Kecemasan dan gangguan tidur kini menjadi keluhan yang semakin sering ditemui pada masyarakat modern. Ritme hidup yang cepat, tekanan pekerjaan, serta paparan stres berulang membuat banyak orang mencari solusi yang lebih aman dan alami untuk mengatasi kegelisahan dan insomnia. Di tengah kebutuhan itu, sebuah penelitian terbaru dari tim peneliti Universitas Airlangga mengungkap potensi menarik dari Cassia spectabilis—tanaman yang dikenal masyarakat sebagai “ramayana”—sebagai kandidat herbal penenang dan antikecemasan.
Tanaman yang selama ini hanya dianggap sebagai peneduh halaman ternyata menyimpan senyawa aktif yang dapat memengaruhi sistem saraf pusat. Melalui serangkaian uji perilaku pada hewan coba yang mengalami stres, para peneliti menunjukkan bahwa ekstrak daun Cassia spectabilis mampu memberikan efek menenangkan yang tidak jauh berbeda dengan obat penenang modern, namun berpotensi memiliki profil keamanan yang lebih baik.
Dari Tanaman Hias Menjadi Calon Obat Herbal
Cassia spectabilis merupakan tanaman dengan ciri khas bunga kuning cerah yang banyak ditemukan di Asia, Afrika, hingga Amerika Selatan. Di Indonesia, tanaman ini lebih sering dimanfaatkan sebagai penghias taman atau pembatas jalan. Namun, penelusuran ilmiah menunjukkan bahwa bagian daunnya mengandung senyawa alkaloid, terutama spectaline dan iso-6-cassine, yang memiliki aktivitas pada reseptor GABA—reseptor yang juga menjadi target obat penenang seperti diazepam.
Obat penenang modern memang efektif, tetapi sering menimbulkan efek samping berupa ketergantungan, gangguan memori, hingga toleransi yang meningkat. Karena itu, pencarian alternatif herbal yang bekerja pada mekanisme serupa tetapi lebih aman terus dikembangkan.
Uji pada Model Mencit Stres: Menenangkan dan Mengurangi Kecemasan
Penelitian ini menggunakan model mencit yang diberi paparan stres berupa kejutan listrik ringan selama lima hari. Metode ini umum digunakan untuk meniru kondisi stres psikologis pada manusia. Setelah paparan stres, mencit diberi ekstrak daun Cassia spectabilis dengan berbagai dosis, kemudian perilakunya diamati melalui beberapa jenis uji.
Pada uji hole cross, yang mengukur tingkat aktivitas dan kegelisahan hewan, ekstrak dosis tinggi menunjukkan penurunan signifikan pada jumlah pergerakan mencit. Hal ini menandakan adanya efek sedatif atau penenang. Hasil serupa terlihat pada uji waktu tidur dengan induksi thiopental, di mana ekstrak daun Ramayana mampu memperpendek waktu menuju tidur dan memperpanjang durasi tidur secara bermakna.
Efek menarik lainnya muncul pada uji elevated plus maze, alat standar untuk mengukur kecemasan pada hewan. Mencit yang cemas cenderung menghindari area terbuka. Mencit yang diberi ekstrak daun Cassia spectabilis justru lebih berani memasuki dan menghabiskan waktu di area terbuka, menandakan penurunan kecemasan. Dosis sedang (50–100 mg/kg) menunjukkan efek paling konsisten, bahkan lebih stabil dibanding kelompok pembanding yang diberi diazepam.
Simulasi Komputasi Menguatkan: Senyawa Aktifnya Mengikat Reseptor GABA
Untuk memperkuat temuan perilaku, penelitian ini juga melakukan analisis molecular docking, yaitu simulasi interaksi antara senyawa aktif dengan reseptor target. Hasilnya, senyawa spectaline menunjukkan ikatan yang lebih kuat dengan reseptor GABA dibanding diazepam. Ikatan yang kuat ini memberi petunjuk bahwa spectaline memiliki potensi besar sebagai modulator GABA yang aman dan efektif.
Menariknya, spectaline juga memiliki profil metabolisme yang lebih aman dibanding diazepam karena tidak banyak mengganggu enzim-enzim hati. Ini memberi harapan bahwa ekstrak Cassia spectabilis bisa dikembangkan sebagai alternatif terapi yang lebih ramah metabolik.
Mengapa Ini Penting?
Gangguan kecemasan dan insomnia tidak hanya menurunkan kualitas hidup, tetapi juga berkontribusi pada berbagai penyakit kronis. Ketergantungan terhadap obat penenang kimia sering kali menimbulkan masalah tambahan. Karena itu, kandidat herbal seperti Cassia spectabilis memiliki nilai strategis dalam dunia kesehatan, terutama sebagai pilihan terapi pendamping yang lebih aman.
Selain itu, status tanaman ini yang mudah diperoleh dan tumbuh di banyak daerah Indonesia memberi peluang besar untuk pengembangan fitofarmaka nasional. Dengan penelitian lanjutan berupa uji toksisitas, standarisasi ekstrak, serta studi klinis, ramayana berpotensi menjadi salah satu produk herbal unggulan Indonesia di bidang kesehatan mental.
Menutup Temuan: Dari Taman ke Laboratorium, Menuju Terapi Masa Depan
Penelitian ini memperlihatkan bahwa tanaman ramayana bukan sekadar penghias lingkungan, tetapi juga memiliki karakter farmakologis yang kuat sebagai penenang dan antikecemasan. Aktivitas sedatif dan ansiolitik yang muncul baik melalui uji perilaku maupun analisis molekuler menunjukkan bahwa Cassia spectabilis layak diperhitungkan sebagai kandidat terapi herbal untuk membantu mengatasi gangguan tidur dan kecemasan.
Temuan ini memberikan langkah awal yang penting. Dengan riset lanjutan dan pengembangan formulasi yang tepat, bisa jadi di masa depan ramayana akan hadir sebagai produk herbal yang mendukung kesehatan mental masyarakat.
Penulis: Prof. Dr. Wiwied Ekasari, Dra., Apt., M.Si.





