Penyakit malaria masih menjadi problem kesehatan di dunia. World malaria report 2022 melaporkan bahwa terdapat 247 juta kasus malaria di seluruh dunia pada tahun 2021 dibandingkan dengan 245 juta pada tahun 2020. Di Asia Tenggara, parasit penyebab malaria galur Plasmodium falciparum telah resisten terhadap hampir semua obat konvensional. Hal ini mungkin disebabkan oleh kemampuan Plasmodium untuk beradaptasi dengan pemberian obat antimalaria. Data ini menunjukkan kebutuhan mendesak akan obat antimalaria yang efektif.
Cratoxylum merupakan tanaman dari famili Hypericaceae yang menunjukkan aktivitas antimalaria. Tanaman ini dikenal dengan berbagai nama daerah antara lain: kaju arang, sisio pule di Sulawesi; bentaleng, Irat, Manding, Mentialing, Serungan dan Serungan mampat di Kalimantan; maron, rinjung gide, dan wuluan di Jawa; sedangkan di Sumatra dikenal dengan nama garinggang, garunggang, dan kemutun. Penelitian terdahulu telah melaporkan uji aktivitas antimalaria dengan metode uji LDH dan metode uji secara mikroskopis. Diperoleh hasil bahwa ekstrak diklorometana dari kulit batang Cratoxylum sumatranum menunjukkan aktivitas antimalaria yang kuat dengan nilai IC50 masing-masing sebesar 0,44 µg/mL dan 0,016 µg/mL
Senyawa santon yaitu cochinchinone D dan cochinchinoxanthone telah berhasil diisolasi dari fraksi aktif kulit batang C. sumatranum. Kedua senyawa ini menunjukkan aktivitas antimalaria melalui pengujian dengan metode LDH in vitro dengan nilai IC50 (Inhibitory Concentration 50%) masing-masing sebesar 4,79 µM dan 4,41 µM. Kriteria aktivitas antimalaria dari senyawa adalah sebagai berikut: poten (IC50 < 1 µM), menjanjikan (1 < IC50 < 20 µM), moderat (20 < IC50 < 100 µM), tidak aktif (IC50 > 200 µM). Maka berdasarkan kriteria tersebut, kedua senyawa termasuk dalam kriteria yang menjanjikan sebagai antimalaria.
Untuk mengetahui mekanisme kerja dari kedua senyawa ini telah dilakukan pengujian penambatan molekuler secara in silico terhadap hambatan enzim pada vakuola makanan parasit, yaitu plasmepsin-II, falcipain-3, dan M1-alanyl aminopeptidase. Lebih lanjut, juga dilakukan prediksi sifat penyerapan, distribusi, metabolisme, ekskresi, dan toksisitas (ADME-T). Hasil penambatan molekuler secara in silico dari kedua senyawa menunjukkan bahwa cochinchinone D memiliki afinitas yang lebih tinggi untuk mengikat plasmepsin-II. Sementara itu, cochinchinoxanthone dan klorokuin sebagai standar memiliki afinitas yang lebih baik terhadap M1-alanil aminopeptidase. Hasil penambatan molekuler tersebut menunjukkan bahwa senyawa santon diprediksi dapat berperan sebagai antimalaria dengan bekerja menghambat enzim yang terdapat di vakuola makanan parasit, yaitu cochinchinone D menghambat kinerja enzim plasmepsin-II dan cochinchinoxanthone menghambat kinerja enzim M1-alanil aminopeptidase. Sedangkan hasil prediksi sifat penyerapan, distribusi, metabolisme, ekskresi, dan toksisitas (ADME-T) menunjukkan bahwa kedua senyawa tersebut memiliki profil ADME-T yang serupa.
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa senyawa santon yaitu cochinchinone D dan cochinchinoxanthone memiliki aktivitas antimalaria yang tinggi terhadap kultur P. falciparum in vitro, kemungkinan aktivitas ini diperoleh melalui penghambatan enzim di vakuola makanan parasit in silico. Kedua senyawa santon memiliki potensi untuk pengembangan lebih lanjut sebagai antimalaria.
Penulis: Prof. Dr. Aty Widyawaruyanti, M.Si., Apt.
Baca juga: Potensi senyawa fitokimia manggis (Garcinia atroviridis) sebagai obat antimalaria secara in silico





