Universitas Airlangga Official Website

RSTKA Ikut Membangun Pulau Kecil dan Terluar

Kegiatan Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA) yang memberikan pelayanan kesehatan dan melakukan pemberdayaan masyarakat di pulau-pulau kecil di Indonesia bagian timur ini tak lepas dari kontribusi donatur dan uluran tangan para alumni Universitas Airlangga. Dr. Agus Harianto, SpB salah satu tokoh utama di RSTKA menginformasikan bahwa dalam kegiatan bakti di Nusa Tenggara Barat bulan November 2023 lalu tercatat ada perusahaan PT Amman Mineral yang berkenan menjadi sponsor tunggal kegiatan RSTKA di NTB.

Ada juga Juga PT Astra Komponen Indonesia yang menyumbang alat ekokardiografi (Note: Ekokardiogram atau ekokardiografi atau sonografi jantung adalah metode pemeriksaan yang menggunakan gelombang suara berfrekuensi tinggi untuk menangkap gambaran struktur organ jantung. Ekokardiografi biasanya dibantu dengan teknologi Doppler yang dapat mengukur kecepatan dan arah aliran darah). Dalam hubungan dengan hal tersebut sahabat saya Dr. dr. Poedjo Hartono, SpOG (K) mengabarkan Airlangga mengadakan turnamen Golf ke 4 di Surabaya diikuti 142 pegolf. Hasilnya 100 juta rupiah disumbangkan ke masyarakat kepulauan yg membutuhkan layanan kesehatan, melalui RSTKA. InsyaAllah BRI yang jaringannya sampai ke pelosok juga akan ikut donasi melalui CSR nya, kata dia.

Semua kegiatan itu ditujukan untuk pembangunan pulau-pulau di wilayah nusantara ini baik lewat pembangunan kesehatan maupun pemberdayaan masyarakatnya. Pulau-pulau kecil dan terluar itu memang perlu mendapatkan perhatian dari berbagai pihak karena memang memiliki peran strategis. Sahabat saya yang usianya sepantaran dengan usia saya dan masuk perguruan tinggi di tahun yang sama yaitu Prof. Ir. Widi Agoes Pratikto, MSc, PhD – guru besar ITS (mendapatkan Phd dari North Carolina State University, Raleigh, NC–USA, 1992, dan Master of Science in Civil Engineering, Ocean/Coastal Engineering, dari George Washington University, USA, 1983) -pernah mengatakan bahwa kekuatan laut tidak berarti tentara dan angkatan perang an sich.

Penguasaan kegiatan ekonomi di wilayah laut dan pulau-pulau kecil lebih menentukan tetap tegak utuhnya NKRI sebagai negeri bahari. Memang sang profesor kelahiran Surakarta ini sejak lama berjuang untuk membangun pulau-pulau kecil dan terluar demi keutuhan NKRI.

Kalau Indonesia kehilangan pulau kecil dan terluar maka hal itu berarti bahwa titik terluar Indonesia juga hilang dan berdampak pada garis perbatasan nasional. Perlu diingat Indonesia yang pernah kehilangan pulau Sipadan dan Ligitan di tahun 2002, Hilangnya pulau kecil dan terluar di Nusantara ini juga bisa mengakibatkan konsekwensi serius dibidang pertahanan. Mantan Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo pernah mengatakan bahwa ketika Timor Timur lepas dari NKRI. “Maka pulau terluar adalah pulau Lirang, Wetar, Leti, Alor ini yang selama ini kita lupakan di TNI hanya ada dua Babinsa di sana. Terus pangkalan AL hanya ada 2. Ini agar benar-benar di pulau-pulau terluar kita punya mata dan telinga,” kata Panglima. Pak Gatot menyebut saat ini armada untuk wilayah timur perlu waktu 8 hari untuk menyentuh Pulau Aru.

Karena itu saya setuju dengan pemikiran sahabat saya Prof. Widi bahwa kita semua bertanggungjawab mengisi pulau-pulau dengan berbagai aktivitas manusia di bidang ekonomi, industri, pariwisata serta sosial dan budaya sehingga layak disebut sebagai milik abadi Indonesia. Pengelolaan wilayah terluar Indonesia harus memiliki keterpaduan antar Lembaga pemerintahan termasuk keterpaduan antar disiplin ilmu pengelolaan wilayah pulau terluar, dan keterpaduan program pemberdayaan masyarakat dibidang ekonomi. Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga yang bakti sosialnya menjangkau pulau-pulau di wilayah Indonesia Timur ini pada dasarnya upaya untuk ikut membangun pulau-pulau kecil dan terluar seperti yang diharapkan Prof. Widi itu.