Universitas Airlangga Official Website

Human Atrial Natriuretic Peptide, Cardiac Power dan Skor Inotropik Vasoaktif pada Anak dengan Syok Septik

Foto oleh BBC

Sepsis merupakan penyebab kematian anak, terutama sepsis yang disertai dengan syok septik, karena terjadi gangguan hemodinamik yang meliputi perfusi jaringan yang tidak memadai, hipotensi persisten setelah resusitasi cairan awal, dan kebutuhan akan agen vasoaktif untuk mempertahankan normotensi. Human Atrial Natriuretic Peptide (ANP) adalah hormon natriuretik yang bertanggung jawab untuk menjaga sirkulasi homeostasis. Hormon ini memodulasi preload jantung dan afterload melalui diuresis, natriuresis, dan vasodilatasi, sehingga mempengaruhi fungsi miokard. Atrium mengeluarkan Human Atrial Natriuretic Peptide sebagai respon terhadap peningkatan volume plasma. ANP manusia bekerja pada reseptor peptida natriuretik pada miosit ventrikel dan secara langsung mempengaruhi kontraksi dan relaksasi miokard. Pada kondisi tertentu seperti termasuk penyakit jantung katup, penyakit arteri koroner, hipertensi paru, perikarditis konstriktif, dan sepsis, kadar ANP meningkat. Namun demikian, sampai saat ini, belum ada evaluasi kadar plasma ANP pada pasien dengan syok septik mengenai fungsi kardiovaskular, karena komplikasi sepsis yang paling umum adalah disfungsi kardiovaskular, yang disebabkan oleh mediator sepsis yang mempengaruhi fisiologi jantung dan mengganggu respons homeostatik dan refleks normal.

Status hemodinamik dapat dimonitor menggunakan metode yang sederhana dan mudah diakses, yakni menggunakan skor inotropik vasoaktif (VIS), yaitu sistem penilaian yang digunakan untuk menghitung dosis vasopresor dan inotropik yang diperlukan untuk mempertahankan hemodinamik yang stabil. VIS awalnya dirancang  untuk  syok kardiogenik pediatrik dan pasien pasca operasi untuk mengukur efek kumulatif dari berbagai obat vasoaktif atau inotropik pada satu pasien. Baru-baru ini telah divalidasi dalam  populasi pasien syok septik pediatrik.

Pada 30 pasien anak yang mengalami syok septik di RSUD Dr. Soetomo, yang diukur kadar ANP selama 3 hari berturut-turut ditemukan kadar ANP yang sama, kadar rata-ratanya 104.66 ± 86.71 pg/mL, 109.27 ± 92.66 pg/mL dan 91.07 ± 76.71 pg/mL pada pengukuran hari pertama, kedua dan ketiga. Sementara nilai cardiac power pada hari pertama lebih rendah dari pengukuran di hari kedua dan ketiga, masing-masing 0.38 ± 0.35, 0.54 ± 0.37 dan 0.51 ± 0.36. Untuk nilai VIS, pengamatan hari pertama, kedua dan ketiga menunjukkan nilai 8.11 ± 7.8, 13.89 ± 10.23, dan 25.37 ± 21.13.

Penelitian ini juga menunjukkan adanya korelasi positif antara ANP dengan cardiac power pada pengukuran hari kedua dan ketiga, namun tidak terjadi korelasi di hari pertama dan kedua, yang menunjukkan pengaruh ANP pada kontraktilitas ventrikel kiri sehingga mengubah cardiac output. ANP juga menjadi marker untuk congestive heart failure, namun pada anak syok septik, peran prognostiknya masih belum banyak diteliti. Pada penelitian ini, ternyata ANP dalam plasma pasien yang meninggal mengalami penurunan.

Dengan VIS, ANP berhubungan di hari ke dua secara negatif. Sementara hari pertama dan ketiga, tidak terlihat adanya korelasi. Penggunaan VIS pada populasi pediatri telah banyak divalidasi oleh beberapa studi, dan terbukti berhubungan dengan lama rawat jalan di ICU dan penggunaan ventilator, dan telah menjadi predictor luaran anak sepsis. Pengukuran dalam jangka 12 jam setelah masuk PICU, VIS menjadi predictor kuat pada luaran cardiac arrest, kebutuhan pada extracorporeal membrane oxygenation (ECMO) dan kematian, dengan nilai predictor >11, sensitivitas 82.1% dan spesifisitas 64.5%, yang berarti bahwa kebutujan terhadap obat-obatan vasoaktif dan ionotropik menjadi perdiktor kematian pada anak septik syok.

Penulis: Arina Setyaningtyas, Soetjipto Soetjipto, Anang Endaryanto, Antonius Hocky Pudjiadi

Link: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/36185950/