UNAIR NEWS – Universitas Airlangga (UNAIR) kembali membuktikan kualitas mahasiswanya di kancah nasional. Tim mahasiswa Fakultas Farmasi UNAIR yang dibimbing oleh Dr Andang Miatmoko SFarm MPharmSci PhD Apt berhasil meraih pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) 2025 dari Ditjen Belmawa. Tim yang terdiri dari lima mahasiswa – Syalsabila Aisyah Rahmawati, Tsabitah Haura Rachman, Aisha Bella Calvina, Fauziyyah Labibah, dan Venlie Sanjaya – menghadirkan solusi inovatif berupa nasal spray berbasis nanoteknologi untuk membantu mengatasi kecanduan nikotin.
Kelima mahasiswa tersebut mengusung penelitian berjudul Inovasi Nasal Nano-Spray Epigallocatechin gallate (EGCG) sebagai Upaya Penanganan Adiksi Nikotin dan lahir dari keprihatinan terhadap maraknya kebiasaan merokok di kalangan remaja. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sebanyak 56,5% perokok aktif berasal dari kelompok usia 15–19 tahun. Angka tersebut mencerminkan besarnya tantangan dalam menekan prevalensi rokok pada usia muda.
Solusi Praktis dan Efektif
Ketua tim, Syalsabila Aisyah Rahmawati, menuturkan bahwa sebagian besar perokok remaja percaya bisa berhenti kapan saja. Namun, kenyataannya nikotin adalah zat yang sangat adiktif. Sehingga membuat proses berhenti merokok jauh lebih sulit dari yang dibayangkan. “Kami ingin menghadirkan solusi yang praktis, efektif, dan nyaman digunakan. Sehingga dapat membantu mereka yang kesulitan berhenti merokok,” ungkapnya.
Inovasi yang tim ini kembangkan menggunakan Epigallocatechin gallate (EGCG), antioksidan kuat yang terdapat dalam teh hijau. Berbagai penelitian sebelumnya membuktikan bahwa EGCG mampu mengurangi efek kesenangan (reward effect) dari nikotin di otak dengan cara menekan produksi radikal bebas (ROS) serta memperkuat sistem pertahanan antioksidan alami tubuh.
Upaya Kurangi Angka Kecanduan Rokok
Namun, EGCG memiliki keterbatasan jika dikonsumsi secara oral karena penyerapan yang kurang optimal. Untuk menjawab tantangan ini, tim PKM-RE UNAIR EPIGALTIN merancang sistem penghantaran melalui rute nasal. Dengan teknologi nanospanlastic yang membungkus zat aktif dalam ukuran nanometer, sediaan ini kemudian dikemas dalam bentuk semprot hidung. Rute nasal dipilih karena memungkinkan zat aktif langsung menuju otak melalui pembuluh darah tanpa melalui metabolisme hati. Sehingga bioavailabilitas meningkat dan efek obat lebih cepat terasa.
Dengan dukungan pendanaan ini, mahasiswa UNAIR berharap inovasi mereka dapat menjadi solusi nyata dalam upaya mengurangi angka kecanduan rokok di Indonesia. Lebih jauh lagi, riset ini harapannya berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin ketiga yaitu Good Health and Well-being.
Penulis: Tim PKM RE
Editor: Yulia Rohmawati





