Oleh : Prof. Dr. Aryati., dr. MS., Sp.PK., Subsp.P.I(K)., Subsp I.K(K)
Tingginya beban penyakit hepatitis B kronis yang masih menjadi penyebab utama sirosis hati dan karsinoma hepatoseluler. Respons imun, khususnya keseimbangan antara sitokin proinflamasi dan antiinflamasi, dipandang memiliki peranan penting dalam proses progresivitas penyakit.
Studi menggunakan rancangan observasional analitik dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional). Sebanyak 64 pasien hepatitis B kronis direkrut secara purposive sampling, terdiri atas 44 pasien tanpa sirosis hati dan 20 pasien dengan sirosis hati. Pengukuran kadar IFN-γ dan IL-10 dilakukan menggunakan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA), sedangkan analisis statistik menggunakan uji Mann-Whitney untuk membandingkan kadar sitokin antar kelompok dengan tingkat kemaknaan p<0,05.
Karakteristik subjek menunjukkan bahwa kelompok dengan sirosis hati memiliki rerata usia yang lebih tinggi dibandingkan kelompok tanpa sirosis. Selain itu, kelompok sirosis memperlihatkan jumlah trombosit yang lebih rendah serta kadar AST dan ALT yang lebih tinggi secara bermakna, sedangkan kadar HBV DNA tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Gambaran tersebut mengindikasikan bahwa perkembangan penyakit disertai perubahan parameter klinis dan laboratoris yang mencerminkan kerusakan fungsi hati.
Hasil analisis memperlihatkan bahwa kadar IFN-γ serum pada pasien hepatitis B kronis dengan sirosis hati lebih tinggi secara bermakna dibandingkan kelompok tanpa sirosis (2,56 pg/mL dibandingkan 1,165 pg/mL; p=0,006). Kadar IL-10 juga cenderung lebih tinggi pada kelompok sirosis, namun tidak mencapai perbedaan yang bermakna secara statistik. Rasio IFN-γ/IL-10 menunjukkan kecenderungan lebih tinggi pada kelompok sirosis, meskipun nilai p sebesar 0,056 belum memenuhi batas signifikansi statistik. Temuan tersebut mengindikasikan adanya kecenderungan dominasi respons imun proinflamasi pada pasien dengan sirosis hati.
Pembahasan mengemukakan bahwa peningkatan kadar IFN-γ mencerminkan aktivasi respons imun yang berlangsung secara persisten akibat inflamasi kronis pada infeksi hepatitis B. Aktivasi IFN-γ berperan dalam proses fibrogenesis melalui stimulasi sel Kupffer, makrofag hati, serta inflammasom yang mempercepat kerusakan jaringan hati. Sebaliknya, IL-10 berfungsi sebagai sitokin antiinflamasi yang menghambat aktivasi sel imun dan menekan produksi sitokin proinflamasi. Walaupun kadar IL-10 meningkat, peningkatan tersebut belum mampu mengimbangi dominasi respons proinflamasi pada stadium lanjut sehingga keseimbangan imun cenderung bergeser menuju kondisi inflamasi kronis. Rasio IFN-γ/IL-10 dinilai memiliki potensi sebagai indikator keseimbangan imun yang dapat dikembangkan sebagai biomarker prognosis, meskipun masih diperlukan kajian longitudinal untuk mengonfirmasi manfaat klinisnya.
Beberapa keunggulan yang ditunjukkan meliputi penggunaan biomarker imunologis yang berperan dalam patogenesis hepatitis B kronis serta perbandingan langsung antara pasien dengan dan tanpa sirosis hati menggunakan metode ELISA yang terstandarisasi. Di sisi lain, desain potong lintang membatasi penilaian hubungan sebab akibat maupun perubahan kadar sitokin selama perjalanan penyakit. Jumlah subjek yang relatif terbatas juga dapat memengaruhi kekuatan analisis statistik, khususnya terhadap rasio IFN-γ/IL-10 yang hanya menunjukkan kecenderungan tanpa signifikansi statistik.
Secara keseluruhan, hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kadar IFN-γ meningkat secara bermakna pada pasien hepatitis B kronis dengan sirosis hati, yang mencerminkan pergeseran respons imun ke arah keadaan proinflamasi pada stadium penyakit yang lebih lanjut. Meskipun kadar IL-10 dan rasio IFN-γ/IL-10 tidak berbeda secara signifikan, keduanya menunjukkan kecenderungan meningkat pada kelompok sirosis. Temuan tersebut mendukung potensi IFN-γ sebagai biomarker tambahan dalam stratifikasi risiko maupun pemantauan progresivitas hepatitis B kronis. Validasi melalui studi prospektif dengan jumlah subjek yang lebih besar masih diperlukan sebelum biomarker tersebut dapat diimplementasikan dalam praktik klinis.
Artikel tersebut bisa di akses :
https://saber.ucv.ve/ojs/index.php/rev_gmc/article/view/32533
Penulis : Devi Rahmadhona, Bambang Purwanto, Irsan Hasan, Aryati





