Kanker hati adalah salah satu penyebab utama kematian di dunia dengan angka kejadian yang terus meningkat. Hepatocellular carcinoma (HCC) menjadi jenis kanker hati primer yang paling umum dan memiliki tingkat kematian yang signifikan. Dalam dekade terakhir, pendekatan desain obat berbasis komputasi telah menjadi strategi unggulan dalam pengembangan kandidat antikanker. Salah satu fokus penelitian adalah pemanfaatan Trisindoline 1, senyawa alkaloid yang memiliki potensi sebagai penghambat enzim topoisomerase II (Topo II) dan reseptor faktor pertumbuhan derivat platelet (PDGF).
Mengapa Topoisomerase II dan PDGF?
Topo II adalah enzim kunci dalam regulasi proses seluler, termasuk perubahan topologi DNA kromosom. Mekanisme kerja enzim ini memungkinkan terbentuknya jeda sementara pada untai ganda DNA, yang penting untuk fungsi metabolisme DNA. Sementara itu, PDGF sering dianggap sebagai target molekuler potensial dalam terapi kanker karena perannya dalam proliferasi dan kelangsungan hidup sel tumor. Kombinasi penghambatan terhadap Topo II dan PDGF diyakini mampu meningkatkan efektivitas terapi kanker dengan mekanisme multitarget.
Trisindoline 1: Kandidat Potensial
Trisindoline 1 adalah senyawa alami yang diisolasi dari bakteri Vibrio sp., yang bersimbiosis dengan spons laut Hytios altum. Senyawa ini telah terbukti memiliki sifat sitotoksik terhadap sel kanker hati HepG2 dengan nilai IC50 sebesar 2,387 µg/ml. Observasi lebih lanjut menunjukkan bahwa Trisindoline 1 mampu menginduksi apoptosis melalui ekspresi protein seperti P53, Caspase 3, dan Cyclin D1. Dalam penelitian ini, analisis farmakofor dan molecular docking dilakukan untuk mengevaluasi potensi Trisindoline 1 sebagai kandidat obat kanker hati. Metode yang digunakan melibatkan analisis sifat farmakodinamik, farmakokinetik, dan toksikologi menggunakan perangkat lunak bioinformatika seperti AutoDock Vina dan Discovery Studio.
Hasil Kajian
Hasil docking menunjukkan bahwa Trisindoline 1 memiliki afinitas ikatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan doxorubicin, obat kemoterapi yang umum digunakan. Nilai energi pengikatan Trisindoline 1 terhadap Topo IIβ adalah −10,1 kcal/mol, lebih rendah dibandingkan dengan doxorubicin (−9,2 kcal/mol). Selain itu, docking terhadap PDGF menghasilkan nilai energi pengikatan sebesar −9,7 kcal/mol, yang juga lebih baik dibandingkan dengan doxorubicin.
Visualisasi Interaksi Molekuler
Interaksi molekuler menunjukkan bahwa Trisindoline 1 membentuk kompleks protein-ligan yang stabil melalui ikatan hidrogen dengan residu asam amino penting, seperti Arg560 dan Glu556 pada PDGF, serta Gln1051 dan Tyr1127 pada Topo IIα. Ikatan hidrogen ini memberikan stabilitas tambahan pada kompleks dan meningkatkan potensi penghambatan enzim.
Sifat Farmakokinetik dan Farmakodinamik
Analisis farmakokinetik menggunakan parameter ADMET (Absorption, Distribution, Metabolism, Excretion, and Toxicity) menunjukkan bahwa Trisindoline 1 memiliki sifat yang mendukung bioavailabilitas oral, termasuk berat molekul optimal (392,41 g/mol), jumlah ikatan hidrogen yang sesuai, dan TPSA (Total Polar Surface Area) sebesar 90,11 Ã…2. Parameter ini sesuai dengan aturan Lipinski, yang memprediksi potensi bioavailabilitas oral senyawa obat. Disamping itu, Trisindoline 1 menunjukkan tingkat toksisitas yang lebih rendah dibandingkan doxorubicin. Analisis toksikologi menunjukkan bahwa senyawa ini tidak bersifat karsinogenik dan memiliki risiko toksisitas yang lebih rendah terhadap sistem saraf dan organ vital lainnya. Hal ini menjadikan Trisindoline 1 kandidat yang menjanjikan untuk pengembangan obat kanker dengan efek samping minimal.
Secara umum penelitian ini menunjukkan bahwa Trisindoline 1 memiliki potensi sebagai kandidat obat kanker hati yang efektif. Dengan afinitas pengikatan yang tinggi terhadap Topo II dan PDGF, serta profil farmakokinetik dan toksikologi yang baik, senyawa ini dapat menjadi alternatif yang menjanjikan dibandingkan dengan doxorubicin. Meski demikian, uji klinis lebih lanjut diperlukan untuk memastikan keamanan dan efektivitasnya pada manusia.
Implikasi Masa Depan
Penelitian ini menyoroti pentingnya pendekatan in-silico dalam penemuan obat baru. Dengan mengintegrasikan analisis farmakofor dan molecular docking, proses pengembangan obat dapat dipercepat, mengurangi kebutuhan uji coba laboratorium yang memakan waktu dan biaya. Trisindoline 1 dapat menjadi langkah awal dalam pengembangan terapi multitarget untuk kanker hati, membuka peluang baru dalam pengobatan yang lebih efektif dan aman.
Penulis: Muhamad Amin
Staf Pengajar Departemen Akuakultur Fakulas Perikanan Universitas Airlangga
Baca juga:





