Universitas Airlangga Official Website

Profil Pasien Jerawat Ringan di RS Tersier Surabaya

Ilustrasi jerawat (sumber: realitarakyat)

Acne vulgaris atau jerawat merupakan penyakit kulit yang paling banyak dikeluhkan oleh setiap masyarakat. Khususnya pada remaja karena dapat merusak kepercayaan diri setiap orang. Penyakit kulit tersebut disebabkan karena peradangan menahun folikel pilosebasea. Pada beberapa negara dan kelompok usia yang berbeda, prevalensi AV bervariasi. Diperkirakan berkisar sebanyak 35% hingga hampir 100% remaja mengalami jerawat di beberapa area wajah dan juga bagian tubuh yang lain. 

Penelitian ini didapatkan total 34 pasien dengan diagnosis akne vulgaris derajat ringan berdasarkan klasifikasi Lehmann dan telah memenuhi kriteria penerimaan sampel penelitian. Berdasarkan karakteristik jenis kelamin, jumlah sampel antara berjenis kelamin perempuan (50%) sama dengan laki-laki (50%) 

Faktor pencetus timbulnya jerawat pada penelitian ini terbanyak adalah gabungan antara faktor genetik diikuti oleh stres dan makanan. Selain itu, terdapat faktor hormon dan kosmetik juga berperan dalam penyebab AV pada penelitian ini. Patogenesis AV hingga saat ini terus berkembang dengan penyebab multifaktorial. Faktor utama patogen yang memainkan peran penting dalam perkembangan AV adalah hiperkeratinisasi folikel, kolonisasi mikroba dengan C. acnes, produksi sebum, dan mekanisme inflamasi kompleks yang melibatkan imunitas bawaan dan didapat. Selain itu, beberapa menyebutkan bahwa mekanisme pengaturan neuroendokrin, diet, dan faktor genetik dan nongenetik semuanya dapat berkontribusi pada proses multifaktorial patogenesis AV.

Faktor genetik memiliki peran dalam perkembangan AV. Beberapa polimorfisme genetik mempengaruhi ekspresi dan/atau fungsi gen telah diselidiki dengan 81% dari varians populasi dikaitkan dengan faktor genetik. 

Penelitian tentang hubungan kejadian AV dengan stres telah banyak dilaporkan, salah satunya melaporkan hubungan stres dengan kejadian AV pada mahasiswa kedokteran di Sumatera Utara tahun 2017, didapatkan derajat stres tinggi terjadi pada mahasiswa perempuan yaitu sebanyak 2,4% derajat stres ringan, 45,2 % derajat stres sedang dan 11,9% derajat stres berat. Terdapat hubungan yang signifikan (p=0,005) antara derajat stres dengan tingkat keparahan AV. Zhang menyebutkan bahwa stres sebagai salah satu faktor penyebab AV karena terdapat perubahan level corticothropin releasing hormon (CRH) pada saat stres dan berperan terhadap regulasi dari fungsi kelenjar sebaseus. Corticotropin-releasing hormone juga menginduksi produksi sitokin IL-6 dan IL-11 yang berkontribusi terhadap peradangan.

Kesimpulannya, total 34 pasien AV ringan dilaporkan dalam penelitian ini. Studi kami menunjukkan distribusi jenis kelamin yang serupa, sedangkan remaja akhir (17-25 tahun) adalah kelompok usia yang paling dominan dan Genetik memainkan faktor pencetus terbesar. Pasien kami sebagian besar memiliki tipe kulit berminyak dengan fototipe Fitzpatrick 4. Terakhir, komedo adalah lesi yang paling umum dalam penelitian kami.

Penulis : dr.Alvian Arifin Saiboo,MKed.Klin.,Sp.DVE

Informasi lengkap dari artikel ini dapat dilihat di :

https://e-journal.unair.ac.id/BIKK/article/view/45715/28327

Profile  of  Mild  Acne  Vulgaris  Patients  at  Tertiary  Hospital  at Surabaya, Indonesia

Alvian Arifin Saiboo, Muhammad Yulianto Listiawan, Maylita Sari, Diah Mira Indramaya, Dwi Murtiastutik, Damayanti, Sylvia Anggaraeni

Baca Juga: Uji Kesesuaian Parameter Dermoskopi dan Histopatologi pada Karsinoma Sel Basal