UNAIR NEWS – Perubahan cara pandang terhadap risiko menjadi salah satu bahasan utama dalam Free Executive Webinar “Strategic Risk Management: Strengthening Governance, Resilience, and Business Performance” yang diselenggarakan Airlangga Executive Education Center (AEEC) Universitas Airlangga pada Jumat, (11/9/2026). Webinar menghadirkan Dr Waluyo QRCO CGOP QRGP CGRCOP dan Dr Frizkana Meilia SE SH MA CGAA CMA CESA CSSL QRMP CIAP.
Dalam forum tersebut, manajemen risiko dibahas bukan hanya sebagai instrumen kepatuhan, tetapi sebagai bagian dari strategi organisasi. Informasi mengenai risiko perlu digunakan untuk membantu pimpinan menentukan prioritas, mengalokasikan sumber daya, serta menilai pencapaian kinerja.
Dari Kepatuhan ke Penciptaan Nilai
Salah satu pembahasan utama adalah tiga pergeseran paradigma dalam pengelolaan risiko. Pergeseran pertama adalah dari kepatuhan menuju penciptaan nilai. Risiko dikelola secara sadar untuk mengoptimalkan imbal hasil dan peluang, bukan semata-mata meminimalkan kerugian.
“Risiko tidak seharusnya hanya dilihat sebagai sesuatu yang harus dihindari. Pengelolaan risiko perlu membantu organisasi melihat peluang dan menciptakan nilai,” ujar Waluyo dalam webinar.
Pergeseran kedua adalah dari pola silo menuju pendekatan terintegrasi. Manajemen risiko perlu melekat pada seluruh siklus manajemen dan rantai proses bisnis. Sementara itu, pergeseran ketiga mengarah dari kontrol menuju budaya dan pola pikir, sehingga efektivitasnya tidak hanya bergantung pada dokumen kebijakan.
Memahami Kerangka Manajemen Risiko
Webinar juga membandingkan COSO ERM 2017 dan ISO 31000:2018. COSO ERM berfokus pada integrasi risiko dengan strategi dan kinerja korporasi, sedangkan ISO 31000 memberikan panduan generik dengan proses yang fleksibel untuk berbagai organisasi.
“Kerangka kerja manajemen risiko perlu dipahami sesuai kebutuhan organisasi. Yang terpenting adalah bagaimana kerangka tersebut dapat diterapkan dan memberikan informasi yang berguna bagi pengambilan keputusan,” kata Frizkana dalam webinar.
Risiko Strategis
Pembahasan turut menyoroti bahwa risiko strategis tidak cukup disusun dengan menaikkan daftar risiko operasional secara bottom-up. Risiko strategis perlu diturunkan dari tujuan strategis secara top-down dan diterjemahkan menjadi asumsi-asumsi kritis yang berpotensi gagal.
“Pimpinan puncak sebagai pemilik strategi perlu terlibat langsung dalam pengelolaan risiko strategis,” pungkas Waluyo webinar.
Pendekatan tersebut membuat manajemen risiko tidak berhenti sebagai dokumen administratif, tetapi menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan organisasi.
Penulis: Naswa Thalita Zada
Editor: Yulia Rohmawati





