UNAIR NEWS – Rumah Sakit Hewan (RSH) UNAIR Kampus MERR-C menyelenggarakan lokakarya Practical Small Animal Orthopedics: Limb Fracture Management Principles, Workshop Approach, & Implant Application. Kegiatan tersebut membahas prinsip penanganan fraktur pada hewan kecil. Termasuk evaluasi pasca operasi, deteksi komplikasi, dan penerapan implan. Praktisi bedah veteriner, drh Ivan Satriawan, menekankan pentingnya evaluasi radiografi serta perencanaan matang untuk mendukung keberhasilan tindakan ortopedi.
Evaluasi Radiografi dan Prinsip 4A
Dalam pemaparannya, drh Ivan menjelaskan bahwa evaluasi pasca operasi merupakan bagian penting dalam penanganan fraktur. Pemeriksaan radiografi (X-ray) perlu dilakukan segera setelah operasi untuk memastikan reduksi fraktur dan penempatan implan telah sesuai.
“Apakah setelah operasi itu selesai? Belum. Begitu selesai operasi, langsung lakukan X-ray. Jika ada posisi yang kurang tepat atau reduksi yang tidak stabil, revisi saat itu juga, jangan menunggu hingga dua minggu,” ujar drh Ivan, Sabtu (12/9/2026).
Ia memperkenalkan prinsip evaluasi 4A yang meliputi Alignment, Apposition, Apparatus, dan Activity. Alignment menilai kelurusan sumbu tulang, sedangkan Apposition mengevaluasi posisi dan kontak antar fragmen fraktur. Apparatus berfokus pada pemilihan serta penempatan implan, sementara Activity menilai perkembangan aktivitas biologis tulang selama proses penyembuhan.
Menurutnya, kesalahan penempatan implan (improper implant placement) dan pemilihan ukuran yang kurang sesuai dapat meningkatkan risiko kegagalan fiksasi. Pada hewan muda, pemasangan implan yang terlalu invasif di area lempeng pertumbuhan (growth plate) juga berpotensi mengganggu pertumbuhan tulang.
Kenali Risiko Komplikasi Ortopedi
Drh Ivan turut membahas komplikasi ortopedi yang dapat berkembang dari tingkat ringan hingga mengancam fungsi anggota gerak (limb-threatening). Ia menjelaskan bahwa kondisi jaringan lunak di sekitar fraktur (soft tissue envelope) dan pasokan darah turut mempengaruhi proses penyembuhan tulang.
Pada fraktur pelvis, pasokan darah dari massa otot disekitarnya dapat mendukung proses penyembuhan. “Sebaliknya, fraktur radius-ulna distal memiliki vaskularisasi yang perlu diperhatikan karena manipulasi berlebihan maupun panas tinggi akibat pengeboran dapat meningkatkan risiko kerusakan jaringan,” imbuhnya.
Perencanaan Matang Sebelum Operasi
Menutup pemaparannya, drh Ivan mengingatkan peserta mengenai pentingnya perencanaan digital dan pemahaman biomekanika sebelum melakukan tindakan bedah. Perencanaan tersebut membantu klinisi mengantisipasi distribusi beban (load sharing) serta risiko mekanis pada implan.
“Evaluasi kasusnya, kenali lawan dan karakter frakturnya sejak awal. Dari perencanaan yang matang, dokter bisa mengantisipasi distribusi beban (load sharing) dan risiko mekanisnya. Prinsipnya, jika kita merasa belum mampu memberikan penanganan yang terbaik dan presisi, jangan paksakan melakukannya tanpa persiapan,” ujarnya.
Melalui lokakarya ini, RSH UNAIR menjadi ruang pembelajaran bagi peserta untuk memperdalam pemahaman mengenai penanganan fraktur hewan kecil. Pembahasan evaluasi pasca operasi, komplikasi, dan perencanaan tindakan diharapkan dapat mendukung penerapan praktik bedah veteriner yang lebih tepat dan terukur.
Penulis: Abraham Chrisanta Putra
Editor: Yulia Rohmawati





