Teluk Pang-Pang merupakan teluk terbesar di Banyuwangi yang dikelilingi hutan bakau. Teluk ini telah ditetapkan sebagai Kawasan Ekologi Esensial Indonesia untuk mempertahankan keanekaragaman flora dan faunanya yang tinggi. Kawasan ini merupakan bagian dari UNESCO Global Geopark Ijen Biosite. Teluk Pangpang menjadi habitat dari 12 jenis mangrove dan satwa liar seperti burung air, burung migran, reptil, mamalia, primata, dan spesies yang dilindungi lainnya. Namun, perubahan tata guna lahan dan tekanan antropogenik dari daerah sekitarnya telah menyebabkan perubahan keanekaragaman hayati dan struktur komunitasnya, termasuk fauna makrobenthik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik lingkungan Teluk Pang-pang saat ini dan dampaknya terhadap bioindikator, seperti makrobenthos. Sampel sedimen, air, dan makrozoobenthos diambil dari delapan titik stasiun yang mewakili seluruh kawasan Teluk Pang-pang.
Kualitas air dan sedimen
Kualitas air teluk pang pang sangat dipengaruhi oleh air laut pada bagian mulut teluk dan bagian lainya dipengaruhi oleh masuknya air tawar dari beberapa muara sungai yang ada di sekitarnya. Dimana, rata-rata salinitas Teluk Pangpang sebesar 33,9 ppt, dengan rata-rata suhu air sebesar 29,00 â—¦C dan tertinggi 30,33 â—¦C di daerah yang paling dekat dengan terdekat dengan mulut teluk. Selain itu, nilai pH berkisar antara 7,53-7,93, dengan rata-rata 7,83. Kandungan oksigen terlarut sebesar 4,6-5,84 mg/L, dengan kecerahan air berkisar antara 1,24-2,55 m. selain itu, Kawasan ini merupakan ekosistem bagi beberapa spesies mangrove, termasuk Rhizopora dengan karakteristik akar tunjang yang kuat sebagai traping sediment maupun penahan erosi dan abrasi. Sehingga, mayoritas substrat di semua stasiun berupa lumpur, pasir, dan lempung pada kisaran 96,03-96,58%, 2,6-4,05%, dan 0,82-1,23%. Kondisi tersebut idal untuk kelangsungan beberapa organisme dasar perairan seperti krustacea maupun indicator perairan seperti macrobenthos.
Diversitas Makrozoobenthos
Makrobenthos yang ditemukan di Teluk Pangpang terdiri dari 39 taksa, dengan jumlah spesies terbanyak adalah Cerithium sp., diikuti oleh Tellina sp., Amphithalamus glabrus, Nassarius margaritifer, dan Acteon sp. Kelima taksa ini berjumlah sekitar 41,12% dari jumlah total dari total jumlah spesies. Jumlah taksa tertinggi ditemukan di Stasiun 5 (23 taksa), diikuti oleh Stasiun 2 dan 3 (13 taksa). (23 taksa), diikuti oleh Stasiun 2 dan 3 (13 taksa); sedangkan terendah ditemukan di Stasiun 1 (4 taksa). Keanekaragaman tertinggi tertinggi terdapat di Stasiun 5 (2,59), sedangkan yang terendah ditemukan di Stasiun 1 (0,98). Stasiun 5 memiliki indeks dominansi tertinggi (0,48), sedangkan Stasiun 3 memiliki indeks dominansi terendah (0,09). Selanjutnya, indeks keseragaman tertinggi ditemukan di Stasiun 3 (0,88), sedangkan yang terendah terdapat di Stasiun 8 (0,52). Dominasi makrobenthos di Teluk Pangpang dipengaruhi oleh komposisi sedimen. Kandungan lumpur dari sedimen secara positif mempengaruhi homogenitas makrobenthik. Selain itu, keanekaragaman makrobenthik juga dipengaruhi oleh pH air. Dominasi berbagai spesies makrobenthos dipengaruhi oleh suhu, kedalaman air, dan cahaya. Sebaliknya, oksigen terlarut, salinitas, dan kekeruhan mempengaruhi homogenitas makrozoobenthos. Kadar logam berat yang ditemukan juga berpengaruh terhadap struktur komunitas makrozoobenthos. Konsentrasi Fe yang lebih tinggi dalam sedimen menyebabkan indeks kemerataan yang lebih rendah. Konsentrasi Cd memengaruhi indeks kemerataan sedangkan nilai dominasi makrobenthos meningkat seiring dengan konsentrasi Cu sedimen. Peningkatan konsentrasi Pb dalam sedimen juga menyebabkan sedikit penurunan dalam keragaman makrobenthos. Berdasarkan hasil riset observasi yang dilakukan mengungkapkan bahwa Teluk Pangpang sangat dipengaruhi oleh lautan dan memiliki substrat berlumpur secara keseluruhan. Selain itu, kandungan bahan organik yang tinggi, salinitas dan suhu rendah berdampak positif terhadap keanekaragaman hayati makrobenthos. Konsentrasi logam berat, seperti Pb, Cu, dan Fe, berada di bawah nilai ambang batas dan secara signifikan mempengaruhi keanekaragaman hayati makrobenthos. Pengaruh sedimentasi dari daratan, geografi teluk, dan pergerakan air menyebabkan perbedaan keanekaragaman hayati dan karakteristik masing-masing stasiun.
Penulis: Suciyono, S.St.Pi., M.P.
Link: https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1687428524000694
Baca juga: Produksi Biomassa dan Saponin Akar Ginseng Jawa Menggunakan Tekonologi Hidroponik





