Universitas Airlangga Official Website

Readability of Financial Footnotes, Audit Fees, and Risk Management Committee

Foto oleh IndiaFilings

Kemudahan dalam membaca dan memahami informasi dalam laporan tahunan oleh pemegang saham dan calon pemegang saham tentunya menjadi poin penting agar tidak menjadi asimetri informasi (Salehi et al. 2020). Keterbacaan juga merupakan penilaian komunikasi yang efektif untuk informasi yang relevan dengan penilaian perusahaan dan mudah untuk dianalisis (Loughran dan McDonald 2014; Lehavy et al. 2011). Oleh karena itu, informasi manajemen yang mudah dibaca dapat menarik bagi analis, mengurangi waktu yang mereka habiskan untuk menganalisis informasi, sehingga membuatnya lebih mudah untuk diakses. Meskipun tujuan laporan tahunan adalah untuk memberikan informasi akuntansi kepada pengguna, beberapa penelitian telah menyoroti bahwa bahasa yang digunakan dalam laporan ini seringkali rumit, sehingga sulit untuk mengukur nilai perusahaan secara akurat (Dalwai et al. 2021).

Auditor memiliki peran kepentingan publik yang penting di pasar keuangan dengan memberikan jaminan independen atas kredibilitas informasi akuntansi yang mengarah pada peningkatan alokasi sumber daya dan peningkatan efisiensi kontrak. Mereka juga memainkan “peran informasi” dalam meningkatkan informasi dari laporan keuangan dan memberikan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan investor (Blanco et al. 2021; DeFond dan Zhang 2014). Karena dalam mengambil keputusan, perusahaan harus menyajikan informasi dengan baik dan benar. Manajer yang beroperasi akan memiliki lebih banyak informasi dan cenderung mengambil tindakan yang tidak dimiliki pemiliknya. Ini umumnya dikenal sebagai konflik keagenan (Jensen dan Meckling 1976). Untuk mengatasi masalah tersebut, diperlukan pihak eksternal yang dianggap sebagai penjamin dalam penyusunan laporan tahunan dari risiko, yaitu akuntan publik. Akuntan publik bertindak sebagai auditor eksternal dalam kantor akuntan publik, jasa audit mereka memerlukan biaya yang biasa dikenal sebagai biaya audit, yang mencakup semua biaya yang dibayarkan dan dibayarkan kepada auditor oleh perusahaan untuk jasa audit yang dilakukan, dan jumlah biaya audit dimasukkan. dipengaruhi oleh ukuran perusahaan klien, kompleksitas audit, dan risiko audit (Prabhawa dan Nasih 2021; Simunic 1980).

Metode Penelitian dan Hasil

Penelitian ini menggunakan populasi perusahaan nonkeuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2014–2018 sebanyak 758 perusahaan dengan beberapa kriteria, seperti penelitian ini tanpa menggunakan SIC (standar klasifikasi industri) kode 6 pada laporan keuangan industri karena memiliki karakteristik perlakuan akuntansi yang berbeda.

Hasil dari hipotesis penelitian ini adalah semakin mudah untuk membaca catatan atas laporan keuangan maka semakin besar biaya audit yang dibayarkan oleh perusahaan. Senada dengan penelitian Salehi et al. (2020) dengan pengaturan Iran pada tahun 2012–2017 bahwa dengan keterbacaan catatan atas laporan keuangan, auditor akan memperoleh lebih banyak informasi terkait laporan keuangan; Oleh karena itu, auditor akan mengkaji lebih dalam terkait informasi yang terdapat dalam catatan kaki keuangan sehingga risiko audit dapat diminimalkan, namun waktu dan tenaga yang dikeluarkan akan bertambah dan mengakibatkan peningkatan biaya audit.

Kemudian hipotesis kedua dalam penelitian ini ingin melihat bagaimana risk management commiee (RMC) berhubungan dengan audit fee. RMC dipilih sebagai bentuk tanggung jawab manajemen untuk mengawasi risiko perusahaan, salah satunya adalah informasi laporan keuangan yang asimetris. RMC dalam penelitian ini memiliki hasil positif yang signifikan dengan biaya audit, juga sejalan dengan penelitian Malik et al. (2021) dengan mengadopsi 208 perusahaan non keuangan yang terdaftar di Bursa Malaysia untuk akhir tahun 2014 dan penelitian oleh (Rahayu et al. 2021) di setting Indonesia, yang berarti bahwa kehadiran RMC di sebuah perusahaan akan meningkatkan permintaan untuk audit karena Tuntutan RMC untuk memastikan tidak ada salah saji, yang menyebabkan peningkatan jumlah cakupan audit dan peningkatan waktu audit untuk diselesaikan dan berkorelasi langsung dengan biaya audit.

Untuk melengkapi penelitian ini, peneliti mencoba memoderasi RMC dengan hubungan antara keterbacaan catatan kaki keuangan dan biaya audit. Dalam teori audit penawaran dan permintaan, keterbacaan catatan kaki keuangan dan biaya audit bertindak sebagai penawaran, sedangkan hubungan antara RMC dan biaya audit akan bertindak sebagai permintaan. Oleh karena itu, hipotesis ketiga dalam penelitian ini juga diterima: RMC akan memperkuat hubungan antara keterbacaan catatan kaki keuangan dan biaya audit.

Penulis : Iman Harymawan, S.E., MBA., Ph.D

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://www.mdpi.com/2227-9091/10/9/170

Prabhawa, A. A., & Harymawan, I. (2022). Readability of Financial Footnotes, Audit Fees, and Risk Management Committee. Risks, 10(9), 170.