Meskipun pandemi Covid-19 di Indonesia semakin terkendali, kewaspadaan dan saling menguatkan semua elemen masyarakat harus tetap hadir dalam menyelesaikan semua permasalahan. Tidak cukup hanya fokus pada masalah kesehatan, tetapi juga permasalahan terkait sosial, humaniora, dan budaya menjadi alternatif penyelesaian hingga mempersiapkan kehidupan pasca-Pandemi Covid-19. Salah satu upaya penyelesaian berbasis dukungan masyarakat atau nalar komunal adalah kegiatan Upacara Ruwatan Murwakala. Upacara ini berkaitan dengan kepercayaan seseorang atau masyarakat untuk menghilangkan pengaruh tidak baik, menghapuskan diri dari kutukan, serta pembebasan dari kemalangan atau musibah dalam kehidupan sehari-hari. Melalui ruwatan, manusia merasa terlindungi oleh kekuatan besar yang dipercaya sebagai kekuatan penyelamat sehingga dalam dirinya muncul hasrat untuk selalu ingat, bertobat, mendekat, bermohon, berserah diri kepada kekuatan penyelamat yang dimaksud. Apalagi di era pandemi Covid-19 saat ini, perlu diungkapkan alternatif penyelesaian secara kultural agar masyarakat siap menata kembali kehidupan yang lebih baik di masa mendatang setelah pandemi berakhir. Dalam perwujudannya ruwatan merupakan media komunikasi yang dilaksanakan dalam berbagai kegiatan spiritual seperti selamatan, bancakan, memetri, bersih desa, pethik laut, sedekah bumi, ider bumi, menggelar pertunjukan, dan lain sebagainya. Selain dilaksanakan dengan memanfaatkan media komunikasi langsung, Upacara Ruwatan juga memanfaatkan media komunikasi digital seperti YouTube dan Facebook sehingga tidak ketinggalan dan tetap mampu berkembang seiring perkembangan zaman. Sebuah budaya menjadi lebih mudah diterima masyarakat dan berkembang lebih luas melalui internet. Hal tersebut memunculkan era baru hadirnya tradisi lisan (foklor) internet. Budaya yang semula berkembang dan dikenal masyarakat lokal dan terbatas penyebarannya menjadi aktivitas yang dikenal kalangan luas di luar masyarakat lokal tersebut.
Penulis: Mochtar Lutfi, S.S., M.Hum.





