Universitas Airlangga Official Website

Riset UNAIR Ungkap Pola Musiman dan Pengaruh Iklim terhadap DBD di Banjarmasin

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi salah satu persoalan kesehatan masyarakat yang perlu diwaspadai di wilayah tropis. Tidak hanya dipengaruhi oleh keberadaan nyamuk Aedes, peningkatan kasus DBD juga berkaitan dengan perubahan suhu, curah hujan, dan kelembapan udara.

Hal tersebut terungkap dalam penelitian berjudul “Incidence Trend and Climate Influence on Dengue Fever in Banjarmasin, Indonesia: A Path Analysis Approach”. Penelitian yang melibatkan Prof Ririh Yudhastuti, PhD, dan Khuliyah Candraning Diyanah, MKL, dari Departemen Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (FKM UNAIR) tersebut telah dipublikasikan dalam Journal of Health Science and Medical Research.

Kasus Cenderung Meningkat pada Awal Tahun

Penelitian menganalisis data bulanan kasus DBD di Kota Banjarmasin selama periode 2016–2023. Data kasus diperoleh dari fasilitas pelayanan kesehatan melalui Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin. Sementara itu, data suhu, kelembapan, dan curah hujan diperoleh dari stasiun meteorologi di Kalimantan Selatan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kasus DBD di Banjarmasin mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun. Pada 2016 tercatat sebanyak 58 kasus DBD. Jumlah tersebut sempat menurun hingga 2021, tetapi kembali meningkat menjadi 63 kasus pada 2022 dan mencapai 88 kasus pada 2023.

Pada 2023, angka kejadian DBD mencapai 12,10 kasus per 100.000 penduduk. Pada tahun yang sama juga dilaporkan enam kematian dengan case fatality rate atau proporsi kematian sebesar 6,8 persen.

Melalui analisis pola musiman, tim peneliti menemukan bahwa peningkatan kasus cenderung terjadi secara berulang pada awal tahun, terutama Januari dan Februari. Peningkatan tambahan juga terlihat pada Desember. Pola tersebut menunjukkan bahwa periode akhir hingga awal tahun merupakan masa penting untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan DBD.

Suhu dan Curah Hujan Berperan Penting

Penelitian tersebut tidak hanya menggambarkan kecenderungan kasus, tetapi juga menganalisis hubungan langsung dan tidak langsung antara unsur iklim dan kejadian DBD menggunakan analisis jalur atau path analysis.

Hasil analisis menunjukkan bahwa suhu dan curah hujan mempunyai jalur pengaruh langsung yang signifikan terhadap kasus DBD. Curah hujan juga memengaruhi perubahan suhu dan kelembapan udara. Sementara itu, kelembapan tidak menunjukkan pengaruh langsung yang signifikan dalam model, meskipun secara biologis kondisi udara yang lembap tetap dapat mendukung kelangsungan hidup dan aktivitas nyamuk.

Suhu udara berperan dalam memengaruhi perkembangan larva, kecepatan pertumbuhan nyamuk, frekuensi menggigit, serta kemampuan virus dengue berkembang di dalam tubuh nyamuk. Pada kondisi suhu yang sesuai, siklus hidup nyamuk dapat berlangsung lebih cepat sehingga peluang penularan dengue ikut meningkat.

Curah hujan juga dapat membentuk berbagai genangan air yang menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk. Akan tetapi, pengaruhnya tidak selalu terjadi pada saat yang sama. Setelah hujan meningkat, diperlukan waktu bagi telur untuk berkembang menjadi larva, pupa, dan nyamuk dewasa sebelum akhirnya berpotensi menularkan virus dengue kepada manusia.

Karakteristik Kota Seribu Sungai

Kondisi geografis Banjarmasin menjadi salah satu konteks penting dalam penelitian tersebut. Kota yang dikenal sebagai Kota Seribu Sungai itu memiliki wilayah yang relatif datar, berawa, dan berada pada elevasi yang rendah.

Pada musim kemarau, masuknya air laut dapat memengaruhi ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut mendorong sebagian masyarakat menyimpan air dalam berbagai wadah. Apabila tidak ditutup dan dibersihkan secara rutin, tempat penyimpanan air dapat menjadi habitat potensial bagi nyamuk Aedes.

Karena itu, pengaruh iklim terhadap DBD tidak dapat dipisahkan dari perilaku masyarakat dan kondisi lingkungan permukiman. Perubahan suhu atau curah hujan dapat meningkatkan risiko penularan ketika terdapat banyak wadah yang memungkinkan air tertampung dalam waktu lama.

Mendukung Sistem Peringatan Dini Berbasis Cuaca

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa informasi cuaca dapat dimanfaatkan sebagai salah satu dasar dalam menyusun sistem kewaspadaan dini DBD. Data suhu, curah hujan, dan pola kasus pada tahun-tahun sebelumnya dapat membantu pemerintah daerah memperkirakan periode dengan risiko penularan yang lebih tinggi.

Upaya pencegahan perlu diperkuat sebelum kasus mencapai puncak, terutama menjelang akhir tahun, pada awal musim hujan, dan selama Januari hingga Maret. Intervensi dapat dilakukan melalui pemantauan jentik, edukasi masyarakat, pemberantasan sarang nyamuk, pengelolaan tempat penampungan air, serta pengendalian vektor secara terarah berdasarkan hasil penyelidikan epidemiologi.

Pengawasan juga perlu dilakukan di ruang publik seperti sekolah, perkantoran, pasar, tempat ibadah, dan fasilitas umum lainnya. Penelitian menemukan bahwa kasus DBD lebih banyak dilaporkan pada laki-laki dan kelompok usia produktif 15–64 tahun. Tingginya mobilitas kelompok tersebut dapat meningkatkan kemungkinan kontak dengan nyamuk di luar rumah.

Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa pengendalian DBD tidak seharusnya hanya dilakukan setelah jumlah kasus meningkat. Integrasi data kesehatan dan informasi iklim dapat membantu pemerintah menentukan waktu intervensi, mengalokasikan sumber daya secara lebih efisien, dan mencegah peningkatan kasus serta kematian akibat DBD.

Penulis: Prof. Dr. Ririh Yudhastuti, drh., M.Sc.

Link: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/incidence-trend-and-climate-influence-on-dengue-fever-in-banjarma/fingerprints/