seluruh dunia dalam berbagai bentuk untuk berbagai manfaat kesehatan.

Kurkumin juga bertindak sebagai antioksidan dengan efek perlindungan terhadap paparan logam termasuk paparan timbal. Timbal menimbulkan masalah kesehatan dan pencemaran lingkungan di berbagai belahan dunia, timbal telah digunakan secara luas dan penggunaannya bisa terakumulasi di dalam tubuh yang bisa menyebabkan berbagai masalah pada sistem tubuh, termasuk neurologis, hematologis, gastrointestinal, kardiovaskular, kekebalan dan sistem ginjal.

Beberapa penelitian tentang toksisitas timbal telah dilakukan. Efek umum yang terlihat pada pria meliputi: berkurangnya libido, spermatogenesis abnormal (berkurangnya motilitas dan jumlah), kerusakan kromosom, infertilitas, fungsi prostat abnormal, dan perubahan dalam testosteron serum. Timbal asetat secara signifikan meningkatkan malondialdehida dan menurunkan superoksida dismutase, glutathione peroksidase, glutathione total, jumlah sperma dalam testis, cadangan sperma epididimis, persen motilitas sperma, dan persen tingkat kelangsungan hidup sperma.

Peran kurkumin disini bekerja dengan meningkatkan status antioksidan seperti glutathione, glutathione peroksidase dan superoksida dismutase. Selain itu, kurkumin juga mempunyai efek sebagai antioksidan dan chelating-agent dalam melawan paparan atau keracunan logam seperti paparan timbal.

Penelitian yang pernah dilakukan pada tikus yang terpajan timbal, menunjukkan bahwa Kurkumin secara signifikan meningkatkan aktifitas Superoxide Dismutase (SOD) pada cerebellum. Pemberian kurkumin pada tikus dengan model diabetes dapat meningkatkan jumlah, motilitas spermatozoa serta meningkatkan diameter dan ketebalan epitel germline tubulus seminiferus testis.

Berdasarkan hal tersebut, Dr. Reny I`tishom, M.Si. beserta Yeti Mareta Undaryati, M.Kes., dan Prof. Sri Agus Sudjarwo, drh., Ph.D., melakukan penelitian secara eksperimental laboratoris tentang potensi kurkumin dalam melindungi tubulus seminiferus mencit yang diinduksi timbal asetat, dengan tujuan menunjukkan potensi kurkumin dalam mempertahankan diameter dan ketebalan tubulus seminiferus pada tikus yang diinduksi timbal asetat.

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian posttest only control group design. Penelitian ini menggunakan hewan coba mencit BALB/c (Mus musculus), sebanyak 30 mencit dibagi menjadi 5 kelompok. Kelompok N merupakan kelompok kontrol negatif yang tanpa perlakuan. Kelompok P adalah kelompok kontrol positif yang diberi timbal asetat 0,075 g/kgBB sekali sehari selama 35 hari.

Kelompok perlakuan T1, T2 dan T3 yang masing-masing diberi perlakuan kurkumin 100, 200 dan 400 mg/kg BB satu kali sehari selama 3 hari; setelah 3 hari diberi kurkumin 100, 200 dan 400 mg/kg BB; 1 jam kemudian diberi timbal asetat 0,075 g/kg BB sekali sehari selama 35 hari. Terdapat perbedaan bermakna ketebalan epitel tubulus seminiferus antara kelompok P dan kelompok T3, dan terdapat perbedaan bermakna diameter tubulus seminiferus antara kelompok P dengan kelompok T2 dan T3. Dosis kurkumin 200 dan 400 mg/kgBB secara signifikan dapat mempertahankan diameter tubulus seminiferus, dan dosis kurkumin 400 mg/kgBB secara signifikan dapat mempertahankan ketebalan epitel tubulus seminiferus mencit yang diberi timbal asetat.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa induksi timbal asetat pada mencit (kelompok kontrol positif) menurunkan diameter dan tebal epitel tubulus seminiferus dibandingkan kelompok kontrol negatif. Timbal sebagai zat toksik yang masuk ke dalam tubuh kemudian beredar melalui pembuluh darah menuju ke jaringan lunak seperti ke dalam testis dan otak. Timbal di dalam sel otak dan testis sebagai zat toksik mampu mempengaruhi fungsi dan proses di dalam sel-sel tersebut yang akhirnya dapat menyebabkan apoptosis yang berlebihan pada sel otak dan testis dan mengakibatkan berkurangnya diameter dan tebal epitel tubulus seminiferus.

Pemberian kurkumin 200 mg/KgBB dan 400 mg/KgBB secara signifikan dapat mempertahankan diameter tubulus seminiferus mencit yang diinduksi timbal asetat, kurkumin 400 mg/KgBB secara signifikan dapat mempertahankan tebal epitel tubulus seminiferus mencit yang diinduksi timbal asetat. Pemberian Kurkumin 100 mg/KgBB tidak signifikan mempertahankan diameter dan tebal epitel tubulus seminiferous dan pemberian Kurkumin 200 mg/KgBB tidak signifikan mempertahankan diameter, hal ini kemungkinan karena dosis kurkumin yang kurang.

Kurkumin dapat menurunkan aktivitas apoptosis salah satunya berkhelasi dengan Pb, selain berkhelasi dengan logam toksik (Pb), juga berperan sebagai ROS scavenger. Kurkumin menunjukkan aktivitas scavenging terhadap nitric oxide (NO), H2O2 dan anion superoksida.  Kurkumin dengan aktifitasnya sebagai scavenger radikal bebas atau ROS, menyebabkan ROS akan menurun, sehingga tidak terjadi stres oksidatif yang akhirnya tidak terjadi kematian sel (apoptosis) yang berlebihan.

Simpulan dari penelitian ini adalah kurkumin 200 mg / KgBB dan 400 mg / KgBB signifikan mempertahankan diameter tubulus seminiferus, dan kurkumin 400 mg / KgBB secara signifikan mempertahankan ketebalan epitel tubulus seminiferous mencit yang diinduksi timbal asetat.

Penulis: Dr. Reny I’tishom M.Si., Yeti Mareta Undaryati, M.Kes., Prof. Sri Agus Sudjarwo, drh., Ph.D.

Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat di Link: https://tis.wu.ac.th/index.php/tis/article/view/6928