UNAIR NEWS – Resmi menyandang gelar Ning Surabaya pada Sabtu (10/10/2026), wakil dari Universitas Airlangga (UNAIR), Sarwa Savira Ahmad menegaskan komitmennya untuk tidak sekadar menjadi figur seremonial. Berbekal latar belakang akademis, perempuan yang akrab disapa Rara itu mengaku siap menghadirkan perubahan dan dampak nyata bagi Kota Pahlawan.
Di tengah tingginya ekspektasi publik terhadap representasi generasi muda, Rara menekankan bahwa stabilitas mental menjadi kunci utama baginya. “Saya berangkat dengan mental nothing to lose dan percaya diri. Prinsip saya, jika memang pantas dan rezeki, biarlah saya menjemput takdir yang sudah dituliskan malam itu,” ungkapnya
Jembatan Aspirasi
Sebagai mahasiswa UNAIR yang terbiasa dengan lingkungan akademis kritis, Rara menegaskan posisinya untuk aktif menyikapi isu-isu sosial dan kebijakan kota. Menurutnya, menjaga citra sebagai Ning Surabaya bukan alasan untuk berdiam diri.
“Saya ingin menjadi jembatan antara pemerintah dan masyarakat. Menjaga citra bukan berarti main aman. Melainkan bagaimana kita mampu menyampaikan aspirasi publik secara tepat dan santun demi membangun komunikasi yang konstruktif,” tegasnya.
Lebih lanjut, Rara mengusung program unggulan bertajuk TUTUR SUROBOYO dalam masa jabatannya nanti. Program tersebut, katanya, merupakan sebuah inisiatif storytelling digital berbasis konten bilingual maupun multibahasa. Program ini ia rancang untuk mempromosikan sejarah dan kebudayaan Surabaya ke kancah internasional, sekaligus memotivasi generasi muda lokal agar bangga akan budaya daerah dan mahir berbahasa asing.
“Garis besarnya adalah Surabaya, lokal budayanya, global ceritanya. Kami akan berkolaborasi dengan komunitas sejarah, bahasa, dan pemuda agar Surabaya tidak hanya dikenal, tapi diceritakan langsung oleh generasi mudanya,” jelasnya.

Safe Space
Menjawab keresahan generasi muda terkait tekanan akademis, Rara turut mengintegrasikan isu kesehatan mental ke dalam agenda kerjanya. Melalui program Ngobrol Pintar Gen Z, ia bertekad menyediakan ruang aman bagi anak muda Surabaya.
“Peran Ning harus relevan dengan Gen Z. Lewat edukasi digital dan kolaborasi bersama psikolog klinis serta komunitas kesehatan mental, kita akan bagikan tips praktis manajemen stres hingga rujukan layanan konseling resmi,” tuturnya.
Selain itu, Rara mengaku siap menyikapi karakter masyarakat Surabaya yang kritis dan bijak. Baginya, setiap periode Ning memiliki keunikan dan kontribusinya masing-masing tanpa harus mengalami perbandingan.
“Amanah tidak pernah salah memilih tuannya. Ini bukan sekadar tentang gelar, tapi tentang membuktikan kepercayaan yang diberikan oleh juri dan Paguyuban melalui dampak nyata bagi warga Surabaya. Di akhir masa jabatan nanti, saya ingin ada hal baik yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” pungkasnya.
Penulis: Putri Andini
Editor: Yulia Rohmawati
